CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
PENYESALAN WISNU


__ADS_3

Hati siapa yang tak pilu melihat sang kekasih terluka. Begitu menyayat hati, betapa tak bergunanya diri ketika tak mampu melindungi.


"Hahaha ****** tuh cewek, siapa suruh deket sama kak Wisnu." Syifa tertawa terbahak senang karena berhasil mengerjai Rima.


"Tapi, dia ga papakan ditinggal sendiri di sana, gue khawatir kalo dia ..?" Salah satau gengnya terlihat khawatir.


"Biarin aja, biar sekalian ******." Cepat-cepat syifa memotong pertanyaan temannya dan mengatakannya dengan geram.


'Akhirnya gue bisa ngerjain lo juga Rim. Rasain lo. Gue yakin setelah ini lo ga bakalan berani deketin kak Wisnu lagi.'


Ternyata Wisnu sayup-sayup mendengar percakapan mereka.


'Ngga ada habis-habisnya mereka ngerjain orang. Jangan-jangan? Perasaan gue tiba-tiba ngga enak. Ya Tuhan lindungilah dia.


Wisnu mendadak teringat dengan Rima yang sedari tadi belum muncul juga, seharusnya Ia tak butuh waktu lama untuk menyerahkan formulir di ruang osis.


Wisnu mencari ke sana tak ia dapati sahabatnya di sana. Ia berlari ke kelas mereka, mencari petunjuk di sana. Ia menemukan secarik kertas yang diberikan adik kelasnya tadi kepada Rima.


Ia bergegas menuju halaman belakang sekolah. Berlari, berharap tak terjadi sesuatu yang mengerikan. Kepanikan kini menguasai dirinya.


Mendadak langkahnya terhenti, Wisnu melihat cewek yang teramat Ia sayangi tergolek di sana. Ia dekati gadis yang terlihat pucat pasi dengan baju yang basah kuyup, bau dan kotor.


"Rim, Rima...Rima bangun Rim..."


"Gue di sini, lo jangan becanda Rim. Buka mata lo. Bangun Rim, Rimaa..."


Wisnu menggoncang-goncang, memanggil mencoba menyadarkan Rima, kemudian Ia mendekap gadis yang tak sadarkan diri itu akibat pingsan karena ketakutan.


"Maafin gue Rim, gue ngga bisa lindungi lo. Maafin gue." Wisnu membisikkan kata maaf di samping telinga Rima. Ia sangat menyesal telah gagal melindungi sahabat terkasihnya.


"Rimaaa..." Wisnu memangil gadisnya lagi, namun nihil yang Ia panggil tak kunjung membuka matanya. Ia begitu sakit dengan apa yang Ia lihat. Jika bisa biar dia saja yang merasakan sakitnya, tapi tidak untuk melihat gadisnya terluka. Itu lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Rimaaa.. bangun.., Elo harus kuat. Gue di sini, gue mohon buka mata lo Rim.." Wisnu terus menepuk-nepuk pipi Chuby Rima terus berusaha membangunkannya. Tak kuat Ia menahan sesak kepiluan di dadanya. Ia mulai menangis.


"Aaaarghhh...! " Wisnu frustasi karena Rima tak segera sadarkan diri. Ia segera menggendong gadisnya itu menuju parkiran. Ia harus membawanya ke klinik terdekat. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Rima. Ia tak kan memafkan dirinya sendiri.


Ia tak menghiraukan baju Rima yang basah dan bau air comberan yang menusuk hidungnya. Kekhawatirannya lebih menusuk hatinya.


'Bodoh.. bodoh.. bodoh.. banget si lo Wis, jagain cewek yang lo sayang aja ga bisa.'


Wisnu merutuki kebodohannya sendiri, yang


tak mampu menjaganya.


Setelah sampai di parkiran, Ia segera menyambar jaketnya dan memakaikan ditubuh Rima. Ia agak kesulitan karena posisi Riima yang tengah pingsan.


Ali yang melihat kejadian itu, sontak tersulut emosi dan mendekati mereka.


"Lo apain dia?" Ali bertanya dengan nada membentak.


"Elo masih bisa gengsi ga minta bantuan gue Wis?" Ali segera membantu Wisnu. Ia memindahkan Rima duduk di tengah. Wisnu segera melajukan motornya.


