CINTA REMAJA TANGGUNG

CINTA REMAJA TANGGUNG
KECEWA


__ADS_3

@ KECEWA


Wisnu telah sampai di depan rumah Rima. Rumah yang begitu Asri dengan pohon kelengkeng di dua sudut sisi rumahnya. Beragam tanaman hias dan bunga tertata rapi di samping kiri dan kanan membelah pekarangan ruamah membentuk sebuah jalan menuju pintu rumah Rima.


Awalnya Wisnu ragu untuk mengetuk pintu rumah minimalis bercat hijau daun itu. Akhirnya rasa penasaran yang begitu membuncah menguatkan tekadnya untuk mengetuk.


“TOK..TOK..TOK..” Terdengar suara pintu diketuk. Tak kunjung ada jawaban, Wisnu mengetuk lagi.


“TOK..TOK..TOK..” Masih sama, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


“TOK..TOK..TOK..” Sekali lagi, diketuknya pintu kayu bergagang minimalis panjang itu, namun sia-sia.


Wisnu menoleh ke kanan dan ke kiri, begitu sepi.


Kemana penghuni rumah sejuk ini? Apa aku coba tanya pada tetangganya saja. Mungkin orang tua Rima sedang tak berada di rumah, dan mereka tahu keberadaan mereka.


Pucuk dicinta ulampun tiba. Bu mimin tetangga Rima lewat depan rumah Rima. Dengan membawa tentengan belanjaan di tangannya.


Ahh... sebaiknya aku bertanya pada Bu mimin, mungkin akan ada informasi yang kudapat.


“Permisi bu, maaf boleh tanya Pak Heru ke mana ya bu? Saya ketuk pintu rumahnya berkali-kali, kok tidak ada jawaban.” Wisnu berharap ada petunjuk dari Bu mimin.


“Owh... Pak Heru dan keluarganya berangkat ke Jogja mas Wisnu. Baru saja kemarin mereka berangkat.” Bu Mimin memang mengenal Wisnu sejak dulu karena Rima sering terlihat pulang sekolah bersama.


“Ada hal apa mereka ke sana ya bu, kok mendadak sekali?”


“Wah kurang tahu saya mas.”


“Owh ya sudah bu, terima kasih atas informasinya.”


“Sama-sama mas, saya permisi pulang dulu. Sudah ditunggu anak-anak soalnya.” Bu mimin berlalu meninggalkan Wisnu yang kebingungan.


“Aku harus apa sekarang, tak ada kabar darinya. No hp nya saja aku tak punya. Alamat keluarga Rima di Jogjapun tak punya. Aaargh..!!!!!!!!” Ia menyugar rambutnya dan mengusap wajah cakepnya kasar.


Sulit sekali untuk melihatmu, bahkan bayanganmupun tak memperbolehkannya.


Wisnu pulang penuh kekecewaan. Ia terlihat lesu dan gontai.

__ADS_1


.................................................................................


Di kediaman nenek Rima, Bu Rusmana dan putrinya sedang berdiskusi.


“ Kamu yakin, ikut pulang mamak sama bapak?” Ibu Rima mencoba memahmi keinginan putri sulungnya itu.


“ Emang boleh mak, Rima ikut pulang?” Rima memastikan.


“ Ya boleh dong sayang.”


“Beneran boleh nih?” tanyanya lagi. Ia ragu dengan ajakan mamaknya.


“Ya kalau kamu mau ikut pulang ya ayo, besok kamu selesaikan surat pindah sekolahmu. Nanti minta tolong bapak untuk nemenin kamu ke sana.”


‘Yes, akhirnya aku bisa terbebas dari sini. Bisa merasakan kehangatan kasih sayang oramg tuaku lagi.’


“Makasih ya mak, mamak terbaik deh sedunia.” Rima segera menghujani mamaknya banyak ciuman dan dipeluknya erat-erat tubuh wanita paruh baya itu. Seakan tak akan dilepasnya lagi.


Ia tak percaya bahwa dirinya akan segera pulang ke tanah kelahirannya. Semudah itukah ia bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.


Sebenarnya ia merasa ragu untuk pulang, ketika ia sudah mulai beradaptasi dengan sekolah dan teman-temannya. Namun kehangatan dan kasih sayang mamak dan bapaknya lebih ia butuhkan dari apapun juga.


