
Gue melewati lorong anatara Aula sekolah dan ruang Osis. Tak kuduga gue malah menyaksikan dua adegan yang serupa. Dan tak gue duga kedua orang yang gue sukai sedang berada pada peran yang berbeda. Jika yang satu dikejar-kejar yang satunya mengejar-ngejar.
Jika di kedua posisi itu maka kalian akan memilih posisi yang mana?
"Kak Wisnu anterin Syifa pulang ya.. Please...!" Syifa merengek minta diantar oleh Wisnu.
"Supir yang mengantarmu mana? Bareng yang lain aja deh." Wisnu menolak permintaan Syifa.
'Ngapain sih nih cewek ngga ada bosen-bosennya ganggu hidup gue.'
Rima masih saja celingukan mencari Ali. PENSI sudah berakhir dari 10 menit yang lalu, namun Ali mendadak menghilang.
'Ke mana sih Ali Baba, ga muncul-muncul. Masak gue ditinggalin? Mana ga sengaja liat mereka lagi di sini. Cemburu sih engga tapi enek aja liatnya. Pasti si Wisnu serasa jadi Pangeran yang diperebutkan.'
Tak sengaja Rima melihat adegan yang lainnya. Jika Wisnu dan Syifa berada pada sebelah kiri ruang Osis namun adegan yang satunya berada di sebelah kanan ruang Osis.
"Kamu pulang bareng siapa Mika?"
Samar-samar Rima mendengar suara yang tak asing di telinganya.
'Kayaknya gue pernah denger nih suara, punya siapa ya? Ah.. Iya suara Kakak MC.' Rima mencoba untuk mendengar lebih lama percakapan mereka, Ia menjadi sangat Kepo.
"Maaf, gue pulang bareng Renald. Aku sudah janji untuk pulang bareng dengannya."
"Apa tidak ada kesempatan untukku? Aku janji sama kamu Mika, Aku bakal buat kamu bahagia?" Suaranya terdengar memgiba.
'Kasihan bener nih cowok, sama gue aja kak. gue juga masih jomblo.Wkwkwwk.' Rima membatin.
"Aku tidak bisa, sekali lagi maaf. Dan ya satu hal lagi,berhentilah mnegejar cintaku. Karena aku dan Renald sebentar lagi akan ke Kanada. Kami akan kuliah di sana."
"Baiklah jika itu maumu, jika kamu menyesal menolakku dan ingin kembali. Aku akan setia menunggumu."
'Gila nih cowok segitu cintanya sama kak Mika. Widih padahal sudah terang-terangan ditolak. Gue jadi ada kesempatan nih deketin Kakak itu.' Lagi-lagi Rima berfikir konyol.
Gubrak...
"Aduuuh.. pot bunga sialan, kenapa ada di sini sih.. bikin gue kesandungkan." Rima tersandung pot bunga disebelahnya, karena Ia tak memperhatikan langkahnya untuk bergegas pergi dari mengepoi kakak kelasnya itu.
"Siapa itu...?"
"meow, meow,meow."
'Mudah-mudahan gue gak ketahuan. Bisa berabe urusan nih.' Rima berlari menuju pafkiran tanpa suara, Ia tak ingin ketahuan menguping.
'Satu, dua.. tiga... ' Rima menghitung untuk mengerjai Ali, Ia berniat mengagetkannya. Ia berjalan tanpa suara di belakang punggung Ali.
"D U A R...... "
"Eh copot...copot..copot..., ngagetin gua ja lu Rim. Dari mana aja lo non? Hemmm... gue cariin juga dari tadi." Ali mulai mengomel karena yang sedari tadi Ia tunggu baru muncul.
"Yang ada tuh Elo yang dari mana? Gue cariin muter-muter?"
"Cie .. ada yang nyariin gue.." Ali menggoda Rima.
"GR amat sih, gue nyari ojek gue. Gue mau pulang, yuk cepet anterin gue."
