CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
Rima ngambek


__ADS_3

Ooo..Cantik Aku cemburu... lagu Dewa 19 terngiang di dalam kepala Wisnu.


Rima dan Awin saling berpandangan.. manik mata yang saling menikmati lukisan wajah dihadapannya. Membuat keduanya mematung seolah waktu berhenti berputar.


Setelah Rima membuka mata dan menyebut nama cinta pada pandangan pertamanya malah kini Ia berlama mematung terpana ketampanan Awin dengan jarak yang dekat.


'Kak Awin ganteng banget sih.. '


"Ehem.."


Awin berdehem, sengaja ia begitu karena ingin membuyarkan Rima yang tengah asyik menatapnya.


'Malu banget gue ketahuan mandangin dia.. Aduh mau ditaruh kemana muka gue? Panci mana panci'


Rimapun refleks menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu ngga papa dek?"


"Eh.. iya maaf apa kak?"


'Ih.. gerogi banget gue.. bisa nervouse banget. Eh kenapa jantung gue jadi senam ya?'


"Kamu ngga papa?" Awin mengulang pertanyaanya.


"Ngga.. ngga papa kok kak" Rima tersenyum setelah mengatakannya.


"hati gue yang ngga papa kak" Rima mengatakannya lirih.


Namun Awin mendengarnya samar. Dan mengerutkan alisnya.


"Apa dek? kakak ga denger. Coba ulangi?"


"Eh.. itu kak .. mmm kakak ga papa?"


Rima mendadak seperti orang bloon di depan cowok yang ia sangat sukai.


'Ih.. apaan sih gue bisa keceplosan gitu tadi.. Untung doi ga denger dengan jelas.. huuuf'


Rima membatin merutuki kecerobohannya.


"Engga papa kok dek." Awin tersenyum ketika itu dan membuat Rima meleleh melihatnya.


'Haish.. senyumanmu menawan sekali kak.'


"Namamu Rima kan?"


"Eh..kok kakak tau sih?"


"Itu dari bed nama di seragam kamu."

__ADS_1


"Eh.. iya.."


'Gue kira kak Awin nyari tahu nama gue juga.. eh ternyata.. gue yang kegeran.. hadeh..'


"Aku Awin Andala." Awin mengulurkan tangannya dan disambu oleh Rima. Akhirnya mereka resmi berkenalan.


"Rima Rayana Melati, bukan Rima mawar melati semuanya indah lo kak." Rima juga menyebutkan nama panjangnya.


"Hahaha kamu lucu juga ya dek." Awin tertawa mendengar Rima mengatakannya.


'Apanya yang lucu? Biasa aja juga kak. Eh tangan gue belum dilepasin.'


"hehehe.. iya gue bukan badut kak."


"hahaha tuh kan kamu beneran lucu dek."


**Rima : Apanya yang lucu thor? Bisa tolong dijelaskan?


Author : ngga tahu.. autor bingung juga.


Rima : dasar aneh author nih.. sama kayak kak Awin lah**..


Tiba-tiba Wisnu datang dan menyambar tangan Rima.


"Ayo Rim, dicari bu Eka." Tanpa persetujuan pemilik tangan Wisnu menggandeng dan menariknya menjauh dari hadapan Awin. Hatinya yang sedari gelisah melihat adegan mesra penuh tawa membuatnya kalang kabut dan tak lagi bisa membendung emosinya. Ia pun tak sadar sedang berbuat apa.


"Eh kok tiba-tiba sih Wis. Gue belum pamit sama kak Awin kan ngga sopan." Rima protes pada Wisnu.


"Apaan sih Wis?" Rima kesal.


"Lo tuh yang apaan, norak banget tau ngga? Lo tuh cewek Rim jual mahal dikit kenapa, murahsn banget jadi cewek."


"Lo tuh.. " Rima tersinggung dengan ucapan Wisnu.


"Kalau ngomong disaring dulu, ngga tahu kejadiannya udah nyerocos ngga jelas. Lepasin tangan gue." Rima menarik paksa tangannya yang sedari tadi digenggam Wisnu.


"Mau kemana lo Rim?"


"Terserah gue, suka-suka gue." Rima yang kadung jengkel segera beralalu dari hadapan Wisnu.


'Ganggua aja sih lo Wis, baru aja gue kenalan sama kak Awin. Siapa tahu gue bisa lebih deketkan dengan dia. Eh.. elo malah dateng. Bener-bener bikin kacau.'


Wisnu segera menyusul Rima yang telah berjalan beberapa meter darinya.


"Elo marah ya Rim?"


"Engga, gue lagi bahagia, bahagia banget."


