Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 18


__ADS_3

Semua persiapan sudah matang, sebuah mobil minibus menunggu mereka di bawah, lengkap dengan perlengkapan penyamaran mereka. Handphone baru dan beberapa hal baru, hanya orang kepercayaan Gilbert, yang dia amanahi urusan perusahaan yang tahu nomor barunya.


Sebelum meninggalkan hotel, Gilbert teringat ibunya, dan segera menelepon ibunya.


"Gilbert! Kemana saja kamu! Kenapa kamu sangat sulit dihubungi!" omel wanita paruh baya di ujung telepon sana.


"Mama ... kan aku sudah bilang aku mau healing mama ...."


"Healing apa hilang?" maki di ujung telepon sana.


"Healing mama ...."


"Healing dalam bahasa gaul adalah penyembuhan atau pengobatan Hal ini berkaitan dengan penyembuhan psikologis jiwa, perasaan, batin, dan pikiran pada seseorang. Biasanya kata healing ini digunakan ketika seseorang ingin menenangkan diri dari masalah yang ia hadapi. Memang masalah apa yang kamu hadapi? Sini cerita sama mama! Bukannya menghilang! Healing kok hilang!"


"Mama ..., aku hanya butuh waktu buat menyendiri, mama jangan mikirin aku, aku baik-baik aja, aku berlibur jauh ke pedalaman, jika aku mendapatkan signal, aku akan menelepon mama secepatnya."


"Gilbert!"

__ADS_1


"Sudah ya ma, kuda aku sedang menunggu, kasian rombongan kelamaan menungguku." Gilbert langsung menutup panggilan teleponnya. "Kuda besi ma, yang menungguku." ucapnya pelan.


"Bagaimana bos? Siap?" Darwis baru keluar dari kamar hotelnya.


"Siap, ayo kita menuju petualangan baru kita."


"Ini bos, sebelum bos menggunakan ini, bos bikin lingkaran hitam dulu dengan ini, anggap ini tumpel, nah saat bos ngobrol sama Swara, bos pegang ini." Darwis memberikan satu produk pada Gilbert.


"Ini pembuat tumpel aku faham, tapi buat apa bedak ini?"


"Ini namanya cushion, nah bos bilang ke Swara kalau bos harus menggunakan ini secara rutin untuk menutupi tanda lahir bos. Lalu bos bersihkan pipi bos dengan tisu basah. Ah sini aku pakaikan dulu."


"Berarti aku jadi Bambang tumpel ya?" ucap Gilbert.


"Yah ... gelar akan muncul dengan seiring waktu.


Mereka berdua melangkah beriringan menuju mobil, perjalanan pun di mulai.

__ADS_1


Mobil yang membawa Gilbert dan Darwis di depan jalan yang menuju rumah Cinta, turun dari mobil keduanya menggantungkan ransel besar mereka di salah satu bahu, dan memacu langkah menuju rumah Cinta. Lumayan lama berjalan di kegelapan malam, akhirnya mereka sampai di rumah Cinta.


Namun ada salah satu pemandangan aneh, di sana ada seorang gadis cantik dengan gaya centil dan senyum malu-malu meong.


Wanita itu langsung berdiri di samping Gilbert. "Kalian baru sampai? Neng nunggu lama loh aa," ucapnya centil.


"Maaf neng, kan kami harus beberes dan pamit pada tetangga kost, juga melunasi biaya tunggakan kost kami," ucap Gilbert.


"Eh, sudah datang? Ayo sini ngopi dulu sama babe," ajak Cinta.


Perhatian Swara tertuju pada kantong kecil yang menggantung di samping celana Gilbert. "Itu isinya apa aa?"


"Owh, ini jimatku, biar orang nyaman melihatku," sahut Gilbert.


"Jimat?" Swara terlihat bingung.


"Iya, kalau tanpa ini, banyak orang yang membulyku, nah dengan ini aku merasa percaya diri.

__ADS_1


"Segitunya aa?" Swara masih belum memikirkan apa isi dari kantong kecil itu.


"Demi menjaga perasaan hatiku, aku harus mengeluarkan sebagian besar gajiku untuk jimat yang aku simpan dalam kantong ini," ucap Gilbert


__ADS_2