CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
SAHABAT ATAU PACAR


__ADS_3

Tak terasa kami telah sampai di depan rumah ternyaman gue. Waktu terasa begitu cepat bergulir. Gue harap secepat itu pula Kakak ganteng di depan gue menyukai gue.


"Terima kasih sudah mengantarkanku kak, dan terima kasih atas kerjasamanya." Cowok di depanku terlihat mengerutkan dahi, sepertinya Ia bingung dengan apa yang gue katakan. Gue memakai bahasa 'aku_kamu' dengan orang yang belum akrab dengan gue.


"Kerja sama apa?" Tanya kakak MC yang memgantar gue pulang.


"Ah.. lupakan kak, ngga penting juga. Mmm, kakak ngga mau mampir dulu?"


"Ng... ngga deh, lain kali ini udah malam, aku pulang dulu."


"OK, hati-hati di jalan kak." Rima mengatakan kata perpisahan sambil melambaikan tangan.


'Haaaah.. sepertinya gue harus bersabar menunggu kakak tadi melupakan cinta kak Mika, ketua osis yang luar biasa. Tapi sayang sedikit sadis. Menurut gue kenapa dia ngga ada lembut-lembutnya ya sama kakak tadi. Kan jadi kelihatan sadis.'


'Eh .. tunggu! Kenapa tadi gue ga kenalan sih sama doi.. Saking groginya, gue sampe lupa memperkenalkan diri. Tapi masak iya gue duluan yang ngajak kenalan duluan. Gengsi dong. Bodo ah.. gue mau istirahat.'


"Berangkat bareng siapa, pulang bareng siapa?" Riri tiba-tiba muncul mengagetkan kakanya.


"Kepo kamu dek."


"Yee.. siapa yang kepo, nanya doang kali kak."


"Udah ah gue mau tidur, capek."


"Ajarin PR gue dong kak, please...!"


"Besok, ok."


"Sekarang kak."


"Kakak capek dek, besok aja ya."


"Kak, ayolah bantu Riri, please."


"Iya, Kakak bantu tapi besok ya. Ini dah malem kakak lagi ga mood"


"Ga mood kenapa sih kak? Karena ga bareng kak Wisnu lagi ya? Biasanya kan kalian bareng ke mana-mana."


"Sotoy lo dek." Rima memukul kepala Riri dengan bantal yang Ia pegang. Jadilah mereka bergulat, saling memukul dengan bantal. Sementara Wisnu kini tengah bergulat dengan hati dan fikirannya.


'Kenapa lo tega sama gue Rim, apa lo cemburu liat gue sama syifa tadi? Gimana gue mau ngejelasin lo nya aja ga mau pulang bareng gue. Kenapa sih lo susah banget buat diajak ngomong? Aaaaargh..' Wisnu menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus bagaimana menghadapi Rima.


'Ya.. gue mesti jelasin semuanya besok. Pokoknya dia harus mau dengerin semua penjelasan gue. Besok kan gue jemput dia lagi.'


Wisnu berpikir terus menerus bagaimana caranya Rima percaya padanya. Hingga waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi dini hari. Mata yang harusnya terpejam sampai sekarang masih terbuka. Ia heran seorang Rima bisa membuatnya begitu tersiksa di setiap malamnya. Ia terus menunggu pagi rasanya tak sabar mendengar ayam berkokok.


Setelah melakukan aktivitas pagi butanya, Ia segera mandi dan sarapan. Pria itu nampak tergesa-gesa. Pergi dengan wajah yang layu namun tercetak sebuah senyuman di sana.


Ibu Wisnu heran melihatnya.


'Ngga biasa-biasanya, dasar remaja kalau lagi jatuh cinta lupa segalanya. Mudah-mudahan kamu ngga patah hati nak, kalaupun iya ibu harap kamu akan baik-baik saja.'


Ibunya membatin, berdoa agar putra bungsunya baik-baik saja. Mengingat kondisi ekonomi keluarganya Ibu Wisnu menjadi minder. Ia merasa takut kecewa untuk bergaul dengan orang yang lebih mampu darinya.

__ADS_1


************************************************


"Kak Rima, ditunggu noh.. sama sang pangeran."


"Apaan sih dek, ngga usah lebay deh."


"Buruan napa kak."


"PR kamu nih, bikin kakak telat. Kerjain sendiri."


"Tunggu kak tinggal satu lagi, nanggung. Selesaiin ya kakak ku yang cantik, baik hati, ngga sombong dan rajin menabung." Riri merayu Kakaknya supaya tetap mau mengerjakan PRnya.


"Giliran ada maunya aja, ngerayu-ngerayu, muji-muji. Dasar lo dek. Udah ah, ntar kakak diomelin tuh sama Kak Wisnu."


"Ciye yang udah kangen ketemu sang pujaan hati." Riri terus menggoda sang kakak, Ia tahu kakaknya menyukai Wisnu. Wajahnya merona dan pipinya kemerahan jika setiap kali mendengar nama Wisnu.


"Ssssst.. berisik ah. Di denger mamak nanti dek. Lo tau kan mamak ngga ngebolehin kakak lebih dari sahabat sama Wisnu."


