Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 38


__ADS_3

Tak ada gading yang tak patah, begitulah kira kira pepatah yang cocok untuk Kirana.


Sekuat apapun dia menahan untuk menjauh dari Hakam, tetap saja.., keadaan yang selalu mentakdirkan mereka untuk bersama.


Perjalanan panjang menuju kota dimana Bu Fatima tinggal membuat mereka tak lagi berjarak.


Perhatian Hakam yang tak putus untuk Kirana, perlahan membuat kebekuan hati Kirana meleleh.


"Kita istirahat dulu disini," kata Hakam sembari menghentikan laju motornya. "Perjalanan kita masih jauh."


Kirana dengan raga yang sudah teramat lelah dan mengantuk hanya mengikuti apa yang di perintahkan Hakam tanpa protes sedikitpun.


Dia pun ikut ambruk di salah satu kursi yang tersedia di rest area tempat mereka berhenti.


"Astaga! Aku capek banget!" kata Kirana sembari menggeliat merenggangkan kakinya. "Hakam! Kurang berapa jam lagi kita sampai?"


"Heh, kurang lebih tiga jam lagi Na," jawab Hakam sembari melihat jam tangannya. "Kau capek ya? Maaf ya, kalau kau ngantuk, kita istirahat dulu disini. Besok baru kita lanjutkan perjalanan."


"Ehh! Nggak koq! Aku nggak ngantuk! Huapp..," Kirana tak bisa menyembunyikan rasa kantuknya, mulut nya terus saja menguap.


"Jangan memaksa! Kau terus menguap seperti itu masih bilang tak mengantuk," Hakam sengaja menata tas ditumpuk dengan jaket miliknya sebagai alas kepala untuk Kirana tidur. "Kau istirahat dulu disini, bahaya kalau kita memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan dengan keadaan mengantuk seperti ini."


Hakam betul, lagipula sungguh badanku sudah amat lelah. Udara malam yang dingin membuat tulangku menjadi beku. "Ya sudah kita istirahat dulu, makasih ya." Kirana merebahkan kepalanya di atas tas bertumpuk jaket milik Hakam. Karena raga nya yang sudah benar benar lelah, tak menunggu lama untuk Kirana terlelap.


Hakam duduk disamping Kirana, sengaja dia tidak ikut berbaring karena ingin menjaga Kirana.


Melihat Kirana yang kelelahan, membuatnya merasa kasihan. Kepalanya dia sandarkan di bahu kursi, sesekali matanya terkantuk namun segera ia sadarkan diri kembali berusaha untuk tetap terjaga.


"Na, andai saja aku lebih dulu memilikimu. Aku menyesal, kenapa dulu aku begitu bodohnya tidak menyadari perasaanku padamu." gumam Hakam dengan tatapannya memandang Kirana yang tengah terlelap. "Takdir, siapa yang bisa menentangNYA."


"Ndra..,Candra kau dengar aku! Ndra.., hah!" Igauan Kirana membuat Hakam terkejut. "Na, kau kenapa? Kau mimpi buruk?"


"Astaga! Aku bermimpi.., Candra..," Kirana tak melanjutkan ucapannya.


"Tenang Na, kau hanya mimpi." kata Hakam sembari menenangkan Kirana.


Na, mungkin kah mimpimu ini adalah firasat untukmu?


"Kita berangkat sekarang ya," dengan mata yang masih terhuyun Kirana kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Hakam tidak bisa menahan Kirana lagi.


Dia tau, mungkin memang sudah waktunya kebenaran ini terungkap.


Hakam melajukan motornya dengan kecepatan sedang, udara malam yang dingin memaksa Kirana untuk memeluk Hakam.

__ADS_1


Sementara itu, Hakam berharap perjalanan ini akan semakin panjang.


Dia sadar, kalau nanti setelah sampai di rumah Bu Fatima, dia tidak mungkin bisa kembali sedekat ini dengan Kirana.


***


Bila waktu yang singkat ini adalah waktu terakhirku bersamamu, biarkan aku untuk menikmatinya.


Menikmati rasa yang tak mungkin akan terbalas.


Kebahagian cinta bukan hanya saat memiliki, tapi kebahagiaan cinta adalah saat dimana orang yang kau cintai merasa bahagia meski itu bersama orang lain.


Maafkan aku kak, tapi memaksanya untuk mencintai ku adalah suatu hal yang jauh menyakitkan.


***


Pukul lima pagi, akhirnya mereka sampai di Kota dimana Bu Fatima tinggal. Suasana asri dengan banyak pepohonan rindang menyambut mereka.


