Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 3


__ADS_3

Darwis memahami salah satu keteledoran mereka, saat ini Gilbert belum memakai gigi palsu atau tumpul palsu.


"Mas, pesanannya."


Ucapan penjual minuman es kekinian membuat Darwis tersadar dari lamunanya.


"Iya kak, berapa?"


"Biasa ya kak, 10 ribu, 5 ribu satuannya kak."


Darwis segera membayar minuman itu.


"Kak, minum aja kak? Enak minum es ditemani oleh bakso kak, murah ... cuma 5 ribuan," tawar Cinta penjual bakso.


Darwis dan Gilbert saling pandang, uang cash mereka sudah habis, 10 ribu itu pun kembalian belanja mereka beberapa bulan lalu. Tidak mungkin mereka bayar bakso dengan kartu debit.


"Lain kali ya dek ... lagi bokek dek," ucap Darwis.


"Iya, ini kami lagi usaha cari kerja," Gilbert menambahi.


"Kalian butuh kerjaan?" Cinta sangat semangat mengetahui ada orang butuh pekerjaan.


"Iya, lagi butuh dek, buat menyambung hidup," sahut Darwis.


"Sebentar kak, aku selesaikan bungkus bakso dulu." Cinta mempercepat pekerjaannya.

__ADS_1


"Santai aja dek, kami juga mau ngaso dulu, soalnya capek jalan kaki, naik angkot nggak ada duit," ucap Gilbert.


"Sip Kak." Cinta mengacungkan ibu jarinya pada Gilbert dan Darwis.


Hanya hitungan menit, Cinta selesai dengan pekerjaannya, pembelinya juga tidak ada yang datang.


"Kakak-kakak, sini!" Cinta menepuk dua kursi plastik yang tersedia di samping gerobaknya.


Gilbert dan Darwis segera duduk, Cinta juga duduk berseberangan dengan mereka.


"Kakak-kakak butuh pekerjaan kan?" Cinta memastikan.


"Sangat butuh," sahut Darwis dan Gilbert serentak.


"Kalau Kakak mau, ada lowongan di tempat aku, karena banyak yang berhenti menjualkan bakso Babeku, jadi ... banyak gerobak yang nganggur, kalau kalian mau, kalian boleh bekerja sama Babe aku," ucap Cinta.


"Ramah sama pembeli, dan kuat angkat kuali bakso, juga kuat dorong gerobak," sahut Cinta.


Gilbert merasa itu mudah, dia sering mengangkat beban berat saat Fitnes.


Sedang Cinta terdiam, dia memikirkan hal lainnya. "Bukan cuma itu sih, pembagian hasil lumayan kecil, tapi kalian harus siap lelah berjalan jauh."


Itung-itung joging, toh biasa keliling komplek juga aku, batin Gilbert.


"Sepertinya aku sanggup dek," ucap Gilbert.

__ADS_1


"Kalau kalian memang berminat, hari ini kalian aku training dulu ya ...."


"Secepat ini?" Darwis sangat terkejut.


"Ya biar nanti kalian tidak perlu waktu khusus buat belajar tentang takaran porsi, belajar teori plus praktek itu lebih mudah di fahami," ucap Cinta.


"Tapi ...." Gilbert ragu mengutarakan kata-katanya.


"Tapi apa?" sela Cinta.


"Tapi aku nggak kuat kalau harus teriak kayak kamu sambil nyanyi nada 10 gelombang kanan 10 gelombang kiri ...." Gilbert menggaruk sisi telinganya yang tidak gatal.


"Itu tidak harus, itu hanya kegabutanku saja," ucap Cinta.


"Baiklah kalau begitu, kami siap ikut kelas training," ucap Gilbert.


"Selagi sepi, minta nomor telepon kalian sini, biar aku mudah kasih kabar," ucap Cinta.


Darwis dan Gilbert saling pandang. Mana mungkin mereka mengeluarkan hp sultan dengan logo apel digigit di sini.


"Maaf, sudah tidak punya hp," ucap Gilbert.


"Zaman canggih gini masa nggak punya," keluh Cinta.


"Tadi punya dek, tapi harus di jual buat biaya hidup."

__ADS_1


Cinta memahami dilema dua orang yang duduk di depannya. "Ya sudah, nggak apa-apa, kalian simpan nomorku." Cinta mengambil buku kecil yang selalu dia simpan di tas pinggangnya, dia mulai menuliskan nomor teleponnya pada kertas.


"Nanti hubungi aku setelah kalian punya hape lagi," ucap Cinta.


__ADS_2