CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
Bagaimana Rima dan Wisnu


__ADS_3

Tidak semua orang dapat mengatasi ketakutannya. Begitupun dengan Rima. Dokter telah selesai memeriksa keadaannya.


"Pasien tidak mengalami luka fisik, tidak ada bekas luka ditubuhnya. Kemungkinan Ia mengalami semacam ketakutan yang luar biasa. Sehingga Ia tidak dapat mengendalikan pikiran untuk mengatasi ketakutannya. Ini semacam phobia terhadap sesuatu. Atau Ia mengalami sebuah trauma yang membuatnya pingsan." Dokter yang memeriksa Rima menjelaskan penyebab Rima tak sadarkan diriĀ  kepada Wisnu dan Ali.


Wisnu mencerna setiap kata yang Dokter katakan. Ia mengingat di mana ia menemukan Rima. Di tempat itu terdapat beberapa ulat bulu.


"Apakah ulat bulu juga bisa menyebabkan phobia dok?" Wisnu bertanya dengan penuh penasaran.


"Ya, tentu saja jika pasien memiliki rasa takut atau rasa jijik yang berlebihan terhadap suatu objek dan ia tak mampu mengendalikan ketakutannya dapat mempengaruhi mentalnya. Ia bisa berteriak histeris atau juga pingsan." Dokter yang memeriksa Rima menjelaskan jika ulat bulu bisa menyebabkan seseorang merasa takut.


"Apakah Ia akan pingsan dalam waktu yang lama dok?"


"Itu tergantung pada kekuatan jiwanya. Kita doakan Ia segera sadar."


"Bolehkah saya masuk melihatnya dok?"


"Silahkan, saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya periksa." Dokter itu segera berlalu meninggalkan ruangan itu.


Wisnu segera masuk ke dalam ruangan di mana Rima terbaring tak berdaya. Hatinya tersa pilu melihat Cewek yang begitu periang kini berwajah pucat dan lemah.


Wisnu menggenggam tangan Rima, mencoba menyalurkan kekuatan padanya.


"Maafkan gue Rim, Seandainya gue tahu lo bakal ketemu Syifa. Pasti gue ngga izinin lo pergi sendiri." Wisnu mengatakannya dengan penuh penyesalan.


"Tidak... Jangan... Jangan..." Rima mengigau dengan raut wajah ketakutan dan peluh yang telah bercucuran.


"Gue di sini Rim, Gue di sini.. " Wisnu menatap kekasihnya dengan iba dan sesal.


Sedangkan Ali melihat ke dua sahabatnya dari pintu ruangan. Ia tahu Wisnu amat menyesal dengan kejadian yang menimpa Rima dan Wisnu juga amat mencintai Rima. Ia bingung dengan situasi ini. Ia tak bisa melihat Rima menderita. Ia juga tak bisa melihat Wisnu tersiksa jauh dari Rima.


'Seandainya gue punya kekuatan melawan Syifa. Pasti hal ini ga akan menimpa kalian berdua.' Ali juga menyesal tak dapat melakukan apa-apa.


Beberapa detik kemudian Ia teringat orang tua Rima. Pasti orang tuanya khawatir jika Rima tak kunjung pulang ke rumah.


"Wis, gue kabari orang tua Rima dulu ya! Gue yakin orang tuanya pasti cemas kalau dia belum juga pulang. Lo di sina aja jaga dia." Ali tahu Rima hanya berharap pada Wisnu, Ia berpamitan kepada Wisnu untuk segera menuju rumah Rima.


"Thanks ya bro." Hanya itulah jawaban yang terucap dari mulut seorang Wisnu. Ia tahu Ali juga sangat khawatir dengan Rima.

__ADS_1


Wisnu menatap kepergian Ali dari tempat duduknya. Ia tak ingin bergeser sedikutpun dari sisi Rima.


"Cepatlah bangun Rima, gue yakin lo cewek yang kuat."


Sayup-sayup Rima mendengar suara seseorang. Ingin segera Ia membuka matanya dan melihat apakah sosok yang berada di sampingnya adalah Wisnu sahabat sekaligus orang yang Ia sukai.


Kepalanya terasa pening, Ia mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia setengah terkejut mendapati Wisnu berada di sampingnya dan menggenggam tangannya dengan erat.


"G..gue di mana Wis?" Ia segera mengarahkan pandangannya ke tangan mereka dan ke sekeliling ruangan.


Kemudian ia menarik tangannya. Rima tak ingin orang lain melihatnya. Ia malu, Ia juga takut jika orang tuanya melihat mereka.


"Elo di klinik Rim. Kenapa lo ke sana sendiri? Kenapa lo harus jadi seperti ini? Kenapa lo ngga kasih tahu gue?" Wisnu segera memberondong Rima dengan bermacam pertanyaan.


Rima mengingat kejadin yang telah menimpa dirinya. Kemudian ia bergidik ngeri. Ia sangat takut dengan ulat bulu sejak kecil. Kepalanya menjadi sedikit pusing.


"Satu-satu dong nanyanya. Gimana gue bisa jawab. Kalau lo nanyanya kayak gitu."


Rima mencoba tersenyum menyembunyikan kepedihannya.


Wisnu yakin ialah penyebab Rima dibuli Syifa sampai pingsan.


"Gue ngga papa Wis, lo liatkan gue udah ngga papa."


Rima mengatakannya seolah Ia tak merasakn sakit sedikitpun, memang Ia tak merasa sakit pada tubuhnya, namun hatinya yang sakit.


Setelah kejadian ini, Ia tak tahu apakah Ia bisa selalu bersama Wisnu lagi seperti hari biasa. Ia takut jika Syifa berbuat lebih nekat dari ini.