__ADS_1
"Tunggu, Rima pulang sama gue Al." Wisnu datang menyela mereka yang akan segera pulang.
"Apaan sih lo Wis, dateng-dateng ngerebut penumpang orang? Cari noh penumpang lain masih banyak. Tuh Syifa dah nungguin lo dari tadi." Ali merasa kesal dengan Wisnu yang datang tanpa diundang pulang tanpa diantar.
'Enak aja main serobot-serobot aja.'
"Gue bilang, biar gue aja yang antar Rima pulang." Wisnu ngeyel.
'lo harus pulang sama gue Rim, gue gak mau lo salah paham sama gue dan syifa. Gue mesti jelasin semuanya ke elo.'
"Kagak ada, Rima tetep pulang sama gue. Berangkat sama gue pulang sama gue juga."
"Ayo Rim pulang sama gue." Ali menarik tangan Rima.
"Rima pulang sama gue Al." Wisnu juga menarik tangan Rima yang satu lagi.
Terjadilah aksi saling tarik menarik. Rima merasa kesal bukan karena tangannya yang sakit tetapi juga Ia merasa seperti barang yang diperebutkan. Laki-laki memang egois. selalu saja gengsi tanpa memandang situasi.
Mereka menjadi tontonan sedari tadi. Termasuk Syifa dan Kakak MC tadi.
"STOP... STOP... STOP.. kalian tuh apa-apan sih.. kayak anak kecil rebutan permen tau ga? Sakit nih tangan gue.." Rima mencoba untuk melepaskan tangannya yang mulai memerah.
"Yang mana Rim yang sakit, sini gue obatin." Ali membolak-balikkan tangan Rima sambil mengelus-elusnya.
"Sorry Rim." Wisnu segera melepas tangan Rima.
"Eh elo jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan ya, gue timpuk juga lo." Wisnu tak terima tangan Rima dielis-elus Ali.
"Gue pulang bareng Ali. Gue tadi berangkat bareng dia, maaf Wis." Rima memutuskan pulang bersama Ali.
"Ayok Rim." Ali menggandeng tangan Rima lagi.
"Enggak, dia tetep pulang bareng gue." Wisnu memegang tangan Rima yang satu lagi.
"Cukup." Rima menarik tangan dari kedua temannya itu. sambil melotot pada keduanya. Dan Ia segera menyedekapkan tangannya di depan dada. Ia tak mau tangannya ditarik-tarik lagi , sambil berfikir bagaimana Ia pulang tanpa membuat mereka bertengkar.
"Elo tuh ga punya malu Wis, udah ditolak masi aja ngeyel." Ali menyulut emosi Wisnu.
"Elo tuh apa-apan sih Al. Elo tau gue kan. Harusnya elo ngerti perasaan gue."
" Elo yang apa-apaan, memposisikan Rima dalam bahaya tau ga? Gue cuma ngelindungi dia. Bukannya lo tadi udah nolak Syifa kan? Dan sekarang lo malah mau nganterin Rima. O**k lo taruk di dengkul. Elo ga tau kan Syifa tadi ngerjain Rima." Ali berbicara panjang lebar.
Syifa menatap sinis perdebatan mereka. Ia juga jengkel karena Wisnu memilih mengantar Rima pulang ketimbang dirinya. Bahkan namanya disebut-sebut dalam pertengkaran mereka.
'Gue gak tau apa yang terjadi sama Rima tadi. Apa bener syifa senekat itu. Makanya gue mau jelasin ke dia Al. Kenapa lo ga ngerti-ngerti.' Wisnu hanya bisa mengucapkannya dalam hati.
"Apa itu bener Rim?" Wisnu memastikan.
"Elo ga usah nanya lagi, Kalau lo ga percaya. Ga usah peduliin Rima lagi. Nyatanya lo lebih percaya Syifa ketimbang gue kan." Ali lebih dulu menjawab pertanyaan Wisnu.
