
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.
Saat nya bagi semua karyawan untuk pulang.
Di depan kantor terlihat sangat ramai kerumunan para karyawan.
Kebanyakan mereka di antar jemput oleh keluarganya.
Tapi tak sedikit pula yang pulang dan pergi mengendarai angkot.
Salah satunya ialah Kirana.
"Saat bubaran kantor,biasanya banyak angkot yang mangkal di situ. Kenapa kali ini sama sekali tidak ada?" Kirana celingukan kesana kemari, matanya menjelajahi setiap sudut jalan.
Berharap dia melihat sebuah angkot.
"Ya Tuhan! Kakiku bahkan sudah capek berdiri di sini,kenapa dia ( angkot ) tidak datang juga sih?" gumam Kirana sambil menepuk nepuk kakinya
Sudah hampir satu jam Kirana berdiri di situ.
Tapi tak satupun angkot untuk jurusan kerumah yang lewat.
"Astaga!! Aku sudah tak tahan lagi, siapa saja yang lewat kumohon ijinkan aku menumpang! Kaki ku sudah lelah rasanya!" Kirana bergumam mengeluh sendiri.
Hingga tiba tiba, sebuah motor berhenti tepat di depannya.
"Candra? Kenapa dia disini?" gumam Kirana sambil kembalikan badannya berharap Candra tidak melihatnya.
"Ya ampun,secepat itu permintaanku di kabulkan? Aku kan hanya bercanda!" Kirana panik ketika menyadari apa yang sedang terjadi.
Ucapannya yang di anggap hanya keluhan semata, tiba tiba menjadi kenyataan.
Dan parah nya, orang yang datang itu adalah Candra.
"Na!" panggil Candra
Kirana berpura pura tidak mendengar.
Dia menunduk memainkan ponselnya.
Tin..,tin..!
Candra membunyikan klakson nya.
Hingga membuat Kirana terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
"Astaga! Ihhh!! Dasar kurang kerjaan, apa sih maumu? Lihat! Ponselku jadi terjatuh!" Kirana berbalik dan memaki Candra.
Membuat nyali Candra menjadi menciut.
"Kau tau aku disini? Kenapa tadi saat aku memanggil mu kau tidak dengar? Kau berpura pura tidak melihatku?" Candra tetap berusaha menutupi rasa terkejutnya dengan berpura pura membalas perkataan Kirana.
__ADS_1
Kirana melihat Candra dengan tatapan kesal.
Dan dia lalu pergi meninggalkan Candra.
"Hari ini suasana hatiku sedang buruk dan badanku juga sangat capek! Kenapa masih harus melihatnya?" Kirana berjalan sambil bergumam.
Candra tidak diam begitu saja melihat Kirana pergi.
Dia terus mengikuti Kirana dari belakang.
Tak peduli kalau nanti akan kembali mendapat omelan dari Kirana.
"Dasar batu! Kenapa dia terus mengikutiku?" gumam Kirana setelah tau kalau Candra mengikutinya
"Hari sudah semakin senja, ku pikir pasti tidak akan ada angkot yang lewat. Kau pulang bersamaku saja" kata Candra sambil terus mengikuti Kirana
"Siapa bilang aku sedang menunggu angkot? Aku sedang menunggu seseorang" Kirana berhenti sejenak dan berbalik membalas ucapan Candra.
"Siapa? Jangan bilang kau sedang menunggu suami orang ya, kasihan istrinya" Candra tengah menyindir Kirana tentang kejadian pagi tadi.
Suami orang? Apa maksudnya? Astaga!! Apa dia tau kalau tadi pagi aku menyewa orang untuk membohonginya? Dasar emberr!
Mengetahui kalau ternyata Candra tau tentang tipuannya.
Kirana merasa malu,kali ini dia bahkan tidak membalas perkataan Candra dan terus berjalan.
"Na..,sampai kapan kamu mau terus berjalan? Jarak ke rumahmu masih sangat jauh,apa tidak capek?" kata Candra
"Huh dasar! Kau pikir bisa merayuku? Kau anggap aku ini wanita gampangan apa? Huh!! Walaupun memang melelahkan dan kaki ku ini sudah mulai terasa kram,tapi jangan berharap aku mau pulang bersamamu!" Kirana terus mengomel pelan sembari terus berjalan.
