Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 40


__ADS_3

Kirana agak kesal dengan situasi ini, hampir saja dia berhasil membuka kamar itu. Tapi lagi lagi di cegah oleh Bu Fatima.


"Nak, makanan nya nggak enak ya? Ibu perhatikan dari tadi, koq nggak di makan? Cuma di aduk aduk saja."


"Astaga! Maaf bu. E ... makanan nya enak koq!" Karena melamun, Kirana tak menyendok sedikit pun makanan yang telah disiapkan oleh Bu Fatima. "Bu," kata Kirana sembari tangannya memegang lengan Bu Fatima.


Melihat keanehan pada sikap Kirana, beliau pun menghentikan makannya. "Iya, kamu kenapa?"


"Ibu sayang kan denganku?" tanya Kirana dengan suara lembut.


"Ada apa denganmu? Tentu Ibu sayang padamu, kamu sudah Ibu anggap sebagai anak Ibu sendiri." balas Bu Fatima.


"Ibu percaya kan kalau aku sudah ikhlas dengan kepergian Candra?" kembali pertanyaan Kirana membuat beliau sontak terkejut. "Apa sih maksud kamu sayang?" Bu Fatima menghela nafas dalam. "Kau rindu dengan Candra?"


Kirana tak menjawab pertanyaan Bu Fatima, dia hanya diam dengan tatapan datar. "Maafkan ibu ya," kata Bu Fatima.


Kirana menatap lpmbut mata wanita itu, ada rasa bersalah karena telah membahas kembali hal ini. "Bu, kenapa Ibu minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat Ibu kembali sedih."


Kirana.., Ibu salah! memang ibu yang seharusnya meminta maaf padamu!


"Kamu gadis yang baik nak, ibu yakin kalau Candra tidak salah karena telah memilihmu." Genggaman tangan Bu Fatima begitu erat, ada titik air di sudut matanya. Kepalanya menunduk menahan haru, yang Kirana sendiri tak tau sebabnya. "Bu.., Ibu kenapa? Maafkan Kirana sudah buat Ibu sedih."


Bu Fatima kembali meluruskan pandangannya, hingga tatapan mereka bertemu. Tangannya perlahan menghapus titik air yang hampir menetes. Dan bibirnya berusaha untuk mengembangkan senyuman. "Kau rindu dengan Candra kan?" tanya Bu Fatima lagi. "Masuklah! obati rindumu."


Kirana masih saja tidak mengerti apa yang di maksud oleh Bu Fatima. "Masuk? Masuk kemana?" tanya Kirana bingung.


"Dari dulu, kau ingin masuk ke dalam kamar nya Candra kan? Maaf kalau Ibu selalu melarangmu." jawab Bu Fatima. "Sekarang, Ibu mengijinkanmu untuk masuk kesana. Pergilah! Obati rindumu."


Bu Fatima yakin, kalau ini adalah yang terbaik untuk anaknya. Ketulusan cinta Kirana sangat jelas terlihat, jadi seharusnya tidak ada yang harus di khawatirkan lagi.


"Benarkah? Makasih Bu." Kirana senang sekali, tergambar dari raut wajah dan senyumnya yang mengembang. Di peluknya Bu Fatima dengan erat. Dan dia pun segera pergi menuju tempat yang sedari dulu ingin dia sambangi.


Langkah kecilnya mulai melangkah menuju kamar itu. Tapi entah kenapa jantungnya berdegup kencang dan berdebar. Seakan akan akan bertemu dengan hal yang mencengahkan.

__ADS_1


Kirana menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar itu. "Ya Tuhan! Ada apa ini? Kenapa rasanya berdebar seperti ini?" Tangannya mendekap dadanya merasakan detak nadi nya yang berdetak kencang.


Perlahan tangannya membuka hendel pintu, dan sedikit demi sedikit mulai terbuka. Pemandangan yang masih sama, seperti saat pertama kali dia datang ke situ. Masih tertata rapi dan bau harum yang khas tubuh Candra masih tercium kuat disini.


Tatapan Kirana menyapu seluruh ruangan hingga sampai lah dia di sudut ruangan, tengah duduk seorang pria dengan kursi rodanya di sebelah jendela kaca sembari pandangannya menghadap luar jendela. Sehingga tak nampak wajahnya oleh Kirana.


Tubuh Kirana bertambah gemetar saat melihatnya, ada seperti mistry antara dia dan laki laki itu.


Perlahan Kirana memberanikan diri untuk menghampiri laki laki itu. "Permisi, anda siapa?" tanya Kirana dengan hati hati.


Laki laki itu pun sontak kaget, namun tetap bertahan untuk tidak menjawab ataupun menoleh.


"Hai, assalamualaikum." sapa Kirana lagi.


Mau tidak mau, laki laki itu pun menjawab nya. "Waalaikumsallam." jawabnya pelan.


