
Galau.. Yah mereka semua galau. Rima, Wisnu, Ali dan Syifa. Kisah cinta yang sedikit rumit. Tidak rumit jika mereka menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
Wisnu masih termenung dengan pengakuan Syifa.
'Gue ngga nyangka begini jadinya, gue fikir syifa ngga bakalan senekat itu.'
Wisnu tak habis fikir Syifa begitu terobsesi dengan dirinya. Meski Ia tahu dirinya memang menjadi idola siswi di sekolahnya karena selain wajahnya yang ganteng juga karena ia bisa bela diri, menyanyi dan pandai dalam pelajaran. Namun ia bukanlah satu-satunya siswa yang punya banyak kebisaan.
Tetapi, Wisnu sudah kadung menjadi incaran siswi di sekolahnya. Bahkan ia sering menjadi bahan taruhan. Saking terkenalnya ia dengan sebutan cowok tercuek dan dingin pada siswi di sekolah itu. Sampai kakak tingkatnya yang SMA pun ada yang mengaguminya. Wisnu menganggap mereka hanya sebatas siswi pada umumnya yang mengidolakan sesosok siswa berprestasi yang tampan.
Tak dapat dipungkiri bahwa Wisnu memang tampan. Hanya Rima yang dapat menyembunyikan kekagumannya di hadapan Wisnu.
'Cuma elo satu-satunya yang gue anggap normal Rim. Di saat semua cewek di sekolah kita ngejer-ngejer gue, cuma elo yang bersikap biasa aja. Tapi, kenapa lo harus jadi suka sih sama Awin? Apa salah gue ke elo Rim? Apa karena Syifa udah nyakitin elo? Kenapa lo tega ke gue Rim? Elo udah permainin perasaan gue. Aaargh.. Sialan Kenapa sih gue se cinta ini sama Rima.'
Wisnu memukul tembok dinding kamarnya. Ia mengungkapkan isi hatinya yang belum sempat ia sampaikan pada Rima. Galau gundah gulana yang Ia rasakan. Sedikit sesak karena Ia tahu Cinta Rima terbagi atasnya dan Awin. Ia tak tahu seberapa dalam cinta Rima padanya. Ataukah lebih besar cintanya kepada Awin. Itulah yang membuatnya tak tenang sepanjang hari.
Lain halnya dengan Ali, Ia memilih menghilangkan kegundahan hatinya dengan bermain koklo asisten miliknya. Aplikasi penghibur dari jaringan internet. Ketimbang keluyuran tidak jelas diluaran sanan. Ali memang dari kalangan keluarga kaya. Namun Ia bersikap seperti anak pada umumnya. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak duka berfoya-foya. Hanya sesekali Ia akan menggunakan fasilitas orang tuanya. Jika ia sedang butuh dan ingin.
'Lama-lama kayak orang gila gue mesra-mesaraan sama koklo. Nasib-nasib jadi jomblo sejati.' Ali meratapi nasibnya yang tak kunjung mendapat kekasih.
Sedang Rima tengah berbaring di ranjang ternyamannya, sembari menatap langit-langit kamar iapun sedang galau apakah memilih Wisnu atau Awin.
'Kalo gue sama Wisnu, gue mesti ngumpet-ngumpet pacaran. Mamak ga setuju, Syifa pasti ngga bakalan liat gue hidup dengan tenang. Kalau pilih kak Awin, doi belum tentu suka sama gue. Wisnu cakep sih, badanya ga jauh-jauh amat tingginya sama gue. Kak Awin terlalu tinggi tapi guanteng pakek buanget. Aduh gue jadi pusing pilih yang mana.'
"Door"
"Apaan sih dek, ganggu orang aja."
Riri tiba-tiba datang dan membuat kakaknya terkejut. Untungnya Rima tak punya penyakit latah. Jika punya, pasti Riri tak kan pernah bosan menjahili kakak tercueknya itu.
"Habis riri perhatiin kakak dari tadi ngelamun terus. Mikirin apa sih kak?"Riri penasaran dengan sikap kakaknya yang belakangan ini sering melamun dan berubah menjadi pendiam.
"kepo banget sih dek." Rima kesal karena sang adik mengganggunya yang tengah menentukan pilihan tanpa ada keputusan yang pasti.
"Idih.. galak amat sih kak, kayak meong makan terus kena ganggu."
"Ya iyalah, gue kan lagi mikir mau makan ikan apa paha ayam?" Rima mengandaikan Wisnu dan Awin sebagai makanan.
"Ya dua-duanyalah kak."
__ADS_1
"Emangnya kakak elo dek, yang rakus. Semua jenis makanan di lahap. Engga kali."
"Ya biasa aja kali kak, ngga usah ngehina juga." Riri jadi kesal karena ejekan sang kakak.
"Eh.. tumben lo sewot, biasanya lo ngga ngaruh kalo gue kata-katain. Jangan-jangan lo lagi patah hati ya? Ngaku aja lo?" Kini malah Rima yang berbalik menggoda adiknya.
