CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
PENSI 1


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti seluruh siswa kelas XII Manggalang Prestasi . Ruang Aula kini dipenuhi berbagai balon dari Pintu masuk hingga panggung pementasan.Pernak-pernik pesta lainnya menambah kesan ruang Megah itu menjadi begitu meriah. Satu set alat band terpajang di sana. Panitia Pensi telah menyiapkan beberapa acara. Seluruh persiapan dan dekorasi selesai dipersiapkan dengan matang dan sempurna. Begitupun dengan Rima yang sedari tadi sibuk berdandan. Dari memilih gaun yang akan Ia gunakan, hingga model rambutnya. Pilihannya jatuh pada dress berwarna putih berlengan pendek dan untuk rambutnya ia gerai dengan jepit rambut kupu-kupu.


“Mmmm, Sepertinya sudah siap tinggal berangkat gue. Eits.. tunggu dulu, gue berangkat sama siapa nih..? Masak gue beneran sendiri? Minta antar Adek gue mau ga ya?” Rima terus berfikir bersama siapakah dirinya pergi ke acara itu.


“Dek, anterin kakak yuk ke sekolah?” Rima minita tolong kepada Riri adik perempuannya itu.


“Ihhh... ogah malem-malem nganter lo ke sekolah yang ada ntar gue pulang sendiri terus jemput lo lagi. Repot banget, temen kakak pada kemana sih? Bareng kak wisnu kek, temen lo yang lain kek?” Riri Enggan untuk mengantar kakaknya itu.


“Mak, liat nih Riri ga mau anter kakak.” Rima mengadu pada mamaknya sambil mencebikkan bibirnya.


“Riri sibuk buk, masih banyak PR lho.” Riri mencari alasan agar tak mengantar sang kakak. Kedua beradik itu memiliki sifat yang berbeda. Kakaknya sedikit feminim, sedangkan adiknya tomboy. Panggilan untuk ibu merekapun berbeda. Jika sang kakak memanggil Emak, sedangkan adiknya memanggil Ibu.


Bu Rusmini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kakak beradik yang tak pernah akur itu.


“Berangkat sendiri aja kak, pakai motor bapak kan udah ga dipakai kalau malam gini.” Saran Bu Rusmini pada Rima.


“Idih, no way, kakak kan pakai dress mak. Ya masak iya pakai motor sendiri?” Kelah Rima, padahal Ia tak mau terlihat berangkat sendiri.


“Wisnu kemana emangnya, kok ga bisa bareng?”


“Tau tuh, sibuk kali dia.”


“Ha..ha..ha.. Kasian deh lo kak, berangkat sendiri.” Bukannya mengantarkan sang kakak, Riri malah mengejeknya.


“Lihat mak, anakmu godain kakak.”


“Sudah-sudah jangan berantem terus. Buruan berangkat kak, nanti terlambat lho.”


“Iya mak, Rima nungguin kabar dari Ali dulu siapa tahu bisa bareng.” Rima berusaha keras agar tak datang sendiri.


“Terserah kakak aja deh, yang penting pulangnya jangan malem-malem.” Pesan Bu Rusmini kepada Putri sulungnya.


“Iya mak.” Sembari tersenyum.


“Hati-hati di jalan.”


“Iya mak, iya. Kakak berangkat ya. Titip mamak dek, awas ntar dijahilin Si Gembul sama bapak.” Rima menitip pesan kepada Riri agar menjaga Ibunya dari adik laki-laki bungsunya dan Ayah mereka.


“Lo tenang aja kak, pasti gue jaga Ibu gue yang unyu-unyu ini, dari gangguan mereka.” Riri meyakinkan sambil memeluk ibunya dengan erat dan sekali-kali mendaratkan ciuman padanya.


“Gue Cuma titip, awas kalo sampek lo sabotase mak gue.” Rima memberi ancaman dan mengacungkan jari telunjuk ke wajah Riri.


“Sensi amat sih, Hush.. sana.. Hush.. Hush.. Jauh-jauh dari Ibu gue.” Riri mengusir kakak sulungnya dan mendorongnya keluar rumah.

__ADS_1


Bu Rusmini hanya tersenyum geli mendengar percakapan ke dua putrinya itu.


“Ali, lama bener sih. Bisa ngakar gue duduk di sini.” Gumaman lirih itu berasal dari Rima yang sedang duduk di depan teras rumah smebari menungggu Ali.


TIIIN..TIIIN.. terdengar bunyi suara klakson sebuah sepeda motor.


“Ah.. akhirnya datang juga si Ali baba.” ‘Lega rasanya lo datang Al’


“Cepet naik non, keburu telat nih.”


“Eh lo tuh yang datangnya kelamaan.”


“Gue kan musti puter balik. Rumah lo ga searahkan sama rumah gue.” Kilah Ali. ‘Cantik juga si Rima kalau dandan gini. Selera lo emang ga salah Wis.’


“Iya gue ngerti, Naik nih gue.”


“Sudah belum?” Ali memastikan sang Nona Rima naik ke Mogenya.


“Sudah.” Jawab Rima singkat sembil membetulkan helmnya.


“Kalau sudah turun, kenapa naik?” Canda Ali.


“Apaan sih.. ga lucu tau.” Rima hanya tersenyum kecut sambil memukul punggung Ali dari belakang.


“Bodo amat.” Rima menanggapi dengan keki. ‘Lo sama Wisnu sama aja nyebelin.’


Merekapun segera melaju, menembus angin malam menyusuri jalan ke Acara itu.