Suara itu, suara itu tidak asing di telinga Kirana. Kirana memberanikan diri untuk mendekat, karena dia yakin kalau dia mengenal sosok laki laki yang kini ada di depannya.


Dan benar tebakannya, "Candra! K-kau benar Candra!" Suara histeris bercampur tangis keluar dari mulut Kirana. Di peluknya laki laki itu, "Ini bukan mimpi kan? Bukan halusinasi kan!"


"Candra aku rindu! Hiks," Tak henti henti nya Kirana menangis dalam pelukan Candra.


"Maafkan aku," jawab Candra.


"Kenapa kau bohong padaku," tanya Kirana dengan lirih, dengan tatapan sendu. "Kenapa kau sembunyi dariku? Apa salahku? Kau tau, betapa kerasnya aku berpura pura tegar saat kau pergi! hiks!" Dengan suara serak, Kirana melupakan curahan rindunya yang selama ini dia pendam.


"Maafkan aku," jawab Candra yang juga tak kuasa menahan haru. "Lihatlah aku sekarang, aku bahkan tidak bisa melihat orang yang ku sayangi walau dia kini ada di depanku! Aku bukan Candra yang kau cintai dulu Na!" Kata kata Candra menampakan kalau dia tengah putus asa.


"Kau salah," jawab Kirana sembari mengusap wajah laki laki yang selama ini dia rindukan. "Kau masih sama, kau Candra ku, pria yang sangat kucintai." Kirana kembali memeluk hangat tubuh Candra. "Aku tidak peduli seperti apapun kamu sekarang, aku sangat menyayangimu. Aku nggak mau kehilanganmu lagi!" Tangis Kirana kembali pecah dan entah sampai kapan akan berhenti. Bahkan mata bulatnya, kini berubah menjadi sipit karena sebam.


"Aku bahkan tidak bisa melihatmu menangis Na," kata Candra dengan suara pelan.


"Sudah stop Ndra, aku nggak peduli! Kumohon jangan bilang begitu," kata Kirana. "Saat ini aku bahagia, sangat bahagia karena orang yang selama ini sangat kurindukan kembali bersamaku. Kumohon jangan buat aku sedih lagi."

__ADS_1


Ini seperti mimpi, orang yang selama ini sangat dirindukannya ada di depannya.


Trimakasih Tuhan kau telah jawab doaku


Nampak sepasang mata ikut menangis haru melihat mereka berdua. Bu Fatima yakin, kalau Kirana adalah wanita yang terbaik untuk anaknya.


****


"Maafkan aku ya Na," kata Candra. "Maaf, karena telah menghindarimu dan pura pura meninggal."


"Sudah..,aku nggak mau bahas itu lagi! Aku takut!" sela Kirana. "Janji ya, kau tidak akan meninggalkan ku lagi."


Candra hanya tersenyum, walaupun netra nya tak dapat melihat wajah Kirana, tapi perasaan bahagia itu tersirat dari raut wajahnya. "Aku juga minta maaf soal Hakam."


"Aku sudah tau itu," jawab Kirana datar sembari kepalanya bersandar manja di bahu Candra. "Aku tau, dia mendekati ku karena kamu."


Candra menghela nafas dalam, Kirana sepertinya belum menyadari kalau Hakam benar benar mencintainya. Bukan sekedar karena Candra.


Kasihan Hakam, aku merasa bersalah karena telah melibatkannya


"Oya, kamu kan datang bersama Hakam kan? Lalu.., dimana Hakam sekarang? Dari tadi tak kudengar suaranya." tanya Candra.


"Tau! Aku nggak peduli dia kemana! Aku masih kesal, teganya dia ikut membohongiku!" ketus Kirana, kini berganti tangannya yang terus menempel pada lengan Candra dengan manja.


"Jangan seperti itu, kalau kau marah, harusnya marah padaku. Hakam seperti itu kan karena perintahku." jawab Candra dengan lembut.


Kirana terdiam, tiba tiba wajah manis Hakam melintas di pikirannya. Tak bisa dipungkiri, kalau kehadiran Hakam selama ini bisa menghiburnya. Dia selalu ada untukku.


"Astaga!! Apa yang kupikirkan?" Tangan Kirana semakin erat medekap lengan Candra. "Iya maaf, tapi kau harus janji padaku. Jangan pernah menyuruhku untuk mencintai orang lain."


"Iya, aku janji." jawab Candra. "Na, aku sangat sayang padamu."


Kesabaran dan kesetiaan yang selama ini mereka jaga, akhirnya membuahkan hasil yang bahagia. Sementara itu, ditempat lain. Seseorang yang sudah kalah pertempuran dalam merebutkan hati seorang gadis, berusaha untuk menjauh menjaga jarak untuk sementara waktu. Sembari menata kembali hatinya. Dia yakin, kalau pengorbanannya tidak akan sia sia. Kini mereka bahagia.

__ADS_1


_________________________


Bersambung


__ADS_2