"Apaan sih lo kak, gue masih bocah bau kencur tau. Emang kakak, udah naksir cowok. Sadarlah kak, lo tu masih bau kencur juga kayak Riri." Riri malah menasehati sang kakak.
"Tumben, adek gue ngomong yang ada faedahnya."
"Ish.. lo tuh muji apa ngejek sih kak?"
"Dua-duanya.. wkwkwkwk..!"
Begitulah mereka yang hampir tak pernah lupa untuk saling memuji dengan pujian yang menohok alias saling mengejek. Dan pasti akan berakhir dengan perang bantal dan kamar seperti kapal pecah akibat ulah sang penghuni kamar.
"Rimm.. Rima.." Mamak Rima memanggil namanya ketika mereka tengah asik bergulat.
"Nah lo kak, Ibu manggil lo. Sana cepetan keburu Ibu marah."
"Hemm.. mana mungkin mamak marah sama gue. Ngga bakalan." Rima membela diri.
"Kalo gue bilang lo pacaran sama Wisnu Ibu pasti marah_kan kak." Riri mengancam sang kakak hubungannya dengan Wisnu.
"Ngakunya sahabat, Sahabat jadi cintakan maksutnya. Kalo bukan pacar kak Rima boleh dong buat Riri kak Wisnunya." Sekarang Riri malah menyodorkan ancaman lainya pada Rima.
"Ih... ngeselin banget sih lo dek.Terserah lo aja deh. Kalo lo mau jadi adik durjana yang menghianati sang kakak."
"Katanya sahabat kok marah sih lo kak?"
"Tau ah.. gue mau nyamperin mamak. Beresin tuh kamar." Rima sudah sangat kesal sedari tadi Riri memancing amarahnya.
'Kok jadi gue sih yang mesti ngerapiin nih kamar. Kan berdua tadi mainnya. Ah.. curang lo kak.'
Terpaksa Riri membereskan kamar mereka sendirian yang kini sangat berantakan karena Rima harus menghadap mamaknya.
"Ada apa mak?"
"Tuh dicari Wisnu sama Ali."
__ADS_1
"Yang bener mak?" Rima segera mengintip mereka dari ruang tengah. Karena kedua sahabatnya itu kini telah berada di ruang tamu rumahnya. Ia pun menjadi gugup, Ia belum siap. Penampilannya benar-benar berantakan setelah perang bantal dengan Riri.
"Mak Rima ke kamar bentar, habis itu Rima buatin minum buat Wisnu sama Ali. Mamak tolong temenin atau bilangin ke mereka suruh nunggu kakak bentar." Rima segera ngacir ke kamarnya, dan merapikan penampilannya.
"Mamak udah bilang kayak gitu tadi kak." Mamak Rima berjalan mengekori Rima dan memberikan penjelasan.
"Oke, makasih mak."
"Bilang apa sih buk?" Riri selalu penasaran dengan hal sekecil apapun yangbterjadi di rumahnya.
'Adik sama kakak emang lain. Satunya dari kecil manggil emak satunya lagi ikut-ikut yang lain manggil ibu. Yang penting mereka selalu rukun dan berbakti sama orang tua.'
Begitulah bu Rusmini yang selalu sabar menhadapi tingkah konyol putra putrinya.
"Ngga, itu lo kakak ditunggu kak Ali sama kak Wisnu."
"Pantesan, kak Rima dandan."
"Ssssstttt.. apaan sih dek. Jangan buat kakak malu tau. Suara tu jangan kayak TOA masjid kenapa? Mau satu RT denger kalau kakak lagi dandan?"
"Iyeslah.. biar kakak segera cabut dari kamar, terua Riri ngintipin kalian deh."
"Huuu.. dasar adek ngga punya akhlak."
"Wkwkwk..! Lo tambah cantik kalo lagi marah kak."
"Ngga usah muji-muji deh. Kakak emang cantik dari sononya. Bilang aja mau ikut nimbrung ngobrol sama mereka." Rima membaca gelagat adiknya itu.
"Tau aja lo kak."
"Anak di bawah umur, sebainya diam di Kamar."
"Yeee.. kayak yang bilang udah berumur aja. Gue doain cepet tua lo kak."
"Kalo gue udah tua lo juga cepet tua. Udah ah ngeladenin elo ngga ada habisnya dek."
Rima segera menuju ruang tamu setelah berganti pakaian. Ia menggunakan kaos berwarna putih polos warana favoritnya, dan celana pensil abu-abu. Dengan rambut dikucir satu, agak kesamping telinganya. Ia terlihat sangat manis. Apalagi dengan senyum Rima yang mengembang. Menampilkan deret giginya yang rapi dan gigi kelincinya yang membuat ia manis namun terkesan lucu.
Wisnu dan Ali yang melihatnya langsung melongo.
__ADS_1
'Bidadari turun dari kayangan.' Batin Ali.
'Calon ibu untuk anak-anakku. Cantik dan ramah.' Wisnu malah berfikir sejauh itu.