"Engga, gue tahu lo sakit Rim. Lo pasti takut menghadapi ini sendiri. Gue akan selalu ada buat lo Rim. Gue memang udah gagal jagain lo. Tapi gue akan tetap berusaha buat kita selalu bersama. Gue akan selalu ada disisi lo."


Wisnu terus berusaha meyakinkan Rima, meski Ia tak yakin apakah Rima akan mau untuk terus disisinya.


"Maafin gue Wis, gue juga ngga yakin dengan diri gue. Apa gue akan berani menghadapi cobaan kita. Tapi lo tenang aja, gue akan tetap jadi sahabat lo. Meski kita harus sementara menjaga jarak."


Rima tak ingin menyakiti perasaan Wisnu, sebenarnya itu hanya alasannya saja agar Wisnu tak keras kepala memaksakan kehendaknya.


"Engga Rim, gue ngga bisa jauh dari lo. Waktu tiga tahun yang gue lalui tanpa lo begitu hampa. Lo ngga tahu betapa sepinya hidup gue tanpa lo. Hambar Rim, gue ngga bisa membuka hati gue untuk siapapun. Cuma elo yang bisa."

__ADS_1


Wisnu terus memohon, berharap Rima tak menjauhinya. Ia tak bisa membayangkan kehidupannya tanpa seorang Rima.


"Gue tahu ini hal yang sulit Wis, tapi gue mohon lo juga bisa ngertiin posisi gue. Gue harap lo ngga egois dengan memaksakan kita. Lo tahu dan lo kenal Syifa. Apa lo punya kekuatan ngadepin dia? Maksud gue apa lo punya kekuasaan melibihi Syifa Hah?"


Rima terpaksa mengeluarkan kata-kata yang tak enak di dengar oleh Wisnu. Itu melukainya. Namun ia tak mau luluh dengan rengekan Wisnu. Rima tak bisa menolak seorang Wisnu. Namun kali ini Ia harus menjadi seorang yang tegas. Tak ingin siapapun lagi terluka.


"Gue tahu diri Rim, gue tahu gue bukanlah cowok yang bisa diandelin. Bahkan jagain lo gue ngga bisa. Oke, gue ngga akan maksain kita. Gue akan jauhi lo. Gue harapa lo bisa menjalani hari-hari dengan bahagia tanpa gue disamping lo."


Wisnu mengatakannya karena ia emosi. Yang dikatakan Rima memang benar. Ia tak memiliki apapun untuk diandalkan. Meskipun ia bisa bela diri namun jika menghadapu kekuasaan apalah arti bela diri yang seseorang punya.


"Maafin gue wis, gue harap elo ngerti. Ini demi kebaikan kita."


Hal ini begitu menyayat hatinya. Rima tak percaya ia bisa melukai sahabatnya itu dengan sebuah kata-kata. Tak hanya itu tindakannya nantipun akan menambah lukanya. Namun ia sendiri tak tahu harus bagaimana. Ia juga menyayangkan Ia tak bisa lagi bersma Wisnu. Mereka sama-sama mersakan sakit.


'Maafin gue wis, andai lo tahu gue juga selalu seneng kalo kita bisa bareng terus. Tapi kondisinya kita lagi ngga bisa.'


Rima ingin menangis namun ia tahan. Melihat Wisnu yang sedari tadi diam dan melamun setelah mereka berbicara. Kini tak ada kata yang bisa mereka ucapkan. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Sampai Ali dan mamak Rima datang.


Untunglah Ali memberi alasan bahwa Rima pingsan karena kelelahan dan dehidrasi kurang minum setelah pelajaran olah raga. Ali mengatakan pingsan Rima setelah jam pelajaran usai. Ketika hendak pulang, Rima terkena terik matahari yang begitu menyengat. Jadilah ia pingsan karena kelelahan setelah mengikuti kegiatan olah raga dan terkena teriknya matahari. Sehingga ia kekurangan cairan.


Memang Ia sahabat yang bisa diandalkan. Ali juga telah membayar administrasi pengobatan Rima di klinik itu. Jadi mamak Rima tak curiga, Ia mengira sekolahnya telah membiayai putri sukungnya. Karena kejadian itu masih di lingkungan sekolah.


Mereka segera meninggalkan klinik itu. Ali cepat-cepat menyuruh mereka untuk pulang. Ia mencari berbagai alasan agar mereka segera pulang. Itu ia lakukan agar mamak Rima ta curiga.


Wisnu mengantar Rima pulang, sedangkan Ali memboncengkan mamak Rima. Mamak Rima dan Rima mengucapkan terima kasih pada kedua sahabat Rima. Rima segera memasuki rumah dan beristirahat. Ia lelah, ia tak tahu harus bagaimana.


"Makasih ya Al, gue tau elo emang ngga pernah punya maksut nyakitin gue. Untuk kedepannya gue titip Rima. Tolong jaga dia. Selama gue ngga di sampingnya. Gue sedikit lega kalo elo yang bisa jagain dia setelah gue."


Wisnu sebenarnya enggan meminta bantuan Ali, apalagi Ia tahu jika Ali juga menyukai Rima. Mau bagaimana lagi, untuk sementara hanya itu yang dapat ia lakukan.


"Maksut lo wis?"


Lama Ali, mencoba mencerna kata-kata Wisnu. Hingga Wisnu telah jauh dari pandangannya Ia baru bisa mengartikan apa maksut yang Wisnu katakan.


Sebenarnya Ia tak mau kalah sebelum perang, apalagi harus memanfaatkan situasi. Ia juga tak mau memaksa Rima untuk menerimanya.


Namun Ia akan berusaha menjaga Rima.

__ADS_1


__ADS_2