Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 18


__ADS_3

Di dalam kamar, Kirana termenung. Matanya nanar menatap langit langit kamarnya.


Sebuah perasaan yang aneh, yang dia sendiri tidak mengerti.


"Apa yang sebenarnya Tuhan ingin dariku? Aku mencintainya,tapi DIA menjauhkan. Aku melupakannya tapi DIA kembali mendekatkan. Apa ini? Huh! Aku sungguh sangat lelah"


Kirana tau, kalau tak pantas baginya menyalahkan takdir.


Tapi nasib seperti nya tengah mempermainkan perasaannya.


Cintanya bagai layang layang yang tengah di tarik ulur.


"Aku terlanjur membencinya! Aku terlanjur menyumpahinya! Bagaimana mungkin aku menerimanya kembali? Aku harus bagaimana?hiks"


Malam itu,Kirana bergelut dengan perasaannya.


Dia harus segera bisa mengambil sikap.


Karena esok, Candra pasti akan kembali datang.


Kirana bangun mengambil minyak urut yang tergeletak di mejanya.


"Ugh! Kaki ku seperti nya buruk sekali, apa ini juga hukuman dari Tuhan karena sudah mengomel padanya? Huh! Benar benar sakit" Kirana berusaha menggerakkan kaki nya yang terkilir tadi.


"Bahkan dia masih sempat pergi untuk membeli minyak urut ini untuku"


(Epilog)


Setelah mengantar Kirana pulang ke rumah, Candra bergegas pergi ke apotik membeli minyak urut untuk Kirana.


Entah bagaimana ceritanya, kini dia begitu peduli pada Kirana.


Melihat Kirana yang kesakitan seperti tadi, rasanya sama sekali tidak tega.


Setelah mendapatkan apa yang ingin dia beli.


Candra pun kembali ke rumah Kirana untuk memberikan minyak urut itu.


"Kenapa kau kembali lagi?" Kirana yang masih duduk di teras merasa terkejut melihat Candra kembali datang.


"Aku membeli minyak urut untukmu,entah ini benar atau tidak. Tapi kata penjualnya tadi, ini sangat manjur untuk meredakan kaki yang terkilir" Candra memberikan bungkusan plastik yang berisi minyak urut pada Kirana.


"Sini aku oleskan" kata Candra sambil membungkuk


"Ehh!! Tidak usah! Biar aku sendiri saja,trimaksih. Tapi sebaiknya kau pulang" Kirana merasa canggung menanggapi sikap Candra.


"Baik lah, aku..,aku pulang dulu. Jangan lupa obati kaki mu,semoga lekas sembuh" kata Candra sebelum akhirnya pergi


\*\*\*\*


Kring...,


Jam weker berbunyi nyaring.


Membuat pemilik nya terbangun dari tidurnya.


"Agh..,kenapa waktu berjalan cepat sekali, aku bahkan belum tidur dengan pulas! Tapi sudah pagi saja" Kirana menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari, dia meraba kakinya.

__ADS_1


"Kaki ku, minyak ini benar benar manjur. Sekarang, kaki ku sudah bisa di gerakan" kata Kirana sembari menggerakkan kaki nya


"Ugh! Aku malas sekali untuk bekerja. Bagaimana kalau nanti aku bertemu Candra? Apa yang akan ku katakan?" setelah kejadian semalam, Kirana belum siap untuk kembali bertemu Candra.


Entah lah, karena ucapan Candra malam itu, Kirana menjadi merasa bersalah.


"Apa benar dia sudah di hukum karena aku? Tapi hukuman itu adalah sebuah rasa cinta padaku, apa karena kini dia berbalik mencintaiku, dia anggap ini sebagai hukuman?" Kirana kembali menerka nerka sendiri semuanya.


"Kalau memang dia menganggap mencintaiku itu sebuah hukuman, lebih baik aku tidak perlu menanggapinya dengan serius! Kurasa begitu lebih baik"


Kirana berusaha menenangkan pikirannya.


Dia tidak mau terpengaruh lagi pada Candra.


Dia harus kembali fokus pada hidupnya.


Bekerja dengan giat, demi meraih masa depan yang indah.


Kirana berjalan pelan melewati gang rumahnya menuju perempatan untuk mencari angkot.