"Gue ngomong sama Rima, bukan sama elo brengsek."
"Apa lo bilang Wis, gue brengsek. Elo yang brengsek, dasar cowok plin plan lo." Ali tak terima dirinya dikatai brengsek.
"Apa lo, emang lo brengsek Al. Pagar makan tanaman." Wisnu mengatai Ali.
__ADS_1
"Elo sendiri apa Wis, Playboy cap kampung." Ali membalas Wisnu.
"Alah beraninya lo ngomong doang.. Ayok kita buktiin siapa yang lebih jantan?" Wisnu menantang Ali untuk berduel.
"Ayok siapa takut." Ali menerima tantangan Wisnu. '****** gue, bonyok-bonyok deh ntar muka gue. Dari pada gue langsung ngalah, kan malu sama Rima. Tolongin gue dong Rim.'
Ali berharap Rima menyelamatkannya.
Ketika Wisnu melayangkan pukulan ke arah Ali, tiba-tiba Rima memasang badan di depan tubuh Ali. Ali dan Wisnu sama-sama terkejut dengan yang dilakukan Rima. Beruntung Wisnu dapat mengerem tangannya yang sudah terkepal, kurang satu senti lagi mengenai wajah Rima. 'Jadi lo milih Ali, Rim. Oke jika itu pilihan lo.' Wisnu kecewa dengan Rima. Sangat kecewa. Ia merasa patah hati. Hatinya terasa tertusuk duri. Sahabatnya mengkhianatinya dan Rima memilihnya juga. Hal itu membuatnya semakin sesak. Hatinya hancur berkeping-keping.
Orang-orang yang ramai menonton mereka hanya tetap menjadi penonton.
Kecuali seseorang yang sedang patah hati tadi, Ia berinisiatif untuk menjadikan Rima tamengnya. Kebetulan Mika dan Renald juga menonton adegan konyol mereka.
"Mau aku antar dek? Kakak juga mau pulang." Tawar kakak yang menjadi MC PENSI itu.
" Eh.... aku kak maksudnya?" Rima tak percaya dan menoleh ke samping kanan dan kiri.
" iya.. Kamu.."
'Gue tau lo cuma manfaatin gue kan kak, supaya kak Mika jeolus.. gue juga butuh lo kak buat kabur dari situasi ini. Kita akan melakukan simbiosis mutualisme.'
"Ga ngerepotin nih kak?" Rima sedikit jual mahal.
"Naiklah tuan putri."
Mereka segera melaju dengan motor CBR milik sang MC PENSi.
Sedang Wisnu dan Ali terbengong-bengong melihat Cewek yang diperebutkannya malah dibawa kabur Pria lain. Mulut mereka melongo jika ada seekor lalat masuk mungkin mereka baru akan menutup mulutnya.
"Tutup tu mulut, lalat masuk baru tau rasa." Ali mengingatkan Wisnu.
"Gara-gara elo kan Al."
"Elo tuh.."
"Elo.. ya.."
"Elo..."
"Elo.."
Mereka saling menyalahkan, hingga penontonpun berkasak kusuk. Mereka bubar tanpa dikomando.
"Bubar yuk bubar. Dah ga seru lagi nih." Terdengar nada kekecewaan dari para penonton tadi.
Hal itu membuat Wisnu dan Ali juga bergegas meninggalkan tempat itu. Mereka tak mau tinggal berdua saja di sana. Bisa-bisa ada setan lewat. Kan jadi ngeri-ngeri sedap. Mereka jadi merinding bulu kuduknya mulai tegak. Dan ada suara-suara aneh.
Mereka berteriak kencang.
"Kabuuuuuuuuur....
Maaf ya guys.. baru up. Dua hari lalu saya lagi sibuk-sibuknya di dunia nyata. Dan di tempat kami listrik padam tak tentu sangat lama.
Jangan kecewa..
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan , like, coment dan votenya..