‘Seandainya nenek tidak membeda-bedakan kasih sayang antara cucu yang satu dengan yang lain, mungkin aku tak kan pulang. Nenek sungguh keterlaluan, menyayangiku ketika aku sakit saja. Jika aku tidak sakit, maka ia akan mencurahkan kasih sayangnya hanya pada cucu laki-lakinya saja. Semuanya untuk mereka sedangkan aku kadang hanya dikasih sisanya itupun kalau ada.Tapi aku kasihan dengan nenek, siapa yang akan menjaganya ketika paman bekerja. Pamanku sih, sampai sekarang belum ketemu jodohnya. Ahh.. salah sendiri aku tak terlalu diperhatikan. Mau ke mana-mana tidak boleh. Sebal.’Ia bermonolog dalam hati.


Semua keluarga Rima di Jogja bisa dibilang baik kepadanya. Mungkin karena Rima yang masih dalam kategori remaja labil selalu menyalah artikan nasehat dan teguran mereka. Rima menganggap mereka sering berkata kasar dan menyakitkan hati. Sangat pedas jika didengarkan, apalagi sepupunya yang lebih tua darinya. Terlihat semena-mena dan bossy.


‘sebenarnya aku merasa iri dengan teman-temanku yang selalu mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Berlibur dan jalan-jalan bersama ketika weekend. Sedangkan Ia hanya di rumah saja.


Sehari di mana ia akan pulang, teman-teman kelasnya berpamitan. Membawa kado untuk dijadikan kenang-kenangan.


‘Ahh.. tema-temanku, aku akan meninggalkan kalian. Sesungguhnya ini sangat menyedihkan. Di saat aku mulai menyayangi kalian, malah aku yang akan meninggalkan mereka.


Mereka pulang menaiki bus aantar provinsi, mamak Rima takut naik pesawat. Jika pesawat itu jatuh dan meledak maka tidak akan ada lgi jejaknya. Sungguh ketakutan yang dapat dimaklumi.


Kini Ia dan keluarganya tengah berada di kursi penumpang Bus antar provinsi itu. Dalam perjalanan Ia mengenang seluruh wajah keluarga dan teman-temannya. Terkadang tergambar kebahagiaan dari wajahnya terkadang juga terpancar kesedihan.


Ia tersenyum-senyum sendiri jika mengingat seorang Fahmi. Teman Sdnya di jogja yang menyatakan cinta padanya semenjak kedatangannya dan hingga ia akan pulang.

__ADS_1


Laki-laki itu bahkan menangis ketika Rima berpamitan padanya.


Flash back on


Di taman dekat SD yang sering mereka kunjungi, Rima bertemu dengan Fahmi untuk berpamitan.


“Mi, gue mau pulang besok.”


“Pulang ke mana?” tanya fahmi setengah terkejut.


“Ya pulang ikut orang tua gue lah, emang ke mana? Gue kan bukan dari sini.”


“Lo kok tega ninggalin gue sih Rim? Meninggalkan kisah cinta kita berdua!”


“Ish..ish... yang Cinta sama lo tuh siapa? Aneh!”


“Hiks...hiks..hiks... terus gue sama siapa? Huwa.... jangan tinggalin gue dong Rim!” Fahmi mulai menangis.


“Dasar anak mami. Ya sama nyokap dan bokap lo lah.”


“Tolong jangan tinggalin gue rim... Hiks..hiks..!” Fahmi memohon pada Rima sambil sesenggukan.


‘Waduh anak orang nangis, dilihatin orang lagi. Makin berabe nih urusannya. Sepertinya aku harus bhong’


“Yei... kamu kena prank. Aku Cuma becanda ga serius.”


“Ah dasar kamu rim, nakut-nakutin aja.”


“yaudah pulang yuk! Udah sore juga.!”


‘Maaf mi kalau aku harus berbohong’


Flasback Off


‘Sungguh sangat lucu kamu fahmi, kuharap kita dapat berjumpa lagi di masa depan. Kuharap kamu tak akan marah dengan kepulanganku. Kita masih bisa menjadi teman dan kamu bisa mendapat sesorang yang akan tulus mencintaimu. Karena sejatinya cinta tak pernah bisa untuk di paksa. Semakin memaksa maka semakin kan terluka. Lepaskan saja jika baik untuk dilepas. Maka ia akan bahagia bebas, tanpa merasa ditindas.’


Tunggu kisah selanjutnya.

__ADS_1


Like, coment dan Vote dari readers akan menambah semangat Author untuk terus menulis....


Terima kasih...


__ADS_2