CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
Sama-sama dihukum


__ADS_3

Hari-hari tanpa Wisnu bagi Rima sangatlah hampa dan hambar begitupun Wisnu tanpa Rima begitu sepi dan sunyi sekalipun dalam suasana ramai.


Di ruang yang sama tanpa menyapa, tanpa bicara, dan tanpa bercanda. Hanya saling mencuri pandang yang dapat dilakukan keduanya.


Seminggu telah berlalu sejak kejadian pingsannya Rima akibat pembulian yang dilakukan Syifa padanya membuat kedua remaja itu kini nampak tak bersemangat dan layu.


"Tumben lo diem aja, biasanya nyerocos kayak bebek?" Eva menanyai teman sebangkunya itu.


"Gue lagi ga mood." Rima mengatakannya sambil nyengir.


Wisnu yang melihat Rima yang berekspresi seperti itu dari kejauhan menjadi gemas dan ingin sekali mencubit pipinya.


'Andaikan gue sama lo lagi ga dalam mode hening udah gue bikin lo teriak-teriak sambil ngejar-ngejar gue karena gue usilin. Kapan yah gue bisa liat lo ngambek lagi? Jadi kangen banget gue sama lo Rim.'


Wisnu kesal dengan situasi ini membuat mereka tak bisa saling bercengkrama dan bersenda gurau seperti biasa membuat cowok berwajah tampan itu sangat rindu pada cewek periang nan manis yang kini berubah menjadi sedikit murung.


"Hayoo.. ngelamunin apaan sih Wis?" Ali mengagetkannya.


"Kayak ngga faham aja lo bro?" Wisnu kembali menatap Rima.


"Gue tau kok, ngeliat seminggu kalian kayak gini gue jadi kasihan. Kalian tuh udah kayak Ikan berenang di sungai yang airnya tinggal sesenti. Klepek..klepek." Ali menyerocos sambil mempraktekan gaya ikan yang kehabisan air dengan lidah dijulurkan, matanya melihat ke atas setengah tertutup dan badannya ia miringkan sedikit di hentak-hentakkan ke depan.


Wisnu hanya tersenyum simpul, sebenarnya ia ingin tertawa terbahak, namun ia menjaga hati Rima. Tak ingin cewek yang disukainya menjadi tambah murung jika melihatnya bisa tertawa dalam mode hening antara mereka.


"Garing tau gak." Wisnu mencoba menghentikan tingkah konyol sahabatnya itu.


"Yee.. lucu tau.. nyatanya lo mau ketawa. Ketawa aja. Jangan di tahan entar kalo di tahan lo malah kentut entar." Ali mencoba melawak kembali namun gagal.


"Garing-garing, sumpah elo tuh garing Al. Ngga bakal lolos lo ikut stand up komedi. Bakat lo apa coba, mau sok-sokan kayak dodit bisa main piano kagak. Tampang doang yang mirip.. hahaha.. " Wisnu malah tertawa sendiri dengan kata-katanya.


"Siapa?" Tanya Ali.


"Kamu, Iya Kamu." Wisnu mengikuti dialeg Dodit. Kedua sahabat itupun tertawa dengan tingkah gesrek mereka.


Wisnu tahu Ali mendambakan menjadi komika terkenal. Namun lawakannya selalu garing dan tak pernah lolos audisi. Sungguh malang nasib Ali.


"Oh kasihan.. sangat kasihan..sungguh kasihan... " Wisnu malah bernyanyi mengejek Ali di depannya.


Yang diejek hanya bersungut kesal. Sedang Rima yang diam-diqm memperhatikan merekapun tersenyum.


'Tak apalah yang penting, gue bisa liat lo senyum dan liat lo setiap hari baik-baik saja, gue udah seneng banget Wis.'


Wisnu menyadari dirinya sedang ditatap Rimapun segera tersenyum padanya. Membuat hati Rima berbunga-bunga Iapun menjadi salah tingkah. Sebelum berbalik, mengalihkan pandangannya Rima membalas senyum Wisnu. Namun, Wisnu malah mengerlingkan matanya sebelah. Membuat Rima tambah salah tingkah.


