
Wisnu dan Rima berkeliling mencari hadiah yang tepat untuk Ali. Mereka sebenarnya sangatlah bingung menentukan hadiah apa yang akan diberikan. Mengingat Ali berasal dari keluarga yang kaya raya. Sedangkan mereka berasal dari keluarga yang sederhana.
"Kita ke mall yuk Wis siapa tahu nemu diskon?" Rima memberi usul.
"Hitung dulu Rim uang tabungan kita berdua kira-kira cukup ngga ya?" Wisnu berfikir dan meminta Rima menghitung jumlaj uang mereka berdua. Inilah yang disukai Wisnu dari Rima. Tidak matre dan pilih-pilih teman. Tidak membedakan kaya atau miskin. Juga tidak merendahkan orang lain. Jadilah Wisnu yang tak pernah jaim jika soal keuangan. Ia akan nyaman blak-blakan jika dirinya tak memiliki uang sepeserpun.
"Lima ratus ribu Wis, ini sih udah banyak banget." Rima mengatakannya dengan heboh. Karena baginya uang segitu sangatlah nerarti bagi mereka yang membutuhkan.
"Ya kalau beli kerupuk dapat setruk mobil. Kita beliin itu gimana?" Ide Wisnu sangatlah konyol hingga menyulut emosi gadis remaja di sebelahnya.
"Lo kira Ali anak juragan warteg, iya mending bisa tambahan modal wartegnya. Siapa yang mau makan kerupuk sebanyak itu? Nanti yang ada malah lo yang kenyang makan tuh kerupuk." Rima menyemprot Wisnu dengan ganas.
"Gue kan cuma bercanda Rim. Jangan marah." Wisnu hanya bisa cengar cengir dan mengedipkan matanya. Berharap Rima tak melanjutkan amarahnya.
"Waktu kita ngga banyak Wis. Serius dikit dong. Jangan sampai kita pulang dengan tangan kosong." Rima khawatir mereka tak punya banyak waktu untuk menemukan kado yang tepat.
"Genggam tangan gue aja Rim, supaya tangan lo ngga kosong pas pulang." Wisnu masih aja bercanda. Bener-bener ngga takut Kucing laper ngamuk.
__ADS_1
"Nih tangan kosong." Rima melayangkan tinju ke lengan Wisnu.
"Au.. sssh.. Sakit neng. Tak apalah yang penting gue dapet besarnya pukulan kasih sayangmu."
Masih bercanda aja nih bocah. Gue tinggal cabut baru tahu rasa. Rima membatin dan segera berlari menjauh dari Wisnu dengan membawa uang mereka berdua.
"Eh Rim.. tunggu.. tunggu.. uang gue eh salah.. maaf tunggu gue rim. Aduh kenapa masih aja ni mulut ngga bisa direm, marah deh tuh pujaan hati gue." Wisnu meracau tak jelas sambil mengejar Rima yang berlari semakin jauh darinya.
BRUK..
"Elo gadis kismin ke tongkrongan orang kaya, punya uang lo?" Syifa mengejek Rima seenaknya. Ia senang karena bisa menindas Rima.
'Mimpi apa gue semalem ketemu mak lampir hari ini. Apes-apes. Kabur ajalah dari pada tambah runyam, ujung-ujungnya gue yang sengsara.' Rima memilih kabur dari pada harus berhadapan dengan Syifa yang apapun bisa ia menangkan kecuali hati Wisnu.
"Eh.. jangan kabur lo dasar perempuan norak." Syifa berteriak kesal. Seharusnya Ia masih bisa bermain-main dengan Rima. Setidaknya Rima harus menjadi jera karena selalu tak mengindahkan ucapannya tempo hari untuk jauh-jauh dari pujaanya Wisnu.
Wisnu melihat kejadian itu, Ia terlambat untuk mengajak Rima berbelok arah tadi sebelum menabrak Syifa. Ia semakin tidak suka dengan tingkah syifa yang sok berkuasa. Memang takdirnya dilahirkan pada keluarga yang kaya. Tapi tak seharusnya hal itu membuat Ia menjadi besar kepala dan keras hati.
__ADS_1
BRUK...
Rima memang ceroboh. Ia menumbur orang lain lagi.
'Apes-apes, numbur orang mulu gue hari ini.' Rima hari ini merasa dirinya sangatlah sial karena beberpa kali menumbur orang.
"Elo ngga papa kan dek?" Awin cemas karena sedari tadi Rima memejamkan mata dengan raut wajah menahan sakit.
"E..ee..engga kok kak. Ngga papa. Ng.... Kak Awin sama kak Monika lagi belanja bareng ya?" Awalnya Rima senang bukan main dengan ekspresi terkejutnya ia nampak bahagia. Namun setelah melihat Monika Ia menjadi sedikit murung.
"Iya, kamu sendiri ngapain?" Awin balik nanya.
"Owh.. itu mau beliin kado buat Ali kak. Tapi bingung mau ngasih kado apa?" Rima memang gadis polos yang akan senantiasa jujur jika menjawab pertanyaan.
"Ngga perlu mahal, apapun itu yang kamu kasih pasti berkesan baginya. Karena hadiah terindah itu ketika kita punya sahabat yang selalu setia menemani kita dalam keadaan apapun ntah itu lagi seneng, susah atapun sedih." Awin sok berkata bijak padahal Ia sendiri belum sepenuhnya begitu mengingat Ia masih tak rela jika monika hanya sebagai sahabatnya.
Wisnu melihat babak yang tak ingin Ia lihat. Rima berbincang-bincang dengan Awin. Sungguh menggores hatinya. Akankah Ia bisa mengendalikan emosinya untuk tidak marah kepada Rima.
__ADS_1