
Cinta ditengah-tengah persahabatan memang sangat konyol. Namun kita tak pernah bisa menebak kepada siapa cinta itu akan berlabuh. Cinta segitiga yang dialami Rima, Wisnu dan Ali hadir diantara mereka. Persahabatan yang Indah itu kini diwarnai perselisihan yang sebentar-sebentar harus membuat ketiganya merenggang namun setelahnya akan kembali seperti sedia kala. Saling melindungi dang menghibur. Benar-benar membuat siapaun iri pada persahabatan mereka. Meskipun diterpa angin, badai topan sekalipun, persahabatan mereka tetaplah akan solid.
“Gue ngga maksa kali ini Wis, terserah Rima mau pulang sama siapa. Tapi, tolong lo hargai keputusan dia untuk pulang bareng siapa. Kalo lo maksa lagi, gue bakalan turun tangan.”
Ali pasrah jika Rima memutuskan untuk pulang bersama Wisnu. Toh selama ini perasaanya kepada Rima hanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh menyedihkan. Baginya kebahagiaan sahabatnya lebih utama. Dapat bersahabat dengan merekapun suatu keberuntungan baginya.
“Rim, please maafin gue. Gue mohon lo mau ya pulang bareng gue.” Wisnu mencoba melunakkan bongkahan amarah di hati Rima dengan berkali-kali meminta maaf. Ia tak peduli, jika sekarang ia tak lagi bisa bersikap cuek dan dingin mempertahankan ciri khasnya. Ini hanya berlaku pada Rima tidak dengan yang lain. Hal itu hanya akan membuatnya tersiksa jika ia berada jauh dari gadis kesayangannya.
“Gue pulang bareng Ali.” Itulah jawaban Rima.
“Oke.”
Wisnu juga pasrah jika Rima memilih pulang bersama Ali. Dirinya tak ingin ribut untuk kesekian kali, apalagi dilingkungan sekolah dan membuat Rima ilfeel padanya jika terus-terusan memaksa. Meski hatinya berdenyut nyeri, Wisnu masih bisa sediikit lega, yang penting Rima tidak pulang bareng Awin saingan terberatnya.
‘Gue bener-bener nyesel udah salah ngomong Rim. Gue udah buat lo sakit hati dengan menyebut lo murahan. Maksut gue tu supaya lo ngga lagi ngejar-ngejar Awin dan dimanfaatkan dia doang. Gue ngga mau liat lo nyesel dan nagis-nangis di depan gue.’
Fikiran Wisnu kacau, kini Ia tak bisa berfikir dengan jernih. Apalagi Rima tak kunjung memafkannya. Lama ia berfikir di parkiran sekolah sampai seseorang mengganggunya.
“Kak Wisnu kok belum pulang?” Pemilik suara itu adalah Syifa, gadis yang sangat ia benci. Selain mengganggunya ia juga telah berani menyentuh gadisnya.
“Terserah gue.”
Wisnu mengtakannya penuh amarah, matanya berkilat bak mata elang menyambar mangsanya. Ia kembali menjadi dingin, cuek dan menakutkan. Sungguh bertolak belakang jika sedang bersama Rima.
‘Cih masih aja jual mahal lo kak.’ Syifa membatin.
“Galak amat sih kak, ntar jadi perjaka tua lo ngga ada cewek yang mau sama kakak.”
Syifa mencoba membuat suasana lebih hangat dengan candaan garingnya.
“Terserah gue.”
__ADS_1
Jawaban yang sama ia berikan pada Syifa. Wisnu sungguh muak dengan wanita di hadapannya. Ia sungguh heran meski dirinya menolak wanita ini namun masih saja ia mengganngunya.
“Kalo ngga ada cewek yang mau sama kakak, Syifa mau kok jadi cewek kakak. Bercanda kak jangan marah.” Syifa tak kunjung menyerah.
“Gue cuma suka sama satu cewek dan elo tahu siapa dia?” Wisnu memberi ketegasan supaya Syifa tak mengganggunya lagi.
“Dan jangan pernah coba-coba lo ganggu dia. Sedikit aja lo nyentuh dia, gue ngga bakal lepasin lo.” Wisnu mengingatkan Syifa.
“Maksut kakak?” Syifa berpura-pura tak tau.
“Dasar cewek ngga punya malu, masih aja ngeles. Lo fikir gue ngga tau apa yang udah lo lakuin ke dia.”
