
Aku dan Rima
Aku kembali setelah sekian tahun diasingkan. Diasingkan dari keluarga dan teman-temanku. Nyatanya aku memang merasa asing setelah aku melihat banyak perubahan di tanah kelahiranku. Rumah dan tatanannya, teman-teman yang sudah bertamabah tinggi , ada tetangga baru dan bangunan baru. Suasana berbeda yang aku jumpai.
“Rim, pagi ini kamu berangkat sekolah sama Wisnu, bapak ngga bisa antar kamu.”
DEG
“Rima sama Wisnu mak?”
‘Apa aku tak salah dengar?’ Senangnya dalam hati. Aku sekolah berangkat bareng Wisnu. Oh... Seperti Dunia aku yang punya.’ Rima bersenandung dalam hati dengan mengubah syair lagu Beristri tiga. Dan kini terdapat senyuman di wajah ayunya.
“Iya, kemarin bapak sudah cari tebengan untuk kamu berangkat sekolah. Ini uang jajanmu.” Singkat, padat dan jelas begitulah bu Rusmini yang memiliki kesibukan mengajar di SD.
“Iya mak.” Aku membayangkannya, seperti apa dia sekarang?, tinggikah? Masih cuekkah?
“Rim, wisnu nungguin tuh di depan!” Bapak Rima memberi tahu.
“iya pak, tunggu sebentar.” Rima segera bersiap dan menuju halaman rumahnya.
‘Apakah ini Wisnu? Kenapa jadi manis begini? rambutnya juga oke, tinggi dan tampan. Bisa-bisa meleleh gue lama-lama.’
“ Eh.. neng, cepet ngapain bengong disitu. Malu nih banyak orang lewat. Lambat banget sih!” Wisnu mengomel membuyarkan lamunan Rima.
Banyak kendaraan berlalu lalang disekitar rumah Rima, karena memang jalan di depannya merupakan jalan umum.
‘Rima sama sekali ga berubah, masih seperti dulu. Apa adanya senyumnya masih sama, ekspresi wajahnya, dan tatapan matanya yang lembut . Wisnu hanya menatap gadis yang Ia rindukan sekilas, tentu saja karena dirinya gengsi.
“ Eh.. iya..iya..! Lo tuh kepagian datengnya!” Rima mencoba membela diri.
‘Ih.. cueknya masih aja nempel, tambah jutek lagi sekarang. Untung lo ganteng dan jadi ojek gue kalau engga, melayang ... melayang deh sepatu.’
“Alesan, cepetan naik. Males gue jemput lo lagi kalau sampe kita telat.” Winu mulai meracau.
‘Gue kerjain lo Rim. Siapa suruh ninggalin gue begitu lama. Sekarang saatnya pembalasan bagi gue.’ Wisnu membatin dan tersenyum dalam hati.
‘Ngoceh aja terus. Cepet tua baru tau rasa lo wis.’ Rima menyumpahi dalam hati.
“Iya-iya.” Rimapun segera naik ke sepeda motor wisnu sebelum si empunya motor mengomel untuk kesekian kalinya..
“Bawel banget sih.” Rima bergumam lirih.
__ADS_1
“Ehem... Kayaknya kita bakalan sekelas Rim.” Wisnu mencoba memecah kesunyian diantara mereka, sambil mengedarai motor bebeknya itu.
“Tau dari mana?”
‘Tau dari mana sih nih bocah, gue kan belum cerita.’
“Apasih yang gue ga tahu?” Wisnu menjawab pertanyaan Rima dengan sangat pede.
‘Ih.. kenapa nambah lagi sih penyakitnya nih bocah. Udah cuek, jutek sekarang narsis pula. Entar-entar pasti nambah lagi. Rusak-rusak deh mut ge hari ini.’
Rima memilih diam ketimbang berdebat dengan teman masa kecilnya itu.
Kini mereka berada di kelas yang sama, Ada satu meja dengan satu bangku kosong dan satu bangkunya sudah diduduki seorang siswi , yang tentu Rima belum kenal. Letak mejanya berada paling depan dekat pintu masuk kelasnya. Rima mengedarkan pandangan keseluruh ruang kelasnya. Kelas 8.2. Tampak ada beberapa teman SD nya dulu dan ada pula siswa yang baru hari ini Ia lihat.
Tak lama Wali kelas mereka masuk, dan meminta Rima memperkenalkan diri.
“Perkenalkan nama saya Rima Rayana Melati. Panggil saja Rima. Senang bertemu kalian, mohon bantuan dan kerja samanya.” Dengan wajah yang di mode seimut mungkin olehnya.
