Cinta PolosKu

Cinta PolosKu
Part 36


__ADS_3

Menatap jingga di langit senja yang perlahan mulai temaram. Matanya sayu. Tak ada lagi kekuatan yang terpancar. Hanya wajah manisnya yang masih terlihat sama, meskipun bulat wajahnya sedikit memanjang. “Ndra, kau tahu? Sekarang aku sudah ikhlas melepasmu. Kau pasti senang bukan?” Wanita itu bicara sambil tersenyum menatap langit. Walau ia tahu, lelaki itu takkan bisa mendengar mau pun tersenyum padanya. Namun ia yakin, di sana kekasihnya bahagia, di pangkuan Rabb-nya. . Ia menyusut air mata yang mengalir deras di sudut netra. Menghela napas, lalu terdiam dalam lamunannya. Meski Candra telah tak bersamanya, namun Candra selalu hidup di hatinya. Ia tak pernah menganggap kekasihnya mati. Tapi hanya pergi sementara, bertemu Rabb yang sangat mencintainya. Berjuta cinta yang datang menawarkan diri, tak lantas membuat wanita berusia 20 tahun itu dengan mudah menyerahkan hatinya. Terlalu sulit mencari pengganti sang kekasih. Bahkan untuk membuka lembaran baru pun ia hampir tak sanggup. Sebab hatinya telah terkunci, dan kuncinya telah di bawa pergi oleh lelaki bermata teduh itu.


****


Tak berapa lama, taxsi yang kami tumpangi pun telah sampai di depan gang tempat aku tinggal.


Hakam dan Catur bergegas turun untuk mengambil barang barang di bagasi.


"Biar aku saja yang bawa," kata Hakam sembari menenteng tas ku.


Hakam yang sebenarnya adalah adik sepupu Candra, tak heran kalau ada kesamaan dalam bersikap, sama sama suka memaksakan diri kalau memang ada maunya.


Kupandang punggung Hakam yang terlebih dulu berjalan mendahului ku.


Aku seperti melihat Candra,


"heh! Mungkin karena aku terlalu rindu!


Bagaimanapun Itu Hakam! Bukan Candra!"


"Na, aku pulang ya. Kau tidak apa kan di antar Hakam?" tanya Catur.


"Iya, makasih ya." jawabku.


Ku lihat Hakam telah sampai lebih dulu, terlihat dia tengah duduk di teras dengan wajah yang capek.


Tak tega rasanya bila langsung menyuruhnya pulang ke tempat kost nya.


"Kau tunggu di sini, aku buatkan minum dulu," kataku sembari bergegas masuk ke rumah.


"Bu!! Aku pulang!" pekikku memanggil ibuku.


"Kirana! Kau baik baik saja kan? Kenapa nggak ngabari ibu kalau Candra..," ibu tak melanjutkan ucapannya. Ibu lalu memelukku dengan lembut. "Kau yang kuat ya, ikhlas akan lebih baik untukmu dengannya." kata ibu sembari melepas pelukannya.


Aku paham maksud ibu.


Beliau benar, aku harus ikhlas.


Walaupun itu tidak mudah.


"Kau pulang dengan siapa? Mana Catur?" tanya ibu, dengan tatapan melihat ke arah pintu.


"Catur sudah pulang, aku mau buatkan minum dulu buat temanku," jawab ku.


Aku pergi ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Hakam.


Sementara itu, ibu ku yang penasaran langsung bergegas menuju teras untuk memeriksa.


"Selamat malam bu," sapa Hakam saat melihat kehadiran ibu.


"Selamat malam, kau temannya Kirana?" tanya ibu.


"Iya bu.., dia temanku." sahutku, sebelum Hakam menjawabnya.


Ku letakkan gelas berisi teh hangat di atas meja. "Silahkan minum dulu."


Ibu menarik ku untuk mendekat, "Sejak kapan kau punya teman pria selain Candra dan Catur?" bisik ibu.


"Astaga ibu! Dia itu adik sepupu Candra. Dia kesini mau mengantar ku," jawabku sambil ikut berbisik.

__ADS_1


Mata ibu langsung melotot melihatku, entah kenapa reaksinya seheboh itu saat ku bilang dia adalah adik sepupu Candra.


"Kirana! Candra baru saja pergi! Kau malah bersama adiknya?" pekik ibu.


Hakam yang mendengar itu pun ikut kaget.


Dia menatap ke arahku dan ibu dengan tatapan bingung.


"Ibu! Bukan seperti itu! Sudah lah, ibu sebaiknya istirahat saja di dalam ya.., nanti aku jelaskan." Kurangkul ibu dan mengantarnya untuk masuk ke dalam.


Sebelum beliau bicara tentang hal yang aneh aneh pada Hakam.


Setelah mengantar ibu ke kamarnya, aku kembali ke teras untuk menemui Hakam.


"Jangan dengarkan ucapan ibuku tadi ya, beliau hanya bercanda," ucapku sembari ikut duduk di teras.


