
Tidak ada yang mengerti penderitaannya, saat ini Darwis hanya ingin minum untuk menenangkan tenggorokannya. Gilbert menatapnya begitu tajam, sedang pengamen cilik itu sibuk memperkirakan isi saweran dalam kantong yang dipegang Gilbert.
Darwis merasa lega, saat ada pedagang asongan lewat di depannya, dia menunjuk botol air mineral dan memberikan pedagang itu pecahan 5000.
"Ada lagi yang lain mas?" Pedagang Asongan itu memastikan.
Darwis menjawabnya dengan bahasa isyarat, kalau dia tidak butuh apa-apa lagi.
"Oke, makasih mas."
Darwis kembali merespon dengan bahasa isyarta, dia sibuk menegak air dalam botol itu untuk menenangkan tenggorokannya.
"Andai bang Eko tadi sukses nyanyinya sampai selesai, pendapatanku lebih gede dari ini."
"Ilih! Kau tidak peka dengan penderitaanku, aku tersiksa karena seret kau hanya bisa ngomel!" Darwis mengacak rambut pengamen cilik itu.
"Bang, mau jadi patner aku nggak bang? Kalau mau hasil ngamen bagi 2 juga nggak apa-