'Apaan sih, genit banget jadi cowok, sok kecentilan. Nyebelin, Gimana gue bisa jauh-jauh dar**i dia coba. Rasanya tuh pengen nimpuk, tapi kagak bisa. Huuh...'


Rima menyayangkan kondisi mereka sekarang. Andaikan Ia super hero yang punya kekuatan melawan Syifa. Mungkin Ia akan bisa melewati rintangan percintaannya dengan Wisnu.


Ketika tengah asyik berandai-andai, sebuah kertas mendarat di hadapannya. Rima segera mengambil dan membacanya.


"Mau kantin bareng nggak?"


by :W

__ADS_1


Rima menerka siapa pemilik kertas itu, W dikelasnya hanya Wisnu. Sedangkan W personil dari grup 4W yang lain terpisah dari kelasnya.


Ia membalas surat pendek itu.


"Engga, gue masih takut sama mak lampir. Wk..wk..wk.."


Begitulah balasan Rima. *Mak lampir* yang Rima maksut tentu saja Syifa.


Mereka jadi saling lempar kertas yang berisi candaan. Namun malang nasib keduanya ketika surat melayang tepat di wajah pak Mahesa guru ter... ter-fenomenal menjadi jomblo akut di sekolahnya.


Ketika memasuki kelas, bukan mendapat sambutan salam malah secarik kertas yang berbentuk bulat menyerupai bola kasti menghantam wajah kakunya.


"Siapa yang lempar kertas? Ngaku, atau hukumannya ditambah."


Pak Mahesa mengatakan dengan wajah datar dan senyum tipis yang ia tahan hampir tak nampak tersenyum. Sudah terbayang di kepalanya sebuah hukuman.


"Saya pak." Wisnu mengakuinya.


"Wisnu..., ck..ck..ck.. Kamu. Tumben buat ulah. Siapa teman yang kamu ajak ke kantin lewat kertas? Kenapa ngga sekalian lewat telfon aja?"


Sontak seisi kelas tertawa. Melihat kekonyolan temannya.


"Maaf pak, saya ngga sengaja. Saya yang salah. Saya aja yang dihukum."


'Apes banget sih gue, kenapa mesti ketangkep pak Mahesa sih hari ini. Mana sama Rima lagi gue bikin ulah.'


Wisnu mencemaskan Rima, jika dia juga terkena hukuman.


"Surat itu ngga bisa ditulis untuk diri sendiri Wisnu, kalo ditulis untuk diri sendiri itu namanya diary. Siapa?"


"S..saya pak." Rima juga mengaku.


"Bagus, Kalian berdua ikut ke ruangan bapak."


'Tamatlah gue.'


Wisnu dan Rima sama-sama membatin dan vemas hukuman apa yang akan mereka terima.


Sesampainya di ruangan Pak Mahesa mereka berdua diberi nasehat, panjang kali lebar kali tinggi. Ditambah ini dan itu. Kaki mereka serasa kram berdiri mendengar sang Orator. Pidatonya berapi-api, menyala-nyala begitu bersemangat berbanding terbalik dengan kedua remaja itu yang sudah loyo dan lapar.


"Jangan diulangi lagi atau..."


Pak Mahesa menggantung kalimatnya. Ia tampak sedikit berfikir.


"Atau kalian akan memdapatka kaset pidato dari saya, dan kalian harus mendengarkannya sampai selesai. Faham?"


"Faham pak." Jawab keduanya kompak.


"Hukuman hari ini, setelah kalian berdiri di depan tiang bendera sambil hormat. Kalian juga membersihkan daun yang ber__guguran di dekat lapangan voli.Dengan melempar daun itu ke tempat sampah yang berjarak setengah meter dari kalian. Sampai penuh. Bapak akan mengawasi."


'Buju busyet, kapan selesainya? Aish.. kenapa hari ini gue sial banget sih.'


Rima merutuki nasibnya yang harus mendapatkan hukuman aneh bin ajaib itu. Yang juga membutuhkan keajaiban untuk memasukkan daun ke tempat sampah dengan melempar-lemparkannya.

