
Seorang laki-laki paruh baya, dengan kumis yang melengkung diatas mulutnya, dan tinggi badan kisaran 150cm, berdiri di depan rumah.
"Assalamu'alaikum, babe ...." Cinta langsung meraih tangan laki-laki itu dan mencium punggung tangan tersebut.
"Wa'alaikum salam. Kamu datang bawa siapa neng?"
"Calon pegawai baru be."
"Yakin mereka orang baik? Ntar kaya Sumanto kemaren yang nikung hak orang."
"Nikung Hak orang apaan, Wis?" bisik Gilbert.
"Maaf, permisi. Nikung hak orang apaan ya be? Nikung bini teman atau pacar teman gitu?" tanya Darwis. "Aduh!" Darwis kaget, karena Gilbert menendang betisnya.
"Nikung hak orang ya nyolong, nyuri!" ucap babe sinis.
"Owh ... maling toh ...." gumam Darwis.
"Kamu kenapa langsung nanya sih Eko!" protes Gilbert.
"Daripada desas-desus menimbulkan fitnah, lebih baik bertanya langsung pada yang bersangkutan, biar jawabannya pasti!" sahut Darwis.
"Kalau kalian orang baik-baik, saya minta jaminan KTP kalian sini!" pinta babe.
__ADS_1
KTP? alamakkk alamat ketahuan sebelum berjuang, batin Gilvert.
"Hiks!" Tiba-tiba Darwis terisak, dan dia langsung duduk di jalanan. "Bercuuucuran ... air mata, jika ku terkenang ..., hiks!" Darwis semakin terisak.
"Elah tong ... gua minta KTP lu malah nyanyi sambil nangis!" dumel babe.
"Betapa beesar perjuangan kami merantau ...." Masih dengan nada lagu 'Surga Di Telapak Kaki Ibu'
Kekhawatiran Gilbert seketika lenyap, saat perutnya terasa diobok-obok melihat drama ku menangis yang diperankan Darwis.
"Saat pertama kami datang ke kota ini, kami dicopet! Prusss!" Darwis menyemburkan cairan penghuni lubang hidungnya ke ujung kaos yang dia kenakan.
"EEWWWW!" Gilbert semakin mual.
"KTP, dan surat-surat berharga lain lenyap, Aaaa ...." Darwis semakin terisak.
"Nggak apa-apa be, tampang kami memang gelandangan, tapi jiwa kami seperti--" Darwis bingung mengumpakan dengan kata apa.
"Seperti apa?" tanya Cinta.
"Mau bilang seperti malaikat, ketinggian," sahut Darwis.
Ntin! Ntinnnnn!
__ADS_1
Suara klakson motor yang begitu kencang membuat fokus mereka terbelah.
"Be ... minta anak buahnya naruh gerobak di tempat yang benar, ini ngalangin jalan!" keluh pengguna jalan.
"Maaf bang! Mereka orang baru, ini lagi di training ...." Cinta berlari dan membawa gerobak itu menuju tempat khusus.
"Maaf ya be, saya lupa nanya gerobak parkir di mana," sesal Gilbert.
"Iya nggak apa-apa, namanya juga baru. Oh iya perkenalkan, saya Somad Samsuri, akrab dipanggil babe Mamat. Kalian?"
"Saya Eko be ...." Darwis segera meraih tangan Babe dan mencium punggung telapak tangan itu seperti yang Cinta lakukan.
"Saya Bambang, be." Gilbert ragu, pada ibunya saja dia tidak pernah mencium tangan, dia lebih suka memeluk dan mencium pipi kanan dan pipi kiri ibunya.
Pluk!
Babe Mamat menggerakkan tangannya, hingga cincin bermata batu yang berukuran cukup besar itu mengenai jidat Gilbert.
"Nggak sopan banget lu salaman ama yang lebih tua kayak salaman ala pengusaha saja!" omel babe.
"Maaf be ... saya terpana melihat batu cincin babe ...." Gilbert sambil mengusap jidatnya yang ngilu karena ciuman batu cincin babe mamad.
"Owh, ini cincin sejarah, diwarisin turun temurun dari keluarga babe," ucap babe mamat.
__ADS_1
"Wah ... barang antik sangat bernilai," puji Darwis.
"Iya, di tawar 1 miliar loh, babe nggak jual, sejarah ni cincin kagak bisa di ukur dengan kadar duit!" ucap babe sambil mengusap batu cincinnya.