Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 12


__ADS_3

Keduanya terus mengayunkan kaki mereka menyusuri jalanan. Namun otak mereka sibuk bekerja mencari solusi atas problem mereka. Pandangan Gilbert tertuju pada seorang pengamen yang jajan cilok di seberang jalan, hal itu membuat sebuah ide muncul di kepalanya.


"Kamu kerjasama ama korban Bapak jarang pulang!" ucap Gilbert.


"Maksut bos, aku ngamen?"


"Iya, temani anak kecil itu, nah aku jualan bakso kamu ngamen, aku akan jualan di dekat kamu ngamen," ucap Gilbert.


"Ide bos mantap!" puji Darwis.


"Nah kan, nggak perlu micin buat cerdas, karena kalau pada dasarnya pinter, minum air kobokan pun tetap pinter." Gilbert membanggakan diri.


Obrolan mereka seketika terhenti saat melihat gerobak bakso yang bertuliskan 'Bakso Babe Mamad 5000'


Gilbert dan Darwis saling pandang.


"Itu Cinta!" ucap keduanya kompak.


"Tenang-tenang ...." ucap Darwis.


Gerobak itu semakin mendekat, dan berhenti di depan Darwis dan Gilbert. "Elah busett dah! di kasih uang malah tetap jalan kaki!" omel Cinta.


"Sayang duit neng, lumayan ongkos balik bisa untuk biaya makan besok," kilah Darwis.


"Karena kita ketemu di sini, ayok ikut aku," ajak Cinta.

__ADS_1


"Gerobaknya biar Eko yang dorong Cin," ucap Gilbert.


"Eleh Bambang!" dumel Darwis.


"Sebagai training pertama, Eko dorong sampai 1 kilometer kedepan, setelah itu bambang," ucap Cinta.


"Oke, siap neng Cinta." Darwis segera memposisikan diri di pegangan gerobak.


"Awas hati-hati, mendorong gerobak gak cuma butuh tenaga, tapi keseimbangan dan perasaan," ucap Cinta.


Sulit, beberapa kali Darwis hampir kehilangan keseimbangannya. Beruntung Cinta cekatan menolongnya.


"Sudah habis baksonya Cin?" tanya Gilbert.


"Iya udah bang, berkah hari ini. Biasanya aku jualan sampai malam belum tentu juga habis.


"Depan, kita belok, rumah Cinta masuk jalan itu," ucap Cinta.


Mereka bertiga masuk ke jalanan kecil itu.


"Gantian, sekarang giliran Bambang," ucap Cinta.


Gilbert segera meraih pegangan gerobak, dan mulai mendorongnya. Beberapa kali oleng, walau terbiasa menganggkat beban puluhan kilo saat gym, butuh penyesuaian untuk mengendalikan gerobak.


"Latihan pertama kalian nanti dorong gerobak dulu sampe luwes, dorong gerobak kosong aja oleng gini," ucap Cinta.

__ADS_1


"Maaf Cin, kan kami terbiasa bekerja di ruangan ber AC dengan kertas dan pena," ucap Gilbert.


"Iya, kami terbiasa duduk santai menunggu calon pembeli, nah pekerjaan kami dengan pena dan kertas nota," Darwis menambahi.


"Ow ...." Cinta baru mengingat kalau dua pemuda ini sales handphone.


"Jauh juga ya Cin perjalan yang kamu tempuh," ucap Gilbert.


"Lumayan lah."


Di depan mereka terlihat sebuah spanduk besar bertuliskan:


Bakso Babe Mamad 5000, Menerima pesanan. Hubungi +62xx xxxx xxxx


"Itu rumah kamu Cin?" tanya Gilbert.


"Bukan, itu rumah babe Cinta." sahutnya.


"Kan rumah Bapakmu, rumahmu juga Cin," sela Darwis.


"Secara kekeluargaan iya, secara status sosial bagiku beda, aku tidak bisa mengakui itu rumahku, karena itu milik Bapakku. Nah apa yang bisa aku banggain dari harta orang tua?" ucap Cinta.


Deguarrrr!


Rasanya sebuah bom meledak di hati Gilbert. Selama ini dia sangat bangga dengan semua aset orang tuanya.

__ADS_1


"Andai itu dari usaha aku sendiri, aku tidak punya nyali untuk memamerkannya, apa gunanya harta yang banyak yang hanya untuk kebanggaan dan pengakuan kalau dia sultan, tapi hartanya tidak bermanfaat untuk orang-orang sekitar?" ucap Cinta lagi.


Sesak, tapi Gilbert tidak tahu sebab apa batinnya terasa terikat seperti ini.


__ADS_2