Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 35


__ADS_3

Suara riuh bu Fatima yang sedang sibuk di dapur membangunkan ku.


Aku ingat kalau hari ini aku harus kembali ke kotaku.


Dengan wajah yang masih kusut serta langkah yang terhuyun, ku susul bu Fatima di dapur.


"Pagi pagi begini sedang masak apa sih bu? Kelihatannya koq repot sekali," tanyaku sembari melihat satu persatu masakan yang sudah tersedia di dapur, "Ehmm, dari harum nya terlihat lezat." Mulutku komat kamit menahan air liur yang hampir menetes.


Pandanganku berhenti saat melihat nampan berisi semangkuk bubur putih dan beberapa obat.


"Bu, siapa yang sakit? Kenapa ada makanan dan obat disini?" Tanganku tak berhenti memeriksa jenis obat apa ini. "Ibu sakit?" Kuhampiri bu Fatima dan menempelkan tanganku di pipinya mencoba memeriksa suhu tubuhnya.


"E.., iya belakangan ini ibu merasa tidak enak badan, mungkin ke capek an." Bu Fatima dengan cepat mengambil semua obat itu dan menyimpannya kembali di lemari.


"Ohw.., ini bubur nya nggak di makan?" tanyaku sembari mengambil mangkuk yang berisi bubur putih tanpa rasa.


"Oh iya ibu lupa! Tadi masih panas, jadi ibu bermaksut mendinginkannya dulu," kata bu Fatima sembari mengambil mangkuk yang ku pegang lalu duduk memakannya.


Aku merasa aneh dengan perilaku bu Fatima.


Nada bicaranya pun agak berbeda.


Tapi sudah lah! Mungkin karena beliau ke capek an.


"Ehmm.., bau nya sampai kekamar! Bibi masak apa sih? Bau nya harum banget, perutku sampai keroncongan." Hakam muncul dan ikut duduk bersama di meja makan.


Moodku mendadak tidak enak, saat melihat Hakam.


Aku belum betul betul bisa memaafkan Hakam.


"Kau sudah bangun? Mana Catur? Ajak sarapan sekalian," kata bu Fatima.


"Dia lagi di kamar mandi. O ya Na, kita berangkat jam berapa?" tanya Hakam.


Ku lempar tatapan tidak suka ku pada Hakam.


Aku benar benar tidak ingin meladeninya.


"Sebelum pulang, kamu makan dulu yang kenyang ya." Bu Fatima merangkul ku dengan hangat. "Ibu pasti akan sangat merindukanmu."


"Ibu jangan seperti itu, aku jadi ikut sedih mendengarnya." Aku terharu mendengar ucapan bu Fatima.


Setelah dia kehilangan anak satu satunya, kini dia harus kami tinggalkan sendiri disini.


"Bibi tenang saja, kapan pun bibi kangen dengan Kirana, aku siap koq untuk antar jemput," celetuk Hakam membuatku ingin memakinya.


"Ibu tenang saja, kapanpun ibu ingin bertemu denganku waktuku selalu ada untukmu," jawabku. "Satu hal lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Candra di hatiku."


"Iya bu, tenang saja. Aku juga siap koq kapanpun mengantar Kirana kesini," kata Catur yang tiba tiba muncul dengan berpakaian rapi.


"Kau sudah mandi?" tanyaku.


"Iya Na, sekalian aja. Lagi pula ini sudah jam enam, kita harus bergegas. Kalau tidak nanti akan ketinggalan kereta."

__ADS_1


Berat rasanya meninggalkan rumah ini.


Masih ada satu hal yang belum bisa aku wujudkan.


Sebenarnya, sebelum pergi. Aku ingin kembali masuk kedalam kamar Candra. Mungkin dengan itu, rasa rinduku padanya bisa terobati.


Tapi apa mau di kata, bu Fatima dengan keras melarangku, dengan alasan tidak ingin melihatku bertambah sedih.


"Aku mau bersiap siap dulu," kataku sembari meninggalkan meja makan.


