
Tidak ada yang salah, jika wanita menginginkan laki-laki yang mapan, tapi apakah salah jika laki-laki memgharapkan cinta yang tulus?
Gilbert Fernandez, di usianya yang menginjak 37 tahun ini masih betah menyendiri, bukan tidak ada wanita yang mau, bahkan banyak wanita yang mengemis cintanya.
Mungkin bagi orang zaman sekarang keinginan Gilber dianggap halu, karena menyediakan segalanya untuk seorang wanita itu wajar. Namun apa salah jika Gilbert menginginkan cinta tanpa syarat?
"Honey ... kamu mau perempuan seperti apa, dengan profesi apa? Momy akan carikan sesuai yang kamu mau."
Pertanyaan itu selalu ditanyakan ibunya, ibu Gilbert sangat berharap anaknya segera menikah.
Gilbert berdirin di balkon hotel yang menghadap ke pantai. Segala hal bisa dia lihat dari sana.
Memandang kearah pantai bukan menikmati indahnya pemandangan tubuh-tubuh seksi yang hanya berhias tali menali dan sepotong kain yang menjadi penutup hal yang sengaja di pamerkan. Namun Gilbert memandangi deburan ombak yang saling kejar-kejaran dan akan berakhir ketika menyapu pesisir pantai.
Memandangi ombak, Gilbert membayangkan tentang siapa yang datang dalam hidupnya hanya sekedar datang, dan yang datang hingga pergi tapi meninggalkan luka.
3 Wanita yang hadir dalam hidupnya, kedatangan mereka mulanya memberi bahagia, namun seiring berjalannya waktu, hati Gilbert di tampar sebuah kenyataan, sosok itu mencintainya hanya karena tahta.
Mencoba membuka lembaran baru, memberi kepercayaan, karena setiap orang berbeda, harapan Gilber, dia akan menemukan cinta tulus seorang wanita. Namun akhirnya tetap sama, hatinya terluka lagi saat menerima kenyataan.
"Waw, pemandangan yang sangat indah, pantas kau suka membooking hotel ini, pemandanganya alamakkkk!"
__ADS_1
Perkataan orang itu membuat lamunan Gilbert buyar.
"Darwis, kau mengganggu saja!"
"Maaf bos ... kan bos sendiri yang panggil aku ...."
Darwis adalah Asisten pribadi Gilbert.
"Ada bos memanggilku?"
"Aku butuh bantuan, kenapa aku sangat sulit menemukan seseorang yang tulus? Sejauh ini cuma kau yang tulus sama aku."
Darwis mematung, dia tidak habis pikir, waktu istirahatnya harus terbuang demi pertanyaan konyol atasannya. "Mudah ..., teman itu bisa teruji kwalitas mereka saat kita susah, saat kita susah saja dia setia, apalagi saat kita jaya." Darwis terdiam sejenak, dia mulai memahami kemana arah pertanyaan Gilbert.
Gilbert langsung memahami apa makna ucapan Darwis. "Lepas baju lu!"
"Maaf bos, saya masih normal ...." Darwis menyilangkan lengannya di depan dada.
"Aku nggak mau tau, lepas lu!" Gilbert mulai merampas paksa baju Darwis.
"Mama ... tolong ... jalur berakku terancam keorisinilannya ...." jerit Darwis.
__ADS_1
"Tunggu!" Gilbert merasa terganggu dengan jeritan Darwis.
"Kau mikir aku mau ajak kamu main pedang-pedangan?" tebak Gilbert.
"Lalu apa? Kenapa bos melucutiku?" jerit Darwis.
"Bangkee lu! Gue mau pimjem baju lu! Gue mau menyamar jadi orang biasa untuk mencari cinta!"
"Owh ... bilang dong, main lepas aja kan ike takut ...." ucap Darwis dengan nada kemayunya.
"Mual aku lihatnya," ucap Gilbert.
"Menyamar tidak cukup dengan baju murah kayak punyaku bos, harus disertai identitas palsu, dan pekerjaan palsu."
Gilbert mendalami maksud Darwis.
"Iya juga ya, ada ide aku harus kerja apa?"
"Sebentar aku mikir ...." Darwis mencoba membuat otaknya bekerja lebih keras.
Bersambung....
__ADS_1
Apakah berhasil Gilbert menemukan wanita yang mencintainya apa adanya?