"Maafin gue ya Rim! Eh.. nanti pulang sekolah beli es cendol favorit yuk lama kita ga minum es cendol pak sugeng." Wisnu berusaha merayu Rima yang kini ngambek berat.

__ADS_1


"Maksut lo apa sih Wis? Kekanak-kanakan banget tau ngga sikap lo tadi. Gue tau elo cuma nyari alasan doang kan supaya gue ngga deket-deket sama kak Awin. Bu Eka ngga dateng hari ini. Dan lo bilang bu Eka nyari gue. Alasan apalagi yang lo mau sampein hah?"


'Ah bodho banget sih gue, lupa gue kalo bu Eka ngga masuk hari ini. Ck.. sial.'


"Oke.. gue ngaku. Sekali lagi gue minta maaf. Gue ngga suka liat lo deket sama Awin. Gue liat dia ngga sebaik yang lo fikir. Dia mungkin mau manfaatin lo doang Rim, buat manas-manasin kak Mika."


"Mungkin wis? Mungkin juga gue bodoh udah mau orang yang dimanfaatin kak Awin. Tapi, gue ngga peduli. Yang penting gue bisa deket sama kak Awin yang pasti Kak Mika ngga bakalan gangguin gue. Ngga kayak Syifa yang benci dan dendam sama gue karena deket sama lo."


"Syifa nyakitin lo bukan gue yang nyuruhkan? Ayo dong jangan ngga masuk akal gitu!"


"Apanya yang ngga masuk akal, Syifa nyelakain gue karena lo terus-terusan nolak dia dan nempel ke gue terus."


'Alah tinggal bilang lo cemburu, pakek muter-muter segala Wis.'


"Terus mau lo apa? Gue jauhi elo dan deketin Syifa. Ok kalau itu mau lo?" Wisnu benar-benar emosi dengan Rima. Rima tak lagi memahami dirinya. Kini Ia menjadi orang berbeda baginya.


"Ya.. ngga gitu juga sih Wis."


"Terus apa Rim? Gue ngga boleh deket sama Syifa? Sedangkan lo bisa deket sama kak Awin. Egois banget sih jadi cewek."


"Gue emang egois, jadi jangan deketin gue lagi." Rima tak terima dirinya dikatakan egois. Faktanya memang ia sangatlah egois. Tak ingin Wisnu dekat dengan Syifa. Namun ia juga ingin mendekati Awin.


"Argh.. ribet banget sih ngadepin cewek ngambek."


Wisnu sedikit frustasi menghadapi Rima yang tengah merajuk. Lelaki memang selalu salah di matanya kecuali Awin.


Wisnu kembali mengejar Rima. Ia berusaha membujuk wanitanya untuk tak marah lagi padanya.


Rima sengaja mengabaikan Wisnu. Masih kesal, itulah yang ia rasakan. Namun tak dipungkiri ia juga iba melihat Wisnu yang sedari tadi ia acuhkan. Kata-kata Wisnu tadi membuatnya tersinggung.


'cewek murahan? cewek gampangan? Ish.. penilaian macam apa itu? Gue tunjukin gue bukan cewek murahan dan gampangan. Rasain karena lo udah nyakitin gue w iis.'


"Rima..." Wisnu terus-terusan m _ emanggil Rima.


Rima masih saja mengabaikan Wisnu hingga mereka sampai ke dalam kelas. Mereka harus kembali memfokuskan diri mengikuti pelajaran. Wisnu gelisah, meski ia berusaha untuk fokus. Rima masih ngambek itulah alasan yang membuatnya tidak tenang.


"Wisnu coba kamu kerjakan soal yang ada di papan tulis." Pak zainal guru IPA itu menyuruh siswa yang sedari tadi dilihatnya melamun.


Wisnu maju kedepan dan mengerjakannya dengan benar.Rima yang melihat itupun kagum.


'Baru tahu gue, kalau dia sekarang jadi jago pelajaran IPA. Sejak kapan?'


Satu hal lagi yang membuat Rima kagum. Entah apalagi yang membuat Rima akan terkagum-kagum dengan Wisnu.


Setelah jam sekolah usai. Rima pulang dengan Ali seperti biasa. Semenjak kejadian Ia diserang Syifa. Ia tak lagi bareng Wisnu.


"Tunggu Al, Rima pulang barebg gue."


"Elo lagi Wis, Apasih mau lo hah?"

__ADS_1


Apakah kedua sahabat itu akan bertengkar lagi? Entahlah. Rima benar-benar lelah dengan hubungan persahabatan mereka. Ia tahu Ali tengah melindunginya dari Syifa. Sedangkan Wisnu keras kepala tak bisa jauh sedikitpun dari Rima.


Hallo guys.. maaf ya upnya lama. Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, coment dan vote..


__ADS_2