“Ngomong apasih kak, makin ngga jelas aja. Kalau mau nuduh harus ada buktinya dong.” Syifa sewot karena sedari tadi ia dipojokkan.
“Nih buktinya.” Wisnu melempar kertas surat yang pernah ia tujukan kepada Rima ke wajah Syifa . Di sana tertera nama Syifa. Syifa mengambil dan membacanya.
“Bisa ajakan itu akal-akalan Rima. Supaya gue yang jadi tersangkanya, dan kakak jadi makin benci sama gue.” Syifa mencari alasan agar dirinya tak disalahkan.
“Dia bukan cewek posesif yang ngekang gue deket sama siapa, dia juga ngga akan ngelakuin hal rendahan kayak yang lo lakuin.”
Wisnu membandingkan Syifa dengan Rima. Sudah sangat kesal, maka kata-kata kasarlah yang akhirnya keluar dari mulut Wisnu. Syifa menjadi murka. Tak dapat lagi ia mengontrol emosinya.
“Gue ngelakuin itu karena lo kak.”
Dengan suara yang bergetar dan lantang Syifa mengatakannya. Fikirannya kacau, bingung harus bagaimana lagi mencari cara agar Wisnu melihatnya sedikit saja. Andaikan Wisnu dapat sedikit saja menghargai perjuangannya untuk meluluhkan hatinya. Bahkan pria itu selalu menolaknya berkali-kali.
“Karena gue lo bilang? Jadi sekarang lo ngaku kalo lo yang udah celakain Rima hah?” Wisnu menunggu penjelasan Syifa.
“Iya gue yang udah celakain dia. Gue ngga mau ada cewek yang deket sama kakak selain gue. Dia ngga dengerin saran gue dan terus deket sama lo kak. Itulah akibatnya kalau ngga mengindahkan peringatan gue.”
“Tapi, apa lo harus nyelakain dia sampai kayak gitu. Lo udah keterlaluan tahu ngga. Kalo Rima kenapa-napa waktu itu bukan Cuma elo bahkan gue sendiri ngga akan maafin diri gue sendiri. Elo bener-bener keterlaluan Syifa.”
__ADS_1
“Gue emang keterlaluan kak, iya gue udah keterlaluan. Puas lo sekarang kak setelah denger pengakuan gue.”
“Syifa, cinta itu ngga bisa dipaksa. Semakin lo maksa semakin dia benci. Sama halnya dengan magnet yang kutubnya sama, dia akan terus berlawanan.”
Wisnu merasa miris dengan apa yang ia dengar. Sungguh ia tak menyangka syifa bisa senekat itu hanya karena seorang pria.
“Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dari gue. Lo tau gue bukan orang kaya. Apa yang bisa lo andelin dari gue?”
“Tapi gue sukanya Cuma sama lo kak?”
“Lo cuma kagum aja sama gue, rasa penasaran lo ke gue dan ego lo yang harus terpenuhi itulah alasannya.”
“Ngga kak, gue yakin Cuma lo yang bisa buat gue bahagia.”
“Lo salah, apa yang lo rasain? Gue selalu nolak dan buat lo kecewa. Apa itu buat lo bahagia?”
“Tapi sejak liat lo untuk pertama kalinya, gue udah suka sama lo kak.”
“Jika lo cinta sama gue, itu hak lo Syifa. Tapi maaf gue ngga bisa balas cinta lo. Dan lo ngga bisa maksain cinta gue untuk siapa. Gue cintanya sama Rima. Gue minta lo bisa nerima kenyataannya.”
“Gue nggak akan nyerah dapetin cinta lo kak.”
“Oke, terserah lo. Yang pasti gue juga ngga bisa buat cinta sama lo. Dan gue minta jangan pernah sakitin Rima. Atau lo ngga akan pernah liat gue lagi. Ngerti?”
“Gue ngerti kak.” Akhirnya Syifa mengalah untuk sesaat. Ia tak dapat berdebat dengan Wisnu.
“Ayo pulang. Lo udah ditunggu supir lo. Kasihan dia nungguin lo dari tadi.”
Wisnupun berlalu meninggalkan syifa yang kini hatinya remuk redam karena cintanya lagi-lagi ditolak.
‘Gue ngga akan nyerah kak, gue pasti dapetin lo.’
__ADS_1
Syifa melihat Wisnu dengan penuh harap. Meski hatinya perih, namun cintanya tak pernah padam. Hatinya hanya dipenuhi Wisnu seorang. Benar-benar keras kepala dan pantang menyerah.