Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 37


__ADS_3

Sudah hampir seminggu setelah Kirana ber komunikasi dengan bu Fatima.


Rasa rindunya kian bertambah, rindu pada wanita paruh baya yang sudah di anggapnya seperti ibu sendiri.


Kirana meraih ponsel nya, perlahan dia menekan simbol kontak yang tertera di layar ponselnya.


Di cari nya sebuah nama yang sudah familiyar.


Tling,


Bunyi dering terhubung di ponsel Bu Fatima.


Setelah sekian menit menunggu, akhirnya terhubung juga.


"Assalamualaikum Bu," sapa Kirana.


"Waalaikum sallam nak," jawab Bu Fatima.


"Ibu apa kabar?" tanya Kirana.


"Ibu sehat Nak," jawab Bu Fatima. "Ada apa nak? kangen ya.., kapan mau main kemari?" tanya Bu Fatima.


"Iya.., aku kangen banget bu. Mau kesana tapi nggak ada temennya." jawab Kirana dengan nada manja.


"Ajak Hakam atau Catur sekalian main kesini," jawab Bu Fatima seraya menyarankan.


"Sabtu besok, aku main kesitu ya bu?" kata Kirana. Rasa rindunya pada Bu Fatima dan sosok laki laki yang dulu ada di situ.


"Tentu saja boleh, ibu juga rindu." jawab Bu Fatima lirih.


"Bu, salam buat Candra ya. Sampaikan lewat doa mu." kata Kirana dengan suara serak menahan rasa haru.


Tak terdengar suara jawaban dari Bu Fatima, hanya helaan nafas saja yang terdengar tersenggal.


"Iya sayang, Candra pasti senang dapat salam darimu." jawab Bu Fatima. "Sudah dulu ya," Bu Fatima mengakhiri telfon nya.


Tampak mata nya menatap haru pada sosok laki laki yang tengah duduk di sebuah kursi roda sembari menyimak obrolannya dengan Kirana tadi.


“Bu, bagaimana keadaan Kirana? Apa dia dalam keadaan baik?” Tanyanya setelah hampir satu bulan ibunya membawa lelaki itu pindah dan dirawat disebuah rumah sakit di kotanya. Keadaannya berangsur pulih. Meski kini netranya tak lagi mampu melihat setitik cahaya pun.


“Iya, Kirana baik-baik saja. Tadi kau dengar sendiri kan ibu menelponnya," sahut Bu Fatima.


“Tapi ibu tidak bilang kan kalau aku di sini?” . Bu Fatima menggeleng, meski ia tahu Candra takkan melihatnya.


Entah sampai kapan kamu akan bersembunyi seperti ini nak, kasihan Kirana!


****


Hari Sabtu besok, Kirana ingin sekali mengunjungi Bu Fatima.


Tapi tidak mungkin untuk meminta tolong pada Hakam untuk mengantarkannya.


Sedang kan Catur, dia saat ini tengah sibuk bekerja.


Kirana memutar otak untuk mencari ide.


"Kalau berangkat sendiri kesana, ibu pasti nggak akan memberiku ijin! Aku harus bagaimana!"


Tling,


Suara pesan masuk di ponsel Kirana.


"Na, sabtu depan aku mau balik ke rumah, bareng nggak? barangkali kamu mau main ke rumah bibi," - Hakam.


Astaga! macam dukun saja nich orang!

__ADS_1


Tapi.., kalau aku bareng sama dia, nanti dia geer! tapi kalau tidak, aku kesana sama siapa?


Aduh! kenapa jadi gini sih!


"Iya, kebetulan aku juga ingin kesana, sudah rindu sekali dengan Candra," -Kirana.


Biar saja aku kasih embel embel rindu pada Candra!


Toh memang betul koq aku sangat rindu pada Candra. Ya.., walaupun rindu ini hanya bisa ku sampaikan lewat doa.


Setidaknya Hakam tau, kalau aku kesana bukan karena ingin pergi bareng sama dia.


"Oke! Sabtu sore aku jemput ya," - Hakam.


Kirana hanya mengirim emoticon smile untuk membalas kembali pesan Hakam dan segera menaruh kembali ponselnya di meja.


Hati nya kini menjadi tenang, satu masalah sudah tersolusikan.


Tinggal menunggu hari sabtu datang.


Tiba tiba terbayang di benaknya bayangan saat nanti harus berboncengan dengan Hakam.


Tiba tiba rasa merinding menyelimuti lehernya.


"Astaga!!!" pekik Kirana sembari menarik selimut menutupi wajahnya. Entah kenapa, membayangkan nya saja membuat Kirana geli.


*****


Pagi yang indah, terlihat matahari menampakan sinarnya dengan cerah.


Kicauan burung meramaikan suasana pagi.


Begitupun Kirana yang tengah bersiap untuk kepasar.


Karena sore nanti dia akan berkunjung ke rumah Bu Fatima, Kirana ingin membawakan sesuatu untuk beliau.


Ke pasar dengan naik angkot, membuat memory indah nya tentang kekasihnya kembali terlintas.


Candra yang selalu memaksa untuk mengantarkannya, sifat nya yang keras kepala itulah yang akhirnya membuatku menjadi luluh.


Setibanya di pasar, Kirana bergegas membeli barang barang yang sudah dia catat sebelumnya.


Satu per satu, barang itupun di dapatnya.


Setelah lelah memutar berkeliling pasar, akhirnya dia memutuskan untuk segera pulang.