'Andaikan boleh dek, udah gue ajak pacaran si Wisnu. Mamak sih, pakek acara bilang kalau persahabatan itu lebih indah dari pacaran. Kan jadi mati langkah gue.'


"Iya-iya, takut amat lo kak. Buruan berangkat, ga jadi deh gue nraktir lo mie ayam. PR gue kan ngga selesai."


"Terserah, gue bisa beli bareng Wisnu. Wlek.. " Rima pergi sembari menjulurkan lidahnya mengejek Riri.


Riri hanya bisa mematung, terbengong-bengong melihat sang kakak.


'Ngga biasa-biasanya tuh kakak kalau denger mie ayam ngga bakalan nolak. Dasar orang jatuh cinta mah kagak bisa ditebak.'


"Ehem.. maaf Wis agak telat, gue tadi bantuin Riri ngerjain PR." Rima mencoba berbicara kepada Wisnu. Ia sendiri bingung harus bicara apa, mendadak lidahnya menjadi sedikit kelu dan grogi.


"Eh.. apa Rim lo ngomong apa ngga denger gue." Wisnu sedari tadi melamun, Ia bingung harus menjelaskan kejadian semalam dari mana.


"Ngelamunin apa sih Wis, kok jadi ga fokus. Ngelamunin Syifa ya?"


'Upps.. kenapa gue keceplosan sih... Be*o,,, Be*o banget sih gue. Ketahuan kan kalo gue lagi cemburu.'


"Elo cemburu ya gue deket sama Syifa?"


'Assyiik ada yang cemburu nih.'


"Ng..ngga siapa yang cemburu, ye GR amat. Secara lo kan lagi deket sama Syifa. Ya.. kali aja lo lagi mikirin dia."


"Oh.. kirain lo cemburu. Padahal gue udah seneng kalo lo bakalan cemburu. Ternyata gue salah."


'Yang bener aja Wisnu seneng kalau gue cemburu. Maksudnya apa coba? Apa iya dia sukanya sam gue bukan sama syifa?'


"Emmm.. anu.. gimana ya wis. Kita kan temenan dari kecil. Gue nyaman kalo kita tetep temenan aja."


"Gue tahu kok gue siapa bagi lo, lo tenang aja gue akan tetep jadi sahabat setia lo."


'Ya **** gue berharap lebih sama lo Rim.'


"Sahabat selamanya, apapun yang terjadi, mau marah, seneng, sedih, susah apapun harus tetep jadi sahabat. Janji?" Rima mengajak Wisnu untuk bersahabat selamanya.

__ADS_1


"Gue ngga mau, kalau gue suka sama lo dan mau jadi pacar lo gimana?"


"Kok lo jahat banget sih sama gue Wis?"


"Bercanda gue, gitu aja marah. Katanya tadi sahabat selamanya, meski marah sekalipun. Mana buktinya gitu aja marah?"


"Eh.. iya-iya. Hahahaha, gue lupa."


'Gue seneng lihat lo ketawa Rim, gue janji gue bakalan lindungi lo gimanapun caranya. Dan buat lo ketawa.'


"Tapi, kalo kita saling jatuh cinta gimana wis?"


"Ya pacaran aja."


"Kalo putus gimana?"


"Ya sahabatan lagi?"


"Katanya tadi sahabat selamanya, emang boleh pacaran?" Rima berfikir keras supaya persahabatannya tak rusak.


"Hahaha.. iya ya. Habis lo konyol banget. Dari pada dipikirin mending dijalanin aja."


"Apanya?"


'Duh ga peka banget sih nih cowok.'


"Persahabatan dan cinta kita, kita posisikan aja sekarang sahabatan. Dan Gue siap jadi pacar lo kapan aja. Gue janji."


'Demi apa, dia tahu isi hati gue. Duh senengnya lo emang Wisnu yang gue suka. Tapi, gue gengsi bilangnya.' Rima membatin sambil tersenyum-senyum.


"Rim, Rima. Elo ga papakan? Gue panggil dari tadi diem aja. Lo kesambet?"


"Eh. iya ada apa wis?"


"Lo tuh kenapa senyum-senyum sendiri? Kita udah nyampek dari tadi. Lo ga sadar? Jangan-jangan lo lagi ngelamuni gue ya?"


Wisnu yang gemas dengan perubahan ekspresi Rima yang tersipu malu dengan wajah merah meronapun tergerak untuk mencubit hidungnya.


"Sakit tahu wis. Engga ya, gue cuma seneng aja mau ditraktir Riri mie ayam." Rima berbohong.


"Gue tahu, elo bohong kan? Elo ga bisa bohongin gue Rim?"


"Ah.. terserah deh."


Sambil cemberut Rima meninggalkan Wisnu diparkiran dengan bibir seperti mulut bebek. Cemberut dan sebal, karena sedari tadi Wisnu menggodanya.


Diam-diam ada yang mengintai mereka dengan tatapan menghujam. Tentu saja Syifa orangnya.


"Awas lo Rim, ternyata lo belum sadar juga berhadapan dengan siapa?"


Maaf, telat up. Masih pemadaman listrik di daerah kami. Maklum daerah pelosok.


Jangan lupa like, coment dan vote.

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2