
Swara masuk kamarnya, dia duduk di meja riasnya. Satu tangannya meraih handphone, membuka salah satu aplikasi musik, dan mulai menyetel lagu.
***
Pertama ku melihatmu, Bergetar rasa hatiku. Berdebar-debar jantungku, Mungkin kusuka padamu
Ketika ku melihatnya, Berdetak-detak di dada. Mungkin itu suatu pertanda, Bahwa kusuka padanya.
***
Lagu ini sangat pas dengan perasaannya saat ini. Kala menatap cermin, rasanya di sana dia melihat Bambang dengan senyuman manisnya.
[Dia atau dia? Kupilih yang mana? Aku pusing untuk memilihnya ....]
Saat yang sama, muncul wajah Eko di samping Bambang. Dua sosok itu sangat menawan hati Swara. Swara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Sangat bahagia melihat dua sosok tampan yang dia temui sebelumnya.
[Jatuh cinta lagi, Lagi-lagi kujatuh cinta. Aku jatuh cinta. Kepada setiap wanita.
Jatuh cinta lagi. Lagi-lagi kujatuh cinta
Harus bagaimana? Ku bingung memikirkannya]
"Uluh ... keduanya tampan, bagaimana aku bisa menentukan mendekati yang mana ...." ringis Swara.
[Layaknya seorang pria. Kucoba untuk setia
Mencintai satu wanita. Tetapi aku tak bisa]
"Jangankan pria, wanita juga bingung atuh bang menentukan yang mana kalau keduanya sama-sama kuat." Swara mengomentari lagu yang dia dengarkan.
[Dia atau dia? Yang harus kucinta. Aku pusing untuk memilihnya.
__ADS_1
Jatuh cinta lagi, Lagi-lagi kujatuh cinta. Aku jatuh cinta, Kepada setiap wanita
Jatuh cinta lagi, Lagi-lagi kujatuh cinta
Harus bagaimana? Ku bingung memikirkannya.]
"Daripada bingung ... nanti malam pedekate dulu ahh, biar mengenal yang mana yang terbaik," ucap Swara semangat.
***
Hotel Yang di tempati Gilbert dan Darwis.
"Kamu sudah perintahkan Mamang buat beli baju sama handphone, Wis?" tanya Gilbert.
"Sudah, nanti saat kita meninggalkan hotel ini, kita sudah siap dengan mobil butut yang mamang sewa buat antar kita ketempat babe Mamat."
"Baguslah kalau urusan itu selesai." Gilbert masih memikirkan tentang Swara.
"Ada, ketulusan Swara, aku ingin dia mencintai pribadiku, bukan ketampananku. Wajar jika Swara atau wanita pada umumnya menginginkan pemuda tampan, kan itu kiat dasar untuk mempertahankan keturunan dengan cetakan arjuna. Aku juga menginginkan wanita cantik, hanya saja aku tidak mengharuskan itu, maksudku andai di kemudian hari terjadi apa-apa yang di luar batas kendali kita sebagai manusia, aku sangat siap mencintai dan menerima apa adanya."
"Iya, aku memahami kekhawatiran bos."
"Nah, untuk.menguji Swara, kira-kira dengan apa ya?"
Pandangan Darwis tertuju pada iklan produk kecantikan yang tayang di Televisi. Seketika ide pun muncul. Dia mengambil handphonenya, dan segera memesan sesuatu di sana.
"Pesan apa?" Gilbert kepo.
"Nanti juga lu tau, Bambang."
***
__ADS_1
Bersambung,
***
Ternyata nulis perjuangannya gini banget ya, selamat terus berkarya buat semua para penulis.
Oh iya, kita iklan dulu.
***
Dunia belum berakhir, Bila kau putuskan aku, Masih banyak teman-temanku di sini Menemaniku
Dunia belum berakhir, Bila kau putuskan aku
Wajahku juga nggak jelek-jelek amat Ada yang mau
Ku pikir-pikir, ku pikir-pikir Lebih baik aku menyingkir. Ku pikir-pikir, ku pikir-pikir Lelah … ooh …
Dunia belum berakhir Bila kau putuskan aku
Paling-paling juga kalau kamu mentok Balik padaku
Andai kau tahu Apa yang kurasakan Andai kau mau, mengerti
***
Shaden, Dunia Belum Berakhir.
Lirik by Goo-gle.
Ada yang baru tau lagu ini? Kita sama.
__ADS_1
Sampai jumpa di next bab.