Setelah itu pelajaran segera di mulai seperti biasa. Banyak siswa baru yang terkesima saat pertama kali melihat Rima. Tentu saja karena wajahnya yang imut, cantik dan senyum yang begitu ramah.
Pada jam istirahat Rima berkenalan dengan seluruh teman kelasnya. Eva Lia Saputri nama teman sebangkunya, Ia terlihat senang saat Rima menjadi teman sebangkunya. Sekian lama duduk sendiri kini ada teman satu meja yang menemani.
Mendadak Ia berhenti ketika melewati papan pengumuan dan membacanya.
To : Seluruh Siswa Menggalang Prestasi
Perpisahan kelas XII akan segera diadakan. Siapapun boleh berpartisipasi dan hadir pada acara yang akan dselenggarakan pada,
Tanggal : xxxxxx
Tempat : Aula Sekolah
Ttd. Ketua OSIS Manggalang Prestasi
‘Pengen banget datang ke acara ini, ajak siapa ya? Wisnu.. Iya Wisnu pasti mau Dia.’
“Lama banget sih lo Rim?” Suara Wisnu yang muncul mendadak membuat Rima terkejut. Rima pun sedikit kesal dengan teman masa kecilnya itu.
“Iya Sabar... Bambang..” Rima menjawab dengan menekankan nada suaranya saat mengucapkan nama Bambang.
“Siapa Bambang, penjaga gerbang sekolah kita yang baru?”
__ADS_1
“ Sembarangan! Ya lo lah, emang siapa lagi. Di sinikan Cuma ada lo sama gue.” Rima menjawab Wisnu sedikit bernada kesal.
“Lo liat apa sih?”
“Acara ini, lo ...,,mmm.. elo...Aduh gimana ya ngomong nya?” Rima bingung bagaimana cara mengatakan kalau dia ingin ke acara bersama Wisnu.
“Ngomong aja, acara perpisahan kenapa memangnya?”
“Gue boleh ngerepotin lo ga?”
“Emang lo selalu ngerepotin, kenapa masih nanya ngerepotin atau engga?” Wisnu berencana membuat Rima kesal.
‘Rasain lo Rim. Emang enak gue kerjain... hahaha....’
“Ya udah deh kalau ngerepotin, ga jadi aja. Maaf ya kalau selama ini gue ngerepotin terus.”
“Ngga juga..., biasa ja.”
‘Gimana sih, tadi bilangnya ngerepotin terus, sekarang engga. Dasar cowok plin-plan.”
“Cepat katakan.”
“Mau ga anterin gue, ke acara ini” Rima berkata sambil menunjuk pengumuman di papan yang ada di hadapan mereka.
“Sorry, ga bisa. Gue da kerjaan.” ‘Sebenernya gue pengen banget pergi bareng lo Rim, tapi masak iya gue ga jual mahal dulu. Seneng gue liat ekspresi jengkel lo ke gue. Gemesin. Jadi pengen, pengen nyubit pipinya.
“Owh.. Oke kalau gitu. Gue berangkat sendiri aja.” Sedikit ada nada kekecewaan dari kata-kata Rima yang baru Ia ucapkan.
“Terserah. Buruan yuk pulang..masih banyak kerjaan nih..” Masih sabar ga lu ngadepin gue Rim, dulu lo ga pernah nunjukin ekspresi kecewa lo sama gue. Sekarang gue bisa liat, ekspresi lo barusan nujukin kalo lo kesel sama gue. Dan itu bikin gue tambah suka sama lo.
“Ya..” Rima menjawab Wisnu dengan lesu.” ‘Gagal deh rencana gue. Padahalkan gue pengen banget pergi bareng lo Wis, meski lo nyebelin. Tapi seenggaknya wajah lo yang tampan itu bisa bikin gue ga keliatan jadi cewek cupu yang ga ada temennya.’ Rima membatin. Ia kelihatan tak bersemangat dan bibirnya ikut mencebik. Siapapun yang melihat akan merasa gemas padanya.
Mereka saling diam di perjalanan pulang. Sampailah mereka di depan rumah Rima.
“Makasih ya Wis.”
“Hemmm.” Hanya deheman yang mewakili jawaban Wisnu.
‘Dasar manusia cuek... masih aja cuek... kenapa dulu lo bisa jadi temen gue.’
Masa kini telah berubah, namun masih ada beberapa yang tak berubah dan itu lo Wis, masih secuek dulu. Padahal gue berharap lo bisa lebih sedikit hangat. Kini gue tak kan berharap lagi, biarlah lo tetap cuek, yang penting lo tetap jadi diri lo sendiri wis. Gue suka lo yang seperti itu.
__ADS_1