"Tenang saja Na, kalau ia pun aku juga nggak pa pa koq," jawab Hakam.


"Jangan mulai deh!" ketusku. "Candra baru saja pergi, dan makamnya belum kering, kau ini kan adik sepupunya! Kenapa tega sekali!"


"Uhuk!! Huk!!" Hakam terbatuk saat aku memaki nya. Padahal saat itu, dia tak makan apapun.


"Kau kenapa?" tanya ku panik.


"Nggak koq, tiba tiba saja tenggorokanku kering," jawab Hakam.


Kering? Aku kan sudah memberinya minum! Heh, dasar aneh!


"Aku bukannya tidak ikhlas melepas kepergiannya, tapi aku merasa kecewa! Kenapa aku tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali." Mataku berkaca kaca saat kembali harus mengingatnya.


Hakam terdiam melihatku dengan tatapan iba.


"O ya, kau pulang ke kost an naik apa? Sudah malam begini. Apa masih ada angkot?" ucapku tak ingin larut lagi dalam kesedihan.


"Aduh!! Iya-ya," jawab Hakam.


"Pakai ojek online aja! Kau punya aplikasinya?" tanyaku. "Kalau nggak punya, nich pake aplikasi ku."


"Astaga! Aku lupa kalau ada ojek online!" jawab Hakam sembari tergelak.


Hakam mengotak atik ponselnya untuk memesan ojek online.


"Hakam," panggilku.


"Iya," jawab Hakam.


"Pas hari itu kau terkejut saat selesai menerima telfon dari seseorang dan langsung pergi, apa itu telfon dari bu Fatima?" tanyaku.


Hakam berhenti mengotak atik ponselnya.


Dia kembali menatapku dengan tatapan aneh.


"Hakam?" Panggilku lagi karena dia hanya bengong melihatku.


"Itu ya? E-iya benar. Itu dari bu Fatima." jawabnya gugup.


"Apa saat itu Candra sudah...," Aku tak sanggup menanyakan itu. Mulutku kelu untuk mengatakan nya.


"Pas saat bu Fatima menelfonku, Candra dalam keadaan kritis." jawab Hakam pelan.

__ADS_1


"Setelah itu kau langsung pergi! Kau berarti pergi melihat Candra kan?" tanyaku antusias.


Hakam seperti tengah kebingungan untuk menjelaskan padaku.


Seperti nya dia punya kesulitan tersendiri untuk menjelaskannya.


Ku tatap Hakam dengan penuh penasaran.


Berusaha mendesaknya dengan tatapan ku.


Tapi sia sia, ojek online yang di pesan Hakam telah datang.


Dan dia harus segera bergegas pulang.


"A-aku pulang dulu ya Na, kapan kapan kita sambung lagi." kata Hakam sembari pergi Meninggalkanku.


Ya Tuhan! Ampuni aku!


Bukan aku tidak ikhlas dengan kepergiannya, tapi jujur! Aku masih penasaran dengan detik detik kepergiannya.


Aku ingin tau semuanya dengan detail.


Aku juga ingin tau, kenapa Candra harus di makamkan di singapura.


Dan kenapa juga tidak ada satu keluarganya yang hadir di pemakaman nya?


"Astaga! Kepalaku pening memikirkannya!" Aku kembali masuk ke rumah. Dan masuk ke kamar untuk beristirahat.


Perjalanan panjang membuat tubuhku sangat lelah.


Ku baringkan tubuhku di ranjang, malam ini mataku seperti di sihir.


Begitu kantuk nya, hingga baru sebentar saja sudah terlelap.


"Aku bukan laki laki yang sempurna Na, jadi pergilah! Jangan menungguku lagi! Hiduplah bahagia dengannya." Kata Candra sembari sembari mencium tanganku lalu pergi menjauh.


Ku kejar dia, tapi langkahku tak sanggup untuk mengejarnya.


Dan akupun tersungkur, dan menangis terisak-isak.


"Ndra!!" teriakku. "Jangan pergi ndra..,ku mohon!" Tangisku makin menjadi jadi saat melihatnya semakin jauh meninggalkanku.


"Nak, bangun nak!" Ku buka mataku, dan saat itu juga aku terbangun dari mimpi burukku.


"Ibu!" Kupeluk ibu yang saat itu sudah ada di samping ku.


Air mataku tak berhenti mengalir.


Tadi itu seperti nyata!


Begitu menakutkan!


Bahkan ciuman di tanganku masih terasa walau aku sudah terbangun.


"Kau mimpi buruk ya?" tanya ibu saat aku sudah mulai tenang.


"Ibu.., Candra bu!" ucapku dengan lirih.


"Sudah! Itu hanya mimpi..,semua akan baik baik saja. Sekarang kau kembali tidur ya," ibu berusaha menenangkan ku. Tapi tetap saja, aku sendiri tidak tau apa yang tetap membuatku tidak tenang.

__ADS_1


Candra! Maafkan aku..,hiks.


__ADS_2