Karena sudah berjalan terlalu jauh,dan Kakinya sudah benar benar lemas.
Akhirnya Kirana tersandung dan jatuh tersungkur.
Candra langsung reflek turun dari motornya dan berlari menolong Kirana yang tengah kesakitan.
"Ugh!! Kaki ku sakit sekali!" Kirana berusaha berdiri, dia tidak ingin Candra menolongnya.
Tapi sia sia, kaki nya terkilir dan tidak bisa berdiri.
"Na, kau tidak apa apa?" kata Candra sambil berusaha memapah Kirana.
Tapi Kirana mendorong Candra untuk menjauh.
"Kau! Pergi sana! Jangan peduli padaku!" bentak Kirana
"Kau ini sudah seperti ini masih saja keras kepala!" balas Candra
Ucapan Candra semakin membuat Kirana marah.
Tiba tiba kenangan itu muncul kembali.
__ADS_1
Saat saat sulit dan menyakitkan dimana dia terpuruk dan sakit karena ulah Candra.
"Keras kepala? Siapa yang keras kepala! Heh? Kalau aku keras kepala lantas kau apa?! Heh!!" entah apa yang merasuki Kirana hingga ia menjadi sangat marah.
"Kau datang dan pergi sesuka hatimu tanpa memperdulikan orang lain! Lantas apa sebutan yang cocok untukmu? Kau bahkan menyebutku keras kepala karena hal sepele seperti ini, lantas aku harus menyebutmu apa!!" Kirana menjadi histeris.
Matanya menatap tajam pada Candra.
Candra tidak menyangka kalau Kirana akan berkata seperti ini.
Rasa bersalahnya kembali muncul.
"Na.., maafkan aku. Sampai kapan kau akan membenciku? Apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkan ku" kata Candra lirih
"Pergi menjauh dariku" balas Kirana
"Aku pikir malam itu saat kau setuju untuk menjadi temanku kembali, kau akan menerima dan maaf kan ku. Tapi kenapa sekarang seperti ini?" Candra masih berusaha menenangkan Kirana.
Tidak bisa di pungkiri.
Kini dirinya begitu sayang pada Kirana.
"Aku memang menerima kamu kembali untuk menjadi temanku. Tapi teman tidak seharusnya bersikap berlebihan seperti ini! Kau terus mendekati ku! Kau benar benar egois! Kau tidak tau betapa sulitnya aku saat itu? Apa kau memikirkan itu? Kau bahkan sama sekali tidak peduli dan pergi menghilang! Dan sekarang,kau dengan seenaknya datang dan menuntut aku untuk kembali menyukai mu seperti dulu? Apa yang kau fikirkan? Apa kau fikir aku ini wanita gampangan?heh?" Kirana sudah tak sanggup lagi untuk memendam rasa nya semakin lama.
Dia kini ingin agar Candra tau apa yang di rasakannya dulu.
Matanya berkaca kaca tak bisa menahan Amarah dan kesedihannya.
Setelah marah, dia bahkan menangis se jadi jadinya sambil meringsuk di jalan.
Candra tidak menduga akan menjadi seperti ini.
Karena ulah nya,sampai sampai meninggalkan luka yang sangat dalam di hati Kirana.
Tak berfikir panjang, melihat Kirana menangis.
Dia pun reflek memeluk nya.
"Aku minta maaf,aku rasa Tuhan telah menghukumku. Sekarang, aku berbalik menjadi sangat menyayangimu. Jadi kumohon,kau jangan menambah hukumanku. Beri aku kesempatan lagi..,kumohon" Candra berbisik lirih.
Perlahan Kirana melepaskan pelukan Candra.
Setelah menangis dan berteriak, seperti nya amarahnya sudah mereda.
"Kita pulang" kata Kirana pelan
Candra tersenyum senang.
Dia lalu bergegas memapah Kirana menuju motornya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam.
__ADS_1
Kirana sendiri merasa terganggu dengan ucapan Candra.
Hukuman Tuhan? Agh..,apa aku keterlaluan padanya? Maafkan aku Tuhan,aku tidak bermaksud begitu