CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
Rencana Ali


__ADS_3

Trio gesrek itu kini tengah asik berceloteh ke sana ke mari mengenang masa-masa mereka SD dulu. Sesekali mereka saling lempar bantal kursi sofa karena mereka telah selesai menigisi bahan bakar tempurnya.


"Busyet Al, udah 3 gelas lo minum tambah 4 potong sandwich. Perut apa kresek?" Wisnu pura-pura terkejut melihat cara makan Ali yang sperti orang tidak makan berhari-hari.


"Kayak lo kagak tau gue aja sih Wis. Ini tuh rezeki, ngga boleh disia-siakan." Ali pun memasukkan potongan sandwich kelima dalam mulutnya.


"Lagian jarang-jarang kita ngabisin stok cemilan Rima iya nggak?" Ali membela diri dengan memicing-micingkan sebelah alisnya kepada Wisnu.


"Tumben banget lo pada main ke rumah gue?" Si empunya rumah baru sadar jika kedua tamunya hampir tak pernah bertandang ke rumahnya. Selain keperluan antar jemput.


"Lo aja yang jelasin Wis, masak gue nyang punya acara yang mesti jelasin?" Ali meminta Wisnu untuk menjelaskan maksut kedatangan mereka.


"Yang punya acara siapa yang repot siapa?" Wisnu protes kala dirinya menjadi ikut repot karena Ali ingin membuat acara BBQ untuk mensyukuri hari lahirnya.

__ADS_1


"Acara apaaan?" Rimapun penasaran dengan acara yang akan mereka lakukan.


"Gini Rim, gue pengen kita kumpul dan makan bareng di rumah gue akhir pekan nanti. Kalo lo punya temn deket di sekolah atau saudara seumuran kita boleh kok lo ajak ke rumah gue. Yah, meski cuma makan-makan doanh sih."


"Tumben lo baik ngajakin kita, biasanya gimana Wis kalo dia ulang tahun?"


Rima heran karna tidak biasanya Ali merayakan ulang tahunnya bersama mereka. Biasanya keluarganyalah yang selalu menemani. Namun kini ia ingin berbeda dari biasanya. Karena ia sudah memasuki usia remaja dan sudah malu untuk terus menempel pada maminya. Meskipun ia masih sangat menginginkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya di dalam dan luar negeri.


"Eh masih mending ya gue inget elo. Lah elo ngasih gue kado aja kagak." Ali protes karena dirinya tak pernah mendapat kado dari sahabatnya itu.


"Elo jadi sahabat gue aja udah mending Al. Lo kan tau gue orang paling tajir di dunia." Wisnu mengatakan hal yang sebaliknya. Dirinya sedih tak pernah memberikan sesuatu pada sahabatnya itu.


"See, Rim. Dia emang pelit sekedar ngasih gue topi kek apa kek. Gue ngalah aja deh debat sama dia ngga pernah menang." Ali sebenarnya tak pernah mencela apa yang akan orang lain berikan padanya.

__ADS_1


"Elo tau dia kan ngga perhatian sama apa yang kita selerain Al. Biarin aja jangan lo ganggu. Entar dia ngamuk kayak bebek laper."


"Enak aja. Siapa bilang gue ngga perhatian sama kalian. Nyatanya gue selalu ada waktu lo butuh Al." Wisnu berdalih.


Ternyata percakapan mereka sedari tadi didengarkan oleh Riri. Ia tak sabar mendengar rencana mereka bukan malah membahas soal kado.


'Ah.. dasar mereka sungguh payah. Masak kado yang jadi bahasan. Ikut nimbrung ah, ngga dapet kak wisnu kak Al juga oke.'


Riri memutuskan turut andil dalam acara itu meski belum diminta. Ia geram dengan mereka yang selalu bercanda ujung-ujungnya debat.


"Ehem.. ada temennya kak Rima. Lagi pada bahas apa sih." Riri menghentikan obrolan ketiga sobat gesrek itu.


"Elo siapa ya? Ah ya aduh bi mimin kenapa bawa anaknya ke sini?" Rima hanya bercanda.

__ADS_1


__ADS_2