Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 39


__ADS_3

Bila lidah sudah tak mampu meyakinkan


Saat tangan sudah tak mampu merangkul


Biarlah takdir yang bicara


Menuntun apa yang seharusnya bersatu


Walau perih seperti tersayat


Walau pedih seperti ter iris


Tapi bahagiamu adalah yang terbaik


"Kirana, berbahagialah."


*****


Seperti bom waktu yang kapan saja siap meledak. Apa pun yang dilakukan untuk menyembunyikan semua, tapi pada akhirnya semua pasti akan terungkap, siap meledakan kebenaran.


Tak tega rasanya terus membohonginya.


Hakam tak sadar, kalau tatapannya diketahui oleh Kirana.


"Hei!" gertak Kirana sembari menepuk lengan Hakam. "Kau kenapa menatapku seperti itu? Aneh tau!"


Hakam sadar dan tersipu malu, tapi pikirannya masih melayang layang memikirkan apa yang sebentar lagi akan terjadi.


Bisa saja dia menghentikan dan menutupi semua, tapi itu terlalu egois sekali, bahkan terlalu jahat! Hingga gadis naif seperti nya harus menjadi korban.


"Hei! Kau kenapa sih?" Kirana kembali bertanya. "Kau pasti capek kan, tapi sebentar lagi kita sampai koq, Jadi bisa segera beristirahat. Yuk kita jalan!"


Kirana berdiri sembari bersiap siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tapi tiba tiba tangan Hakam menahannya. "Tunggu Na,"


Kirana menatap Hakam dengan tatapan khawatir, dia merasa sejak sampai disini tadi, sikap nya mulai aneh. "Kenapa?"


"Duduklah sebentar lagi disini! aku..,aku masih ingin mengobrol denganmu." Andai perjalanan ini bisa lebih lama.


Dia kenapa sih? Sikapnya kenapa mendadak aneh begini?


"Sebentar lagi kita kan sampai, ngobrol nya di sana saja." bantah Kirana.


"Na, kaki ku kram! Mungkin karena terlalu lama berkendara, kita duduk disini sebentar lagi kenapa sih! Nggak kasihan apa padaku? Tega!" Hakam berpura pura kesal pada Kirana.


"Aih! Iya..,iya! Kita istirahat dulu." balas Kirana.


Kirana berhambur ikut duduk di samping Hakam.


Tatapannya datar lurus kedepan.


Dengan sesekali kakinya bergerak goyang ke kiri dan kanan, seperti tidak nyaman.


Hakam tau, memaksa Kirana untuk duduk di sampingnya, membuat Kirana tidak nyaman. Dia juga tau, betapa inginnya Kirana untuk segera bertemu dengan Bu Fatima.


"Na,"

__ADS_1


"Ehm,"


"Setelah sekian lama setelah Candra pergi. Apa.., apa kau masih mencintainya?" tanya Hakam dengan hati hati.


"Kau kenapa bertanya seperti itu?" jawab Kirana dengan dahi berkerut dan tatapan aneh untuk Hakam. "Candra itu adalah cinta sejati ku. Selama cinta ini masih ada dalam hatiku, selama itu pula aku tetap miliknya," jawab Kirana. "Jadi kau jangan berharap banyak padaku."


Hakam tersenyum kecut mendengar penjelasan Kirana, karena secara tidak langsung dia sudah di tolak sebelum menyatakan cintanya. Ehmm, kalah sebelum berperang.


"Ehmm, aku tau! Kau menahan ku disini karena ingin mengatakan hal ini? Sudah ah! Aku nggak mau kehasut pada gombalanmu!" ketus Kirana. "Ayo kita jalan! Kalau nggak mau aku akan jalan kaki saja! Toh jaraknya sudah dekat kan."


Kirana berjalan begitu saja meski dia tidak tau arah jalannya. "Hei! Na! Kau mau kemana? Kau salah jalan!" teriak Hakam.


Hakam bergegas menyusul Kirana sebelum bertambah jauh. "Na! Kau salah jalan sayang..,"


Kirana berhenti dan matanya melotot pada Hakam. "Kau bilang apa tadi? Heh! Tarik nggak kata katamu!"


"Iya..,iya! Maaf lidahku kepleset tadi. Sudah! Ayo naik!" perintah Hakam. "Kau ini, sudah tak tau jalan masih aja nekat! Kalau tersesat bagaimana?"


Kirana tak menjawab ocehan Hakam, dan langsung naik membonceng. "Jangan lupa pegangan." kata Hakam sambil nyengir menggoda Kirana.


Hakam melakukan motornya dengan kecepatan sedang.


Meski singkat, dia ingin menikmati moment ini dengan sebahagia mungkin.


Hati Hakam tiba tiba menjadi sangat gundah, apakah yang kulakukan ini sudah benar?


Selang tak berapa lama, sampailah mereka berdua di depan rumah Bu Fatima.


Terlihat wanita paruh baya itu menyambut di depan pintu.


"Kabar baik nak, ibu juga kangen sama kamu."


Hakam menyusul menghampiri Bu Fatima dan ikut mencium tangannya. Matanya berkedip seperti mengisyaratkan sesuatu pada Bu Fatima.