Tak sampai beberapa menit, angkot yang di naiki Kirana pun sampai di depan gang rumahnya.


Tak sabar ingin segera membuat kue pandan sebagai buah tangan untuk Bu Fatima.


******


Pukul lima sore, Hakam sudah sampai di rumah Kirana.


Dengan jaket hitam dan tas ransel di punggungnya, terlihat tampak begitu keren.


"Assalamualaikum Na," panggil Hakam.


"Iya! sebentar!" terdengar sahutan suara Kirana dari dalam.


Kirana muncul dengan menenteng sekresek barang yang dia taruh dalam plastik, ditambah tas punggung yang dia bawa.


"Kau mau pindahan!" kata Hakam sambil tertawa terpingkal melihat repot nya tangan Kirana membawa barang.


"Aih! jangan tertawa! cepat bantu aku!" sahut Kirana sembari menimpalkan bungkusan satu lagi pada Hakam.

__ADS_1


"Astaga! ini apa sih Na?" tanya Hakam yang juga jadi ikut kerepotan.


"Ini tuh kue pandan, aku sengaja buat sendiri tau! khusus mertuaku," jawab Kirana dengan raut wajah yang senyum senyum malu.


"Ini kue to? kamu pandai sekali Na," cletuk Hakam yang ternyata sudah mencuil kue pandan itu lalu di makannya.


"Astaga Hakam! jangan dimakan!" pekik Kirana sembari menarik plastik berisi bungkusan kue.


"Na.., kau pelit sekali sich! bentar bentar sedikit lagi!" Hakam masih saja kekeh mempertahankan bungkusan itu dan ingin mencuilnya lagi.


"Dasar!" ketus Kirana kesal."Ini kan kue untuk Bu Fatima! kau ini!heh!"


"Iya maaf, aku cuma minta dikit koq, bibi pasti juga tidak akan marah." jawab Hakam membela diri. "Kau pintar sekali memasak, kue nya sungguh enak."


Kirana tak merespon ucapan Hakam.


Dia kesal karena kue yang akan di berikan pada Bu Fatima harus rusak gara gara di cuil oleh Hakam.


"Sudah jangan ngambek gitu lah Na, maaf ya. yuk kita berangkat!" Hakam berusaha membujuk Kirana.


Andai saja saat ini aku tidak membutuhkannya! pasti sudah kumaki habis-habisan kau!


Kirana segera menyusul Hakam yang sudah mulai menyalakan motornya.


Setelah sebelumnya dia berpamitan pada ibunya.


"Perjalanan kita jauh Na, jadi jangan karena kau membawa kue itu, terus tidak mau pegangan." Hakam mencoba memperingatkan Kirana. Dia sendiri tidak mau Kirana salah paham.


"Iya aku tau," sahut Kirana.


Motor melaju dengan kecepatan sedang.


Sebenarnya ini bukan skill nya, tapi bagaimana lagi, kalau dia melajukan motornya dengan kencang, Kirana pasti takut! kasihan.


Matahari mulai membenamkan sinarnya.


Angin malam yang dingin, membuat Kirana menggigil kedinginan.


Walaupun begitu, tangannya tetap memegang kresek berisi kue pandan dan tangan satunya hanya berpegangan sedikit pada jaket Hakam.


Hakam yang risi dengan hal itu, segera menghentikan motornya, dan memarkirkannya di bahu jalan.


"Sini kue nya!" kata Hakam.


"Ih jangan! kau mau memakannya lagi?" ketus Kirana.


"Bukan! sudah berikan sini!" Hakam meraih paksa bungkusan kue itu. "Kan sudah kubilang! perjalanan kita jauh, kue nya biar ku masukan dalam tas ku! jadi kau bisa berpegangan dengan benar!"


Ih! modus!


"Jangan berfikir macam macam! aku cuma tidak ingin kau sakit karena kedinginan atau pun celaka!" jawab Hakam yang seperti nya tau apa yang sedang dipikirkan oleh Kirana. "Nanti kalau kau kenapa kenapa aku yang akan di marahi kakakku!"


Perkataan Hakam membuat Kirana mendelik kaget. "Eh! maksudku aku kan sudah dapat amanah dari kak Candra, jadi ya..,aku harus bertanggung jawabkan?" Dengan cepat Hakam memperbaiki maksud kata katanya.


"Nah! begini kan lebih baik! ayo cepat naik! hari sudah mulai gelap," Kirana kembali menyusul Hakam yang sudah mulai menyalakan mesin motornya. "Tangannya pegangan begini," Hakam menarik tangan Kirana untuk berpegangan pada pinggangnya.


"iya..,iya! aku tau! nanti aku pegangan! sudah ayo jalan!" sahut Kirana.


Kembali motor melaju dengan kecepatan sedang. Tapi sesekali Hakam melajukan dengan kencang, jarak yang harus di tempuh masih sangatlah jauh. Kalau hanya pelan pelan kapan sampainya.


Kirana sendiri yang mulai di kepung oleh rasa dingin, memberanikan diri untuk memeluk Hakam.


Memeluk saja nggak apa-apa kan? begitu fikirnya.


Hakam sendiri tidak merasa risih dengan sikap Kirana, mungkin ini lah yang dia mau dibalik niatnya mengajak Kirana untuk berangkat sore.

__ADS_1


[Kak, ijinkan aku memanipulasi waktu yang sebentar ini bersama Kirana ya, mungkin setelah ini, aku tidak akan bisa sedekat ini lagi dengannya


Bersambung


__ADS_2