
Senyum yang terukir pada kedua insan nyatanya juga mengukir kebencian pada mereka.
Wisnu dan Rima, kedua insan remaja itu kini dihiasi dengan wajah yang berseri. Semangat dalam belajar. Sungguh mengherankan jika keduanya akan menguap pada pelajaran Matematika. Kini mereka terlihat antusias mengikuti pelajaran, bahkan bertanya kepada guru jika mereka belum faham.
Jatuh cinta memang bisa mengubah siapapun orangnya. Bisa ke arah yang lebih positif atau negatif. Tinggal siapa dan bagaimana menjalaninya.
"Rim, ke kantin bareng yuk!"
"Eva mana ya Wis, kok dia udah ngilang gitu aja?"
"Tau" Wisnu menjawab singkat sambil memgedikan bahunya.
"Elo tuh masih aja cuek."
"Tapi, Yang penting gue perhatian sama elo. Ayuk ah, keburu lapeeer."
"Iya-iya."
'Sebenernya gue paling males ke kantin, apalagi kalo gue udah sarapan. Tapi, Wisnu ngajakin ngantin bareng, ya udahlah beli minum aja. Ngilangin haus.'
"lo ga makan rim?" Wisnu bertanya sambil mengaduk bakso di depannya.
"Gue diet, biar nggak gemuk. Ntar kalo gue gemuk lo ga suka." Sambil nyengir kuda memperlihatkan gigi kelincinya itu. Sambil sesekali menyedot pop ice-nya.
"Bagi gue, mau elo kurus, elo chuby, gemuk, item, jelek, apalah, lo tetep bakalan jadi cewek yang gue suka."
"Uhuk...uhuk..uhuk.." Rima terbatuk-batuk, Ia tersedak mendengar gombalan seorang Wisnu.
"Gimana sih lo Rim, minum aja bisa keselek. Belepotan lagi. Kayak anak Sd aja. Sini gue bersihin." Wisnu mebersihkan ujung bibir Rima dengan tangannya. Seperti seorang kakak yang menjaga dan mengurus adiknya. Kedua remaja itupun tak sengaja saling bersitatap, menyelami isi hati masing-masing.
"Eh... maaf, gue bisa bersihin pakek tisu." Rima mengakhiri adegan pandang-memandang yang membuat jantungnya berdegup kencang, dag dig dug deer.
"Iya, santai aja. Kayak ga kenal gue. Ngomong-ngomong beneran lo ngga mau makan. Ntar sakit lo. Ngga makan itu ngga baik buat kesehatan, apalagi kita berfikir. Lebih menguras energi ketimbang kerja kasar." Wisnu berkata panjang lebar, Ia merasakan jika dirinya lebih cepat lapar jika belajar di Sekolah lain dengan setelah Ia bekerja di pasar. Rasa laparnya tak membuatnya pusing.
"Ngga, gue udah sarapan tadi. Makan lo banyak juga ya?"
"Biasa aja kali neng, gue tuh kalo habis makan pasti nyari cemilan." Wisnu membuka bungkus jajan kacang kulit yang ke dua. Sedangkan Rima hanya minum ice saja.
"Ck..ck..ck.. ngga bisa nabung duit belanja dari lo gue ntar kalo gue jadi bini lo."
"Buahahaha.. fikiran lo jauh banget sih neng, kita aja masih SMP." Wisnu juga suka memanggil Rima dengan sebutan neng. Pokoknya suka-suka dialah manggil Rima.
"Iya-ya kita juga ga tau bakalan jodoh apa kagak. Siapa tahu elo bukan jodoh gue." Seketika Rima terlihat sendu. Dan menarik nafas kemudian membuanya kasar.
__ADS_1
"Berdoa aja neng, supaya kita jodoh."
"Eh... tumben lo rada alim."
"Menghina banget sih elo neng. Tapi, emang iya sih gue ngga ngerti agama dan ibadah."
"Makanya belajar yang bener."
"Nanti, masih belum pengen jadi Imam. Hahaha."
"Dasar."
'Cowok kalau di suruh belajar agama paling sensitif emang.'
CLETAK....
Kulit kacang yang Wisnu lemparkan mengenai kening Rima. Meskipun kulit kacang yang wisnu lemparkan ringan tapi Wisnu melemparnya dengan kuat, Rima merasa sedikit kesakitan.
"Awas lo ya wis."
Merekapun saling lempar kulit kacang, hingga mendarat pada mangkok bakso syifa yang juga sedang jajan di kantin mereka.
"Yah.. Wis gara-gara elo kan. Liat tuh bakso Syifa jadi ada kulit kacangnya. Gimana dong?" Rima terlihat sedikit panik, Ia tak mau bertengkar dan berurusan dengan Syifa.
"Yeee.. kan elo yang mulai duluan, elo sih pakek ngehindar. Elo yang selesaiin ya, gue ke toilet dulu, mau pipis." Rima mencari alasan langsung melarikan diri dari Syifa.
'Oke, fiks udah ada Wisnu yang selesaiin masalahnya. Syifa kan suka sama dia. Jadi ngga masalahkan harusnya. Iya.. bener-bener .. pasti baik-baik aja.'
