Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 20


__ADS_3

"Eh Swara, nggak boleh kasar ama orang, niat Bambang baik, kasih tau lu kalau Eko bisa nyanyi. Eko mana berani jawab dengan memuji dirinya sendiri, paling jawaban Eko merendah." tegur Babe.


"Maaf be ...." sesal Swara.


"Lu jangan mepet mulu napa Ra! Kalah amplop ma perangko loh!" tegur babe lagi.


"Itu udah masuk museum be, kagak ada surat-suratan lagi sekarang," ucap Cinta. Perhatian Cinta tertuju pada Dava. "Dav, mamamu masih demam?"


"Udah baikan Kak, ini Dava mau balikin rantang, makasih atas pertolongan Kak Cinta dan babe selama ini."


"Pulang gih, jangan begadang malam-malam," ucap babe.


"Iya be." Dava menoleh pada Eko. "Bang Eko, bang Eko sibuk nggak malam ini?"


"Belum sibuk, karena belum kerja," sahut Darwis.


"Kita latihan nyanyi yuk di sini." Pandangan Dava tertuju pada Babe. "Ini pun kalau babe kasih izin."


"Ya boleh lah," ucap Babe.


"Mak mu gak apa-apa kamu tinggal?" tanya Cinta pada Dava.


"Mak dah tidur."


"Okelah, sekalian menemani ngopi kita," ucap Cinta.

__ADS_1


"Sediain teh juga atuh kak, kan Dava nggak minum kopi ...." ucap Dava.


"Oke siap, kamu ambil ukulele, kak Cinta bikinin teh," ucap Cinta.


Anak laki-laki itu segera berlari ke rumahnya, padangan babe Mamad terus tertuju kearah Dava.


"Kasian tu anak, harusnya sekolah ... malah ngerawat mamaknya, mamaknya sakit pas tahu lakinya nikah lagi," ucap Babe.


"Iya be, perih rasanya hati bayangin cerita Dava tadi, makanya saya usul buat Eko temenin Dava ngamen," ucap Gilbert.


"Iya boleh, tapi kamar kost hanya 1 buat berdua ya ... soalnya kalian kan yang jadi pegawai ane cuma satu," ucap babe.


"Tidak masalah be ...." sahut Gilbert.


"Neng, daripada rantangnya nganggur, mending buka aja buat SCTV," ucap Darwis pada Swara.


"Satu untuk semua," ucap Darwis.


"Kenapa takut bagi?" tanya Darwis.


"Enggak takut, tapi neng masak buat aa loh."


"Kan aa dah makan, jadi mending si sajiin di sini, biar siapa aja bisa cicipin," ucap Darwis.


"Eleh, paling tu rantang dah dijampi-jampi ama kak Swara, makanya dia takut kasih ke babe, karena takut babe kejar-kejar dia kemakan pelet yang harusnya tertuju buat bang Eko." Tiba-tiba Dava datang dengan ukulelenya.

__ADS_1


"Eh enak aja, aku nggak masukin apa-apa, ini silakan dinikmati." Swara meletakan rantang diatas meja.


Babe Mamad langsung membuka rantang tersebut. "Wah ... ayam goreng, oseng-oseng, semur jengkol, sambel, lapapan. Makasih banyak neng Swara moga enteng jodoh ...." ucap babe semangat.


"Sebentar aku tinggal dulu mau ambil piring dan bikin minum buat Dava," ucap Cinta. Dia segera masuk kedalam rumah.


"Tunggu apalagi aa eko, ayo nyanyi sana ...." pinta Swara.


"Jangan Nyanyi dari awal bang, abang harus berlatih bagian reft bengek tadi," pinta Dava.


"Oh iya, boleh juga." Darwis mempersiapkan vokalnya. "Ji-ji-jikaaa ... Ehekkk!"


"Wah masih bengek!" dumel Dava.


"Ulang lagi." Darwis berulang kali mengatur napasnya.


"Jika~ kau bertemu aku begini~ Berlumpur tubuh dan keringat membasah bumi, Di penjara~ terkurung, terhukum, Hanya bertemankan sepi, Bisakah kau menghargai ... Cintaku yang suci ini?


Oh, Tiara, pedihnya. Dapatkah kau merasakan? Oh, Tiara, pedihnya. Dapatkah kau merasakan~"


Prok! Prok Prok!


Swara langsung bertepuk tangan. "Suara Aa Eko bener-bener enak ...." pujinya.


"Mantap suaramu Eko!" puji babe.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2