Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 19


__ADS_3

Babe Mamad sedari tadi menyimak obrolan anak muda itu. "Jangan banyakan ngomong, tong. Kasih tau dah jimatmu apaan?"


Gilvert membuka isi kantong itu dan memperlihatkan isinya.


"Buset! Bedak itu buat apaan?" ucap Cinta.


"Kok aa Bambang bawa bedak?" ucap Cinta.


"Tu bedak buat lu mangkal Bang? Siang Bambang malam Bila," ucap babe Mamad.


"Bukan buat mangkal be, tapi untuk menutupi sesuatu yang menghalangi ketampananku. "Gilbert mengambil tisu basah, dan mengusapkan selembar tisu basah pada pipi kanannya.


Setelah tisu itu mengusap permukaan kulit pipinya, terlihat tanda hitam bulat di pipi kanan Gilbert.


"Aaaa! Cecep!" jerit Swara.


"Cushion ini, ku pakai untuk menutupi tanda lahirku ini. Aku beli mahal, karena kwalitasnya memang sangat bagus." ucap Gilbert.


"Kenapa ditutupi?" tanya Cinta lembut.


"Karena orang-orang ilfeel padaku karena tanda ini, maaf aku tidak bermaksud untuk berbohong. Masih banyak hal yang aku tutupi demi masa depanku yang cerah," ucap Gilbert.


Cinta mendekati Gilbert, dan menepuk pundak laki-laki itu. "Jadilah dirimu sendiri, jangan tutupi kekuranganmu, justru mereka yang tetap berada di sisimu walau tahu kekuranganmu, mereka teman terbaik!"


"Jadi ... aku tidak perlu lagi memakai cushion buat menutupi tanda lahirku?" ucap Gilbert.


"Tidak perlu, buat wanita jatuh cinta padamu karena sikapmu, bukan karena parasmu."

__ADS_1


Ucapan Cinta seakan membuat aliran darah Gilbert mengalir lebih deras.


Sedang wajah Swara seketika berubah, dia langsung berjalan mendekati Darwis. "Aa eko ... sudah makan?"


"Sudah," sahut Darwis.


"Yah ... padahal neng membawakan makanan buat abang."


"Buat babe aja sama Cinta, sepertinya mereka belum makan," ucap Gilbert.


"Bambang tumpel, diem lu ah!" omel Swara.


Rasanya Gilbert ingin terbang ke awan melihat perubahan sikap Swara padanya. Tidak sakit dengan perubahan itu, hanya sangat bersukur, waktu menyingkirkan orang-orang yang menempel saat ada tujuan tertentu.


"Eh, sudah ... sini kita ngopi dulu," ajak babe Mamad.


"Kalian berdua, malam ini nginep di rumah babe dulu, besok pagi-pagi kalian beresin dah kost buat kalian," ucap babe mamad.


"Iya be," sahut Gilbert.


Sedang Darwis kesulitan bergerak, Swara selalu menempel padanya.


"Assalamu alaikum!" ucap seorang anak kecil.


"Eh ... Dava, sini Dava." ajak Cinta.


"Lah, abang bengek ada di sini?"

__ADS_1


"Siapa abang bengek?" tanya Cinta.


"Itu, yang sama kak Swara." tunjuk Dava.


"Oh, itu bang Eko. Dia akan menjadi penjual bakso babe," sahut Cinta.


"Yah ... abang mematahkan semangatku, aku kira bisa kerjasama bareng abang, dengan abang aku mudah dapat uang, dan aman juga dari palakan preman." kelug Dava.


"Bang Eko kagak jadi jadi penjual bakso, bang Eko mau jadi patner duet Dava buat cari duit, yang jualan bakso cuma Bambang," ucap Gilbert.


"Lah ini tumpel siapa?" ucap Dava.


"Nggak boleh gitu Dava, sebagai orang muda, kamu harus lebih sopan sama yang lebih tua," tegur Cinta.


Gilvert meraih cushionnya, dan mulai men-tap pada lingkaran hitam di pipinya, dan lingkaran itu tertutup dengan benda ajaib itu. "Sekarang udah kenal?" tanya Gilbert.


"Owalah bang Bambang ...." ucap Dava.


"Eh, Dava kenal ama Eko dan Bambang di mana?" tanya Babe.


"Tadi siang di jalanan, makanya Ane bisa pulang cepet, karena oleh ngamen banyak berkat bantuan suara emas bang Eko," jelas Dava.


"Aa Eko bisa nyanyi ya?" tanya Swara pada Darwis.


"Bukan bisa lagi, mantap mah nyanyian dia," sahut Gilbert.


"Nggak nanya sama lu Bambang!" ucap Swara ketus.

__ADS_1


__ADS_2