Mereka menjadi sorotan beberapa siswa yang belum pulang. Mereka tak peduli yang terpenting Rima harus segera mendapat penanganan dari pihak medis.


Mereka segera membopong Rima ke dalam klinim dan berteriak-teriak memanggil tim medis di sana.


Kini Rima sedang dalam pemeriksaan dokter klinik yang bertugas hari itu. Sedangkan Ali dan Wisnu malah bertengkar membuat suasana klinik menjadi gaduh.


"Ini semua gara-gara lo. Kalau sampek terjadi apa-apa sama dia. Lo harus siap-siap jaga jarak dari dia. Ngerti lo...!" Ali mengatakannya dengan nada ancaman dan kedua tangannya yang mencengkram kerah seragam Wisnu.


Wisnu segera menepis tangan Ali.


"Ini urusan gue sama Rima, ngga ada hubungannya dengan lo."

__ADS_1


"Bagus.. dengan lo terus berada dekat dengan Rima. Gue pastikan kejadian yang lebih parah dari ini bakal kejadian lagi sama Rima. Dan gue ga mau itu terjadi. Elo tau kan Syifa gimana. Cewek ngga waras di sokolah kita. Bisa lo pastiin ke gue kejadian kayak barusan ngga terjadi."


"Ke mana lo wis, disaat dia butuh elo. Kenapa lo sampek kecolongan Hah..? Pada kenyataanya lo gagal nglindungi dia kan? Lo ngga pantes untuk ngedampingi dia?" Ali menerocos pangjang lebar. Hatinya juga teriris melihat cewek yang Ia suka harus mengalami peristiwa buruk di sekolahnya.


BUG..


Bogem mentah kini mendarat di pipi Ali. Wisnu begitu tersinggung dengan kata-kata Ali. Kejadian buruk yang menimpa Rima bukanlah kemauannya. Meskipun hal itu terjadi karena dirinya. Karena Syifa menyukainya. Ia tak habis fikir, remaja jaman sekarang bisa berlaku nekat dan gila. Apa yang mempengaruhi mereka begitu brutal.


Mereka mendapat inspirasi dari mana? Dari film, novel atau dari lingkungan mereka yang memang keras.


Cinta monyet begitu membutakan remaja jaman sekarang. Banyak sisi lain yang lebih penting ketimbang cinta kepada lawan jenis di usia belia. Kenapa memilih mementingkan ego untuk hal itu. Mestinya mereka bisa mengalihkannya kepada hal yang lebih positif. Mengembangkan diri dengan banyak prestasi akan jauh lebih mengundang perhatian cowok , ketimbang memilih berebut dengan berbuat yang tidak-tidak. Hal ini akan membuat mereka menjadi besar kepala dan seenaknya menindas kaum hawa.


Ali memejamkan matanya merasakan perih di wajahnya akibat pukulan sahabatnya itu. Ia tak menyangka, sahabatnya akan melakukan hal itu. Sedari dulu mereka tak pernah bertengkar. Namun kini karena seorang wanita mereka bertengkar.


"Brengsek lo wis."


BUG...


Ali membalas pukulan Wisnu. Wisnu tak menyangka dirinya telah memukul sahabatnya itu. Ia tak percaya dengan dirinya, Ia juga tak menyangka Ali akan membalas pukulannya. Ia membiarkan Ali melakukannya. Karena Ia memang seorang pecundang yang tak bisa menjaga sahabat-sahabatnya.


Wisnu berjalan mundur merapatkan dirinya pada dinding luar ruangan di mana Rima di periksa. Ia menangkupakan kedua tangan di wajahnya. Dan perlahan merosotkan tubuhnya kebawah. Kini Ia berjongkok kemudian terduduk lesu.


Begitu rumit mengartikan persahabatan dan cinta. Nyatanya Ia telah melukai kedua sahabatnya. Perasaan bersalah terus merongrong relung hatinya.


"Maafin gue Al" Wisnu meminta maaf dengan tulus.


"Dengan satu syarat."


"Apa? Jangan bilang kalau gue harus ngejauhi Rima?"


"Kalo lo ngga mau, itu terserah lo. Kalau sampek Rima kenapa-napa lagi dan itu gara-gara elo. Gue sendiri yang akan pastikan elo ngga akan berada di deket Rima lagi untuk kapanpun." Ali mengatakannya dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2