Aku bergegas mandi dan bersiap siap.


Mengecek ulang kembali barang barangku.


Setelah semuanya di rasa selesai, aku pun bergegas keluar untuk menemui bu Fatima.


Tak kulihat bu Fatima di dapur.


Aku pun mencari nya di ruang tengah.


Entahlah, sekilas aku seperti melihat bu Fatima masuk ke kamar Candra sembari membawa nampan.


Tapi saat kulihat lebih dekat, pintu kamar Candra masih tertutup dan terkunci seperti semula.


"Bu.., ibu dimana!" panggilku.


Aku cari bu Fatima ke luar rumah, mungkin saja beliau disana.


Akhirnya aku kembali ke dalam.


"Ibu! Ibu kemana tadi? Aku cari cari tapi tidak ketemu," tanyaku pada bu Fatima yang muncul dari kamar mandi.


"Maaf ya nak, ibu tadi tiba tiba sakit perut," kata bu Fatima menjelaskan.


Tadi aku benar melihatnya masuk ke kamar Candra, tapi kenapa tiba tiba muncul dari kamar mandi?


Astaga!!


Apa aku berhalusinasi lagi?


Hahh!! Mungkin karena aku terlalu rindu padanya.


Bu Fatima, wanita tua yang terlihat kasihan itu, tidak mungkin beliau membohongiku.


Tak berapa lama, taksi online yang sudah kami pesan pun datang.


Catur dan Hakam membantuku membawa barang barang untuk dimasukan ke dalam bakasi.


"Bu, kami pergi dulu ya. Ibu baik baik ya, kalau ada apa apa jangan sungkan untuk menelfonku! Aku juga pasti akan sering berkunjung." kataku sembari ku peluk hangat bu Fatima.


Aku pasti akan sering datang.


Masih ada satu tempat yang ingin aku kunjungi.

__ADS_1


Kamar milik Candra!


Terlihat bu Fatima menghela air matanya.


Menahannya agar tidak jatuh.


Ku cium tangannya dengan penuh rasa sayang.


"Aku pergi dulu, ibu jaga diri baik baik ya," Kembali ku peluk bu Fatima.


"Aku pamit dulu ya bu," susul Catur berpamitan.


"Aku juga pamit bi," kata Hakam yang juga berpamitan.


"Hakam, tolong jaga Kirana ya!" kata bu Fatima.


Astaga bu!!


Kumohon jangan seperti itu!


Aku benar benar tidak ingin bersama Hakam.


Bagiku, lebih baik menjadi perawan tua dari pada harus menggantikan Candra dengannya.


Setelah berpamitan dengan suasana haru.


Kami bertiga pun pergi.


Sepanjang perjalanan, pikiranku terganggu dengan rasa penasaran ku pada tujuan bu Fatima melarang ku untuk masuk ke dalam kamar Candra.


Kulirik Hakam dan Catur yang duduk di belakang dari kaca spion.


Aku yakin, pasti Hakam tau sesuatu.


"Hakam," panggilku.


"Iya Na, ada apa?" jawab Hakam.


Aku miringkan badanku sehingga kepalaku bisa menghadap nya.


"Saat saat terakhir Candra, apa kau ada di sana?" tanyaku dengan nada pelan.


Hakam terlihat berfikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ku.


"Saat aku dapat kabar itu, bibi sudah kembali ke rumah! Aku.., aku juga tidak bisa melihat Candra untuk terakhir kalinya," jawab Hakam dengan wajah tertunduk.


Melihat respon Hakam seperti itu, tidak tega rasanya terus meng intograsinya.


Sebagai adik sepupunya, dia pasti juga ikut terpukul dengan keadaan ini.


Aku ingin sekali mengikhlaskan kepergian Candra, tapi entah kenapa! Ada sesuatu hal yang seperti ingin ku ketahui.


Astaga!! Semoga ini hanya perasaanku saja.

__ADS_1


__ADS_2