Dari kejauhan nampak seorang lelaki mengamati mereka yang hendak pergi dengan diiring candaan dari keduanya. Sudah dapat dipastikan laki-laki itu adalah Wisnu. Tak sengaja Ia melihat mereka ketika hendak pergi acara PENSI dan melewati rumah Rima. ‘Dasar pembohong, lo bilang mau berangkat sendiri Rim. Lo malah berangkat bareng Ali. Gue Cuma mau lo memohon ke gue waktu itu, ternyata gue salah menolak ajakan lo.’ Sesak yang ia rasakan di dadanya. Wisnu mulai terbakar cemburu melihat Rima berboncengan dengan pria lain.


..........................................................................


Terdengar suara musik dugem yang menggema memekakkan telinga. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton Pensipun menambah keseruan.


WUUUUUUHHHHH.....


WUUUUUUUHHHHH....


Mereka berteriak-teriak kegirangan, lampu sorot yang diatur sedemikian rupa dengan DJ dan musiknya benar-benar membuat mereka berada di Pesta yang begitu menakjubkan.


“Kita terlambat ga nih Al?”


“Mana gue tau, makanya cepetan turun non.”

__ADS_1


“Gue kan pakek dres Ali Baba, mana bisa cepet-cepet turun.”


“Ribet amat jadi cewek.” Ali mendadak sewot ketika dirinya dipanggil Ali Baba.


Keduanya segera menuju Pesta kakak kelas mereka. Syukurlah Pesta belum dimulai.


“Waaah.. gila keren banget. Ini tuh keren banget Al.” Rima sangat takjub denga Aula yang kini sudah disulap semeriah mungkin.


“Biasa aja non, norak banget sih lo.” Sebenernya Ali juga menaruh rasa pada Rima, tapi Ia tahu Wisnu juga menyukainya. Akhirnya Ali mengurungkan cintanya itu dan menguburnya. Kini yang Ia bisa lakukan hanya membentengi diri untuk tidak tergoda denga Rima. Jadilah Ia ketus dan menyebalkan.


“Yeee.. sewot aja.” Rima pun menghampiri Eva yang sudah ada dibarisan penonton dan meninggalkan Ali yang sedang sibuk menata hati.


“Acara belum dimulaikan va?” Rima bertanya pada Eva dan meyakinkan dirinya bahwa acara belum dimualai.


“Belum, bentar lagi kali.” Eva menyahuti dan fokus ke arah panggung. Tiba-tiba Ia mengajak Rima untuk berada di barisan depan penonton.


“Ke depan yuk.” Eva sudah menarik tangan Rima untuk berdiri di depan panggung.


Kini MC sudah memegang Mic dan segera memulai acara.


“Selamat malam Ladies and Gentleman, Salam sejahtera bagi kita semua. Yang terhomat kepada Bapak kepala Sekolah beserta dewan guru dan seluruh staf yang hadir pada malam ini. Acara yang kita nanti-nantikan akan segera dimulai. Izinkan saya untuk memandu acara pada malam hari ini. Dan terima kasih kepada segenap panitia yang mewujudkan PENSI kita pada malam hari ini. Terkhusus untuk ketua osis kita yang cantik jelita. I love you.” Mc itu mengatakan I love You sambil mngedipkan sebelah matanya kepada ketua Osis mereka yang tampil anggun dan berkharisma itu.


“WUUUUUUUU....” Penontonpun menjadi riuh dan berteriak-teriak tak terima. Hahaha konyol sekali MC nya. Batin mereka.


“Mari kita sambut dengan tepuk tangan atraksi Pencak silat perwakilan siswa dari kelas 8.2. Selamat menyaksikan.”


“Siswa kelas 8.2, siapa?” Rima penasaran dan menanti-nantikan siapa yang akan tampil.


Suara tepuk tangan menyambut sesorang yang keluar dari balik panggung, sembari berteriak-teriak dan menyebut namanya.


“Wisnu... Wisnu...Wisnu...” Mereka berteriak-teriak menyebut nama Wisnu sedangkan Rima melongo, terbengong-bengong tidak percaya.


‘Sumpah demi apa? Wisnu jago Silat! sejak kapan? Wow... keren banget tampangnya kenapa mendadak berkharisma gitu sih. Cool banget, benar-benar tampan lo sekarang Wis. Baru juga lo baca doa sebelum mengeluarkan jurus Seni pencak silat lo, tapi udah bikin gue klepek-klepek.’


“Minggir-minggir!” Suara Syifa merusak kesenangannya menatap teman kecilnya itu yang sedikit bermetamorfosis. Cewek itu menerobos dan menggeser posisi Rima.


‘Sakit jiwa nih cewek.’ Rima membatin dan menatap Syifa dengan tidak suka. Begitupun Syifa menatap Rima dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Oh... jadi lho yang namanya Rima? Norak banget sih dandanan lho.” Syifa berkata pada Rima dengan nada sinis dan menghina.


Rima hanya tersenyum dan mengabaikannya. Ia males meladeni bocah yang baru ia temui malam itu. ‘Kurang kerjaan banget sih nih bocah, mau mancing emosi gue. Coba aja kala lo bisa’ Rima mengatakan dalam hati. Ia kembali menonton atraksi dari Wisnu. Berbagai jurus telah Ia tampilkan.


“Keren wis...keren.” Rimapun ikut berteriak-teriak seperti penonton lainya. Dan sengaja Ia dekatkan teriakannya ke arah Syifa. Syifapun terlihat sangat kesal.

__ADS_1


‘Berani-beraninya lo bikin gue kesel. Awas lo Rim, tunggu waktu lo berhadapan dengan gue nanti.’ Syifa berencana untuk mengerjai Rima.


__ADS_2