__ADS_1


'Difikir tuh daun batu, gimana masuknya kalo dilempar kena angin ya balik arahlah kalo ngga terbang ketiup angin. Nih bapak makin aneh aja, efek jomblo kelamaan kali ya. Astaghfirullah, gue ngatain guru gue. Maaf ya pak, habis bapak aneh sih.'


Wisnu gemas dengan hukuman yang tak masuk akal itu baginya.


"Terus Wis dicoba lagi, gue dari tadi dah dapat 5 lembar daun nih. Punya lo mana? belum ada yang masuk?"


Rima kesal karena sedari tadi tempat sampahnya masih belum penuh, kalau begini tangannya akan pegal karena terus melempar daun berulang kali.


"Iya-iya lagi usaha nih gue."


Wisnu juga mencoba memasukkan daun pohon jarak yang berada dekat lapangan voli. Daun jarak yang kecil menjadikannya susah untuk masuk ke tong sampah jika dengan cara melemparnya dari jarak yang agak jauh.


"Ehem, selesaikan hukumannya bukan malah ngobrol." Pak Mahesa memperingatkan keduanya.


Pak Mahesa guru Bimbingan Konseling, Ia masuk ke kelas Rima karena guru mapel pada jam itu sedang berhalangan hadir jadilah Pak Mahesa masuk mengisi kelasnya. Dan sekarang karena Ia tugas menjadi guru piket maka ia akan mengawasi kedua sejoli konyol itu.


'Gue punya ide, kenapa ngga dari tadi sih, buang energi dan waktu.'


Tiba-tiba Wisnu mendapat ide. Ia mengambil ranting dan menusukkan daun-daun ke ranting itu, seperti sate daun. Rimapun mengikuti yang dilakukan Wisnu. Dalam waktu sekejap kotak sampahnya menjadi penuh.


"Eits..eits.. kenapa kalian curang?" Tanya pak Mahesa.


"Bapak ngga menyebutkan aturan lainya, hanya bilang melempar daun ke tempat sampah." Wisnu berkilah.


"Ck.. pelajar jaman now, pintar memberi alasan. Kalau begitu bersihkan semua daun di halaman ini sampai bersih."


"Tapi pak.." Wisnu hendak protes namun Pak Mahesa lebih dulu memotong protesnya.


"Ngga ada tapi-tapian. Selesaikan Cepat."


Pak mahesa menambah hukuman bagi keduanya dan menggoyangkan batang pohon jarak itu agar daun yang kering berguguran ke tanah.


"Yah.. pak kapan selesainya kalau ditambah terus daunnya?"


Wisnu protes, namun Pak Mahesa sengaja mengerjai mereka dengan terus merontokkan daun pohon itu.


"Kerjakan atau...?"


Pak Mahesa mulai kambuh dengan hukuman bertubinya. Cepat-cepat keduanya menyanggupi hukuman itu jika tidak pasti hukuman yang lebih berat menantinya.


"Iya pak iya.."


Rima mengiyakan perintah Pak Mahesa.


Mereka berdua patuh dan segera menyelesaikannya.


"Yes, udah selesai Wis. Kabur yuk, keburu dikasih hukuman lain." Rima segera menarik tangan Wisnu dan mengajaknya berlari ke kantin meninggalkan pak Mahesa yang sedang membaca koran.


Wisnu senang bukan main karena Rima pasti tidak sadar sedang menggenggam tangannya. Mungkin Rima lupa, bahwa mereka bukan anak SD lagi. Namun Wisnu membiarkannya. Terasa bahagia, kini Ia sedang berada sangat dekat dengan cewek yang ia sayangi.


"Wah... dasar siswa ngga ada akhlak, gurunya nungguin malah ditinggal ngga pamit lagi."


Pak Mahesa menggerutu dengan kedua siswa nya. Mau bagaimana lagi, mereka tak punya pilihan jika pamitan pasti hukumannya akan ditambah dengan hukuman yang lain. Selesai yang satu muncul hukuman baru lagi.

__ADS_1


'Maafkan kami Pak Mahesa.'


Mereka kompak membatin hal yang sama. Sebab keduanya tak tega meninggalkan gurunya. Jika tak begitu mereka tak bisa lepas dari hukuman.


__ADS_2