Walau sudah agak mendingan, tapi tetap saja masih sedikit sakit jika harus berjalan cepat.


Setelah tertatih berjalan, akhirnya Kirana sampai di perempatan jalan raya.


"Kaki mu masih sakit, ayo aku antar saja" tiba tiba Candra datang.


Dia lagi, ya Tuhan!! Apa sebenarnya rencanamu? Kenapa kau terus membuatnya datang padaku?


Kirana terkejut melihat Candra yang kembali tiba tiba muncul di hadapannya.


"Trimakasih, aku naik angkot saja" kata Kirana datar


Ah sudahlah, aku ikuti saja kemauannya, lagi pula sudah hampir terlambat. Kalau aku naik angkot,pasti akan terlambat.


Kirana akhirnya menuruti kemauan Candra.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam.


Kirana sendiri memang sengaja tidak ingin terlibat pembicaraan apapun dengan Candra.


Dia harus benar benar menjaga hatinya.


"Na,"


"Hemm"


"Kejadian semalam, apa kau sudah punya jawaban untuk itu?" Candra kembali mengulang perkataanya


"Apa?" balas Kirana


"Aku..,aku menyayangimu. Bagaimana perasaanmu?apa masih sama seperti dulu?" kata Candra


"Katamu,perasaan itu adalah hukuman dari Tuhan kan? Lantas untuk apa aku harus membalasnya?" balas Kirana tenang


"Biarkan Tuhan yang bekerja, kita jalani saja seperti ini. Jangan menuntut lebih" Kirana benar benar tidak ingin terpengaruh dengan Candra.


Candra hanya terdiam mendengar jawaban Kirana.

__ADS_1


Dia sadar, kalau dirinya egois.


Meminta orang yang jelas jelas telah di sakitinya kembali untuk mencintainya.


"Baik lah,kita ikuti saja rencana NYA" kata Candra


"O iya, lain kali kau jangan terlalu baik padaku. Aku tidak ingin menjadi terbiasa. Kau tau kan betapa sulitnya aku menyembuhkan luka ku?" Kirana berusaha memperingatkan Candra.


Setelah beberapa menit perjalanan.


Akhirnya mereka pun sampai di tempat kerja Kirana.


"Nanti sore aku jemput ya" kata Candra


"Tidak usah, aku kan sudah bilang. Jangan membuatku terbiasa dengan mu" kata Kirana


Candra pasrah dengan apa yang terjadi.


Dia sudah berusaha meyakinkan Kirana kalau dirinya sudah berubah.


Tapi sampai sekarang, Kirana masih saja belum bisa menerimanya lagi.


"Baiklah, kalau kau butuh bantuan. Jangan sungkan untuk menelfonku" Candra berlalu pergi


Sepanjang jalan kenangan manis dulu bersama Kirana kembali hadir.


Saat saat di mana dia di cintai tulus oleh seorang gadis.


Dalam suka dan duka gadis itu selalu menemaninya.


Tapi karena kebodohan nya, semua menjadi seperti ini.


Candra benar benar merasa menyesal.


Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.


Sementara itu di tempat kerja Kirana.


"Na" sapa Iis


"Iya" balas Kirana


"Aku lihat tadi kau datang bersama Candra ya, sepertinya kalian sudah semakin dekat" kata Iis


"Jangan berfikir macam macam" Kirana berusaha mengalihkan pikiran Iis


"Kemarin sore,aku juga lihat kau di jemput olehnya kan? Kalau tidak dekat lantas apa hubungan mu dengannya" Iis masih berusaha menginterogasi Kirana


"Itu hanya kebetulan dia lewat sini" Kirana benar benar tidak ingin membuat Iis salah paham.


"Sudahlah,percaya padaku. Dengannya aku tidak ada hubungan apa apa" hanya itu yang bisa Kirana katakan saat ini untuk meyakinkan Iis.


Walaupun Kirana sendiri khawatir.


Kalau sewaktu waktu akan kembali mencintai Candra.


Hatinya sangat lemah.

__ADS_1


Dia takut, kalau perhatian Candra yang terus menerus akan kembali menyuburkan cinta yang selam ini telah ia kubur dalam dalam.


__ADS_2