
@ Apa Kabar ?
Teng...! Teng...! Teng....!
Seluruh siswa SD, SMP, SMA Swasta Menggalang Prestasi bersorak sorai mendengar suara lonceng sekolahnya berbunyi. Hal itu menandakan mereka bisa pulang ke rumah. Sekolah yang terkenal dengan sebutan ‘Sekolah Sejuta Prestasi’, membuat kalangan bawah sampai atas berlomba untuk memasukkan anaknya ke sana. Pasalnya sederet piala telah diperoleh dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional bahkan Manca Negara. Piala yang mereka peroleh terpajang rapi pada rak kaca di lobi sekolah menandakan prestasi sekolah megah itu benar adanya. Tak hanya di sana ruang Kepala Sekolah dan kantor gurupun ikut penuh karenanya.
“Eh..Wis, pulang sekolah ajari gue ya!” Teman sedari SD nya itu mengajak wisnu untuk berlatih Pencak Silat.
“ Sorry Al gue harus ke rumah Rima. Gue kepengen tau kabar dia.”
‘Andai lo tau Al, gue lagi galau berat. Ibarat kerinduan ini bisa meletus, pasti gedenya udah kayak gunung. Ini pasti gara-gara gue mimpiin Rima tadi malam. Seandainya lo ga pindah sekolah Rim, pasti kita lagi sekolah bareng. Ngebayanginnya aja udah bikin gue seneng apalagi kalau beneran, bakalan bahagia banget deh.’
“Emang kenapa wis, mimpi aja lo fikirin? Lo cuma kangen aja kali.” Ali heran dengan tingkah wisnu yang begitu khawatir dengan mimpinya itu.
‘kenapa lagi sih ni anak? konyol banget.’ Ali membatin.
“ Nah justru itu Al, di mimpi gue semalem, si Rima tuh ninggalin gue.” Jika mengingat mimpinya itu, Wisnu semakin merasa tak tenang.
“ Takut bener ditinggalin. Nih ya gue kasih perumpaman, ibaratkan pepatah tuh Mati satu tumbuh seribu.” Ali mencoba menyemangati sobatnya itu. Namun yang disemangati malah semakin terlihat murung.
__ADS_1
‘Gue iri sama lo wis, meski tampang lo kusut kayak gitu, masih aja kelihatan tampan dan kece.’ Ali sangatlah iri dengan kegantengan yang dimiliki wisnu. Karena wajahnya yang ganteng jadi incaran cewek di sekolahnya. Sedangkan Ali ibaratkan body guard bagi Wisnu. Jika wisnu tak suka akan keberadaan mereka maka Ali akan mengusirnya. Sangatlah apes nasibnya itu. Jika satu saja cewek yang ditolak Wisnu mau dengannya. Alangkah senangnya Ia.
‘Andaikan, tampang gue tampan juga wis. Pasti lo akan saingan sam gue.’ Lagi-lagi Ali membatin.
“ Lama juga tuh bocah ngga pulang. Apa kabar dia di sono ya?” Ali tau sahabatnya paling sensitif jika berkenaan dengan Rima.
“ Makanya gue pengen mastiin keadaan dia gimana? Sekali lagi maaf ya, lain kali akan gue usahakan.”
“ Ok.. gue ngerti kok.”
Kedua remaja itupun segera keluar kelas menuju parkiran sekolah. Mereka harus menuruni anak tangga dari lantai 2 ke lantai 1, karena letak kelas mereka di lantai 2. Mereka akan sampai setelah melewati kelas lain dan berbelok ke arah samping dekat kantin yang berderet rapi. Parkiran yang begitu luas dengan beberapa tiang penyangga membuat bangunan itu terlihat kokoh.
Meskipun tak sebagus milik teman yang lain. Kebanyakan siswa di sana menggunakan Ninja atau motor gede lainnya. Ia tak merasa malu ataupun minder. Yang terpenting baginya, Ia dapat segera sampai ke sekolah dengan cepat ketimbang terjebak macet ketika Ia naik angkot. Pekerjaan paginya itu tak boleh dijadikan sebuah alasan untuk datang terlambat. Ia tak ingin dikasihani.
“ Wis.. ada yang nyari elo tuh..!” Ali menunjuk seorang siswi perempuan di sekolahnya yang tengah menghampiri mereka berdua.
“ Siapa? Rima ya?” Wisnu berkhayal jika yang datang mencarinya adalah Rima. Ia juga tahu jika hal itu tidaklah mungkin.
“ Dasar.. dalam fikiran lo tuh Cuma ada Rima.. Rima.. dan Rima. Move on bro.” Ali menonyor kepala wisnu, Ia gemas dengan sahabatnya yang kini tengah bersiap memakai helm di tangannya. Ia tak habis fikir kenapa sobatnya itu tak juga melupakan Rima.
__ADS_1
“ Jangan Gr lo, siapa tau dia Cuma mau lewat. Cabut yuk!” Wisnu sengaja menghindar dari Syifa, Ia tak mau memberikan harapan palsu. Syifa bukanlah satu-satunya cewek yang Wisnu tolak.
Wisnu menjadi cowok incaran Syifa sejak lama, meski Syifa tahu bukan hanya syifa seorang yang memburu Wisnu untuk dijadikan pacar. Tentu saja karena tampangnya yang ganteng, tubuhnya yang tinggi dan bersi serta senyumnya yang menawan membuat siapapu yang melihat pasti akan terpesona. Ditambah lagi Ia memilik sederet prestasi.
Meskipun hal itu sangatlah wajar bagi mereka yang kini sedang memasuki masa puber seorang remaja tanggung. Wisnu terkadang jengah dengan situasi yang seperti itu. Harusnya mereka punya aktivitas lain, selain mengagumi dirinya.
‘Ah... seandainya Rima yang menjadi salah satu penggemarku.’ Lagi-lagi wisnu berkhayal.
Sebenarnya bisa saja Wisnu menerima cewek-cewek yang mendekati dan memutuskannya jika bosan. Namun Ia tak mau menjadi cowok gampangan dan di cap Playboy. Ternyata itulah salah satu alasan Syifa untuk terus mengejar cinta sang idola sekolah. Semakin Ia ditolak, semakin Ia menginginkannya.
‘kan ku kejar cintamu sejauh mana engkau bisa menghindar, sejauh itu pula usahaku mendapatkanmu.’ Itulah tekat yang tertanam di dalam diri syifa. Apapun yang menjadi keinginannya harus ia peroleh. Bagaimanapun caranya.
BISAKAH SYIFA MENGGANTIKAN POSISI RIMA DI HATI WISNU?
Tunggu kisah selanjutnya. Akan diusahakan UP setiap hari.
Like, coment dan Vote dari readers akan menambah semangat Author untuk terus menulis....
Terima kasih...
__ADS_1