"Rim, elo mau ke man....?"
"Siapa yang ngelempar kulit kacang ke mangkok bakso gue?" Syifa sangat kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya Ia tahu siapa yang melakukan itu. Tapi, Ia melihat Rima telah kabur, Ia tak mau Wisnu akan melakukan hal yang sama.
"Ck.." Wisnu berdecak kesal.
"Gue yang udah ngelempar kulit kacangnya. Maaf, dan untuk baksonya gue yang bayar." Setelah membayar baksonya dan bakso Syifa Wisnupun berlalu meninggalkan kantin. Sedang Syifa tak terima dengan perlakuan mereka. Ia berencana mengerjai Rima.
"Elo tuh ngga tanggung jawab banget sih Rim? Kan jadi gue yang harus bayar."
"Hehehe.. maaf ya Wis. Gue ganti deh duit lo. Gue males ngadepin Syifa pasti ntar ujung-ujunya panjang kali lebar.
"Sebenernya bukan masalah bayar membayar sih cuman elo harus bisa sedikit dewasa dengan belajar menghadapi masalah lo sendiri."
"Lah kan elo yang kekanakan duluan ngajakin main perang lempar kacang kulit. Gimana sih." Rima merengut kesal.
__ADS_1
' Selalu aja gue yang disalahain, nyebelin.'
"Oke gue minta maaf, lain kali lo jangan lari. Hadapi masalahnya sepahit apapun, kan ada gue juga di sana."
"Dahlah. Males gue bahasnya." Rima duduk di bangku kelasnya sembari menunggu mata pelajaran berikutnya dan membelakangi Wisnu. Ia madih terlihat kesal dan memcoret coret bukunya asal.
"Kak ada titipan." Tiba-tiba salah satu adik kelasnya menyodorkan surat.
URUSAN LO BELUM SELESAI SAMA GUE. GUE TUNGGU DI BELAKANG SEKOLAH PULANG NANTI.
By. Syifa.
Rima bergidik ngeri, tapi ia juga tak mau memberi tahu Wisnu. Ini adalah urusan perempuan.
'Tadi Wisnu bilang gue mesti hadapi masalahnya sepahit apapun itu, coba gue hadapi sendiri mudah-mudahan ngga papa.'
Sepulang sekolah, Rima beralasan untuk mengecek lembar formulir dan lembar puisi yang Ia ikutkan dalam lomba puisi mading sekolah kepada Wisnu dan menyuruhnya menunggu di parkiran padahal Ia akan menemui Syifa.
"Besar juga nyali lo menghadapi gue sendiri di sini." Syifa menatap Rima penuh kebencian, sorot matanya menggambarkan Ia akan mencabik-cabik dan menerkam Rima.
"Maaf untuk baksonya." Rima meminta maaf atas apa yang ia lakukan di kantin tadi. Drngan nada yang sedikit gugup namum Ia tutupi. Ia tak mau terlihat ketakutan.
"Ikat dia."
Syifa memerintahkan gengnya untuk mengikat Rima. Rima hendak kabur melarikan diri, namun ia sudah dihadang 4 orang. Ia berontak tapi kalah jumlah akhirnya Ia terikat.
" Lo fikir lo cantik.. heh..? Jangan mentang-mentang lo temen kecilnya Kak Wisnu lo bisa besar kepala dan bersaing dengan gue. Syifa Narita Mayana. Siswi tercantik dan terkaya di sekolah ini. Elo tahu kan gue suka kak Wisnu dari dulu, dan semua orang juga tahu. Jadi gue peringatkan jangan jadi sok cantik dengan menjadi pacar kak Wisnu. Karena kak Wisnu hanya akan jadi milik Syifa seorang. Faham?"
"Cih.. naif banget sih lo? Gue sama Wisnu sahabatan doang, ngga lebih. Dan Ngga ada yang ngelarang-ngelarang gue buat deket sama siapa aja. Ini hak gue."
"Jangan munafik kakak kelas tercinta, gue tahu lo juga suka sama kak Wisnu. Gue ngga mau banyak omong, lakukan sekarang guys."
Anggota geng mereka menyiram Rima dengan seembetbair comberan.
"Iti awalnya aja, gue tekankan lagi. JAUHI KAK WISNU, ATAU ELO TAHU AKIBATNYA."
Syifa tak main-main dengan ancamannya. Selanjutnya guys.
Mereka mengeluarkan ulat bulu dari dalam toples. Mereka tahu Rima phobia dengan ulat bulu.Rima mulai ketakutan dan terlihat pucat. Ia tak bisa berpura pura untuk tidak takut. Karena tubuhnya sudah gemetar dan lemas.
"Tolong... tolong... tolong... gue..., gue mohon lepasin gue..."
"Jangan syifa...,jangan... gue takut. Iya gue nyerah, gue ngga akan deketin Wisnu lagi. Tolong singkirkan ulat bulu itu." Rima memohon kepada syifa. Syifa tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Lakukan guys." Mereka menepelkan ulat bulu dipundak Rima. Rima yang sudah ketakutanpun pingsan. Mereka segera melepaskan ikatan Rima dan kabur dari tempat itu.