"Kita sarapan dulu Na," ajak Hakam saat melewati deretan warung kecil di pinggir jalan.


"Iya, terserah kau saja. Asal kau yang bayar ya," cletuk Kirana.


"Ehmm, iya deh aku yang bayar.., apa sih yang nggak buat incesku," balas Hakam.


"Hah! Apa an sih!" Mata Kirana mendelik dengan gumaman protes di mulutnya. "Jangan mulai ya!"


Mereka pun masuk di warung kecil tak jauh dari komplek perumahan di mana Bu Fatima tinggal.


Sengaja mereka sarapan dulu sebelum sampai di sana, karena tak ingin merepotkan Bu Fatima.


"Kau mau makan apa?" tanya Hakam sambil melihat deretan lauk dan sayur di depannya.


"Ehmm.., aku mau itu." jawab Kirana dengan tangannya menunjuk sebuah mangkok berisi rendang jengkol.


"Aih! Na, kau doyan jengkol?" tanya Hakam sambil nyengir.


"Kenapa? Enak koq, memang kamu nggak suka?" jawab Kirana. "Bu aku mau yang itu ya," sembari memesan makanan.


"Bukan nggak doyan, tapi baunya itu lho!" gumam Hakam.


"Wkwk..,syukurlah kalau kamu nggak suka dengan bau jengkol. Jadi jangan dekat dekat aku lagi ya!" Momentum ini malah membuat ide baru untuk Kirana menjauhi Hakam.


Hakam melirik kesal. Tapi mana mungkin lah, cinta bisa jadi benci cuma karena jengkol.


"Terserah kamu saja lah! Makan yang banyak, supaya energi mu terkumpul lagi."

__ADS_1


Kirana tak menjawab ocehan Hakam, mulutnya penuh dengan makanan.


Setelah semalaman kedinginan, membuat perut nya kosong tak ada sisa makanan apapun.


Dan setelah di hadapkan dengan makanan kesukaannya, mana boleh di lewatkan begitu saja.


Nggak usah jaga image, yang penting makan. He.., he


***


Setelah puas menikmati makan pagi, mereka pun kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal sebentar.


"Kalian berdua ini terlihat dari jauh ya?" tanya pemilik warung. "Kalau boleh tau, kalian mau kemana?"


"Kita mau ke rumah Bu Fatima, yang tinggal di komplek tak jauh dari sini." jawab Hakam.


"Ohw, Bu Fatima yang anaknya kecelakaan itu ya? Kasihan ya dia, anak satu satunya yang harusnya menjadi tulang punggung, malah jadi seperti itu." Entah apa saja yang sudah di dengar pemilik warung itu tentang Bu Fatima. Tapi mendengar penjelasan orang itu, membuat Kirana sedikit merasa aneh.


"Apa maksud ibu, tentang anaknya menjadi seperti itu? Dia kan..," Belum sempat Kirana melanjutkan pertanyaannya, Hakam dengan cepat memotong pembicaraan mereka. "Astaga Na, aku lupa sesuatu! Bu kita permisi dulu ya," Sembari menarik tangan Kirana untuk keluar dan sontak mengejutkan Kirana.


"Apa? Kau lupa apa?" tanya Kirana.


"E.., aku lupa kalau.., kalau roti yang kau bawa kupikir rusak! Coba deh kau periksa!" Hakam mencoba mencari alasan yang pas supaya Kirana tidak curiga.


"Astaga! Hakam! Itu kan kue yang kubuat khusus untuk beliau!" pekik Kirana.


Dengan panik, Kirana memeriksa kue yang sebelumnnya dia taruh di tas milik Hakam. Dan wajahnya kembali tenang, saat melihat bahwa kue yang dia bawa masih dalam keadaan utuh.


Sementara itu, Hakam terlihat tengah berkomunikasi dengan seseorang lewat pesan chat di ponselnya.


Terdengar beberapa kali ponselnya berbunyi.


"Bi, aku sudah hampir sampai."


Pesan chat yang dia tulis untuk Bu Fatima.


Hakam terlihat pias, tak tau harus senang atau sedih.


Dia sadar, seperti apapun disembunyikan, suatu saat nanti pasti akan terungkap.


Dan akan semakin buruk, bila semua terungkap saat dia dan Kirana benar benar sudah mulai saling merasa nyaman.


Dan saat itu pula, aku tidak akan kuat melihat Kirana sedih karena kebohongan dan kepalsuan ku selama ini.


__________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2