"Kalian pasti sangat lelah kan? Ayo masuk! Ibu sudah buatkan teh hangat." kata Bu Fatima sembari menggandeng tangan Kirana. "Duduklah dulu, ibu kedapur sebentar ya."


Kirana hanya mengangguk dan tersenyum. Tiba tiba tatapannya tertarik untuk melihat salah satu pintu kamar di rumah itu yang masih saja tertutup rapat.


"Bu Fatima pasti sengaja menutupnya, supaya tidak terus teringat Candra." itu lah yang Kirana pikirkan.


"Na, nih kuenya." kata Hakam yang tiba tiba duduk di samping Kirana sembari menyodorkan bungkusan yang berisi kue pandan.


"O iya, hampir lupa aku dengan kue ini," jawab Kirana. "Aku ke dapur dulu mau kasih kue ini ke Bu Fatima."


Kirana pergi menyusul Bu Fatima ke dapur. "Bu," panggil Kirana.


"Kirana.., kepada menyusul kesini nak? Kau kan masih capek," kata Bu Fatima.


"Ibu,ini aku bawakan kue pandan buatan ku sendiri. Ta-tapi maaf kuenya kepotong sedikit. Tuh! Gara gara si Hakam jahil! Dia memakan kue nya saat dijalan," adu Kirana sambil manyun.


"Sudah lah, nggak apa-apa nak. Ini juga sudah cukup koq," Bu Fatima tersenyum bahagia sembari memeluk Kirana. "Kamu mandi dulu gih! Lalu kita sarapan."


"He, he! Bau ya bu?" Kirana nyengir dan langsung bergegas ke kamar mandi.


Sementara itu, Melihat Kirana sudah tidak nampak. Hakam perlahan masuk menuju sebuah kamar yang oleh Bu Fatima selalu ditutup rapat.

__ADS_1


Nampak seorang laki laki tengah duduk di kursi roda menoleh padanya. "Kak, ini aku."


"Kamu datang lagi? Ada apa?" tanya laki laki itu.


"Kak, aku, aku kesini bersama Kirana."


Nampak terlihat wajah panik pada laki laki itu. "Dia, dia disini?"


"Bukan! Maksudku iya, dia disini. Tapi dia diluar tidak di kamar ini." melihat kakaknya panik, Hakam segera menjelaskan.


"Aku sudah melepasnya untukmu, kenapa kau malah membawanya kembali kesini?"


Terlihat kesedihan di wajahnya. Walau ia berkata ikhlas, tapi tetap saja, masih ada rasa berat untuk melepasnya.


"Kak, sudahlah! Jangan seperti ini." kata Hakam.


"Jangan membahasnya lagi! Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu! Kau mencintainya kan? Gantikan aku untuk membahagiakannya." kata lelaki yang tengah duduk di kursi roda.


Hakam tau, ucapan laki-laki itu tidak seutuhnya tulus. Masih ada cinta diantara mereka, mana mungkin dia memaksa hadir di tengah tengah mereka. "Jangan memaksa kak! Kumohon, kasihan dia."


"Dia akan bahagia bersamamu, aku yakin itu. Hanya kau yang bisa kupercayai untuk menjaga wanita yang sangat kucintai." Rupanya laki laki itu tak menyerah untuk membujuk Hakam.


"Maafkan aku kak, tapi aku tidak bisa. Aku tidak tega membohonginya seperti ini." balas Hakam.


Ini bukanlah masalah kebohongan dan kejujuran.


Tapi demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Apapun harus di lakukan.


Sementara itu, Kirana yang telah selesai dari mandinya. Celingukan seperti tengah mencari seseorang.


"Bu, Hakam kemana?" tanya Kirana saat bertemu Bu Fatima yang masih sibuk di dapur.


"E, ibu nggak tau nak. Mungkin sedang istirahat di kamarnya," jawab Bu Fatima.


"Aih! Dia nggak mandi dulu? Badannya kan kotor setelah kena debu dijalan. Kenapa langsung tidur!" gerutu Kirana. "Kamarnya sebelah mana sih bu? Biar ku bangun kan dia! Dasar anak malas!"


Belum sempat Bu Fatima memberitahu letak kamar Hakam. Kirana langsung saja pergi mencari kamar Hakam dengan insting nya sendiri.


Dan lagi lagi, dia harus melewati kamar nya Candra yang terus saja tertutup rapat.


Langkah Kirana terhenti saat tiba tiba mendengar seperti ada suara percakapan dari dalam kamar itu.


Karena penasaran, dia pun melancarkan aksinya.


Tangannya perlahan dan hati hati mencoba membuka hendel pintu, tapi sekali lagi, Bu Fatima tiba tiba datang.


"Nak, ayo makan! Ibu sudah menyiapkan sarapan." kata Bu Fatima sembari menggiring Kirana menjauh dari kamar Candra.


"Ta-tapi bu. Hakam."


"Sudah! Nanti ibu yang panggil ya.."


Huh! Astaga! Aku hampir saja membukanya. Tapi, tadi benar kan aku mendengar seperti ada yang sedang mengobrol. Ya Tuhan! Apa aku mulai berhalusinasi lagi!


_____________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2