
"Yang bilang aku sibuk di kantor siapa ma? Aku bilang aku sibuk. Sibuk menikmati hidupku mama."
"Gilberttt!!" Teriak wanita di ujung telepon itu.
"Mama, cintai jantungmu, karena mencintai jantung tidak seperti mencintai usus yang bisa dicintai dengan minum 2 botol yakult tiap hari."
"Gilbert!" Wanita di ujung telepon sana semakin kesal.
"Mama, lagi dapet ya? Biar aku beliin kiranti mah."
Terdengar deruan napas yang memburu di ujung telepon sana, Gilbert tahu kalau ibunya semakin emosi.
"Gilbert! Pulang sekarang, ada Florencia di rumah, kamu tahu perjuangan dia ingin bertemu tidak mudah sayang."
"Mana beratnya berjuangan Floren dengan perjuangan ninja hatori ma? Mendaki gunung lewati lembah ...." goda Gilbert.
Darwis yang mendengar ucapan Gilbert berusaha keras menahan tawanya.
"Pulang sayang, kasian Floren, dia datang dari luar negri hanya untuk bertemu kamu."
Halah! Alasan manis banget, kayak aku nggak tahu aja kalau dia udah nggak laku jadi artis di luar Negri sana. Batin Gilbert.
__ADS_1
"Sayang, kasian Floren menolak banyak pekerjaan karena ingin mengobati rindunya dengan teman masa kecilnya."
"Maaf mama, aku lagi liburan sama Darwis. Aku tidak ada di kota ini, aku lelah bekerja mama ... makanya aku jalan-jalan dulu."
"Kamu liburan kemana? Biar mama dan Floren nyusul!"
"Ma, aku liburan mau melepaskan beban yang seakan membelenggu tengkukku, bukan menambah tekanan bebanku. Kalau kalian menyusul, sama saja aku nggak liburan."
"Gilbert!"
"Sudah ya mama, makanan aku sudah datang, aku mau makan duli, nanti mama malah ngomel kalau aku lupa makan, see you mama ...." Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Gilbert langsung memutuskan panggilan mereka secara sepihak.
"Bos, aku samar mendengar ada nama Florencia, memangnya dia datang lagi?" tanya Darwis.
"Kata mama dia ada di rumah."
"Pasti mau manfaatin nama besar bos lagi, dulu kan dia jadi artis karena statusnya kekasih bos."
"Itu juga yang terbersit dalam otak kotorku."
Gilbert menghentikan makannya.
__ADS_1
"Kenapa bos? Tidak enak?"
"Bukan, aku hanya berpikir bagaimana supaya kamu tidak memanggil aku bos."
"Iya juga ya ...." Darwis melepas sendok dan garpunya. Satu tangannya menjadi penumpu dagunya. Dia memikirkan ucapan Gilbert.
"Andai aku pakai jas, turun naik mobil mewah, orang-orang yang mendengar kamu memanggil aku bos, akan merasa wajar. Lah penampilanku begini dipanggil bos, hal ini akan menggiring pemikiran orang-orang kalau aku bos preman."
"Ow!" Darwis teringat kejadian saat mereka di angkot. "Pantas saja Nenek itu selalu memeriksa isi tasnya, pasti dia berpikiran demikian."
"Kan! Kan! Kimprit memang kau!" omel Gilbert.
Perlahan telinga mereka di sambut alunan nada yang sangat asyik di telinga. Gilbert sangat tahu lagi itu. Suara musik di cafe itu volomenya sangat santai, tidak terlalu aduhai seperti dalam angkot sebelumnya.
"It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you." Gilbert ikut bernyanyi mengikuti lagu itu.
"Is it the look in your eyes or is it this dancing juice? Who cares, baby, I think I wanna marry you." sambung Gilbert.
Sejenak dia terdiam meresapi lagu itu. "Kapan ya, aku mengatakan kata itu pada seorang gadis?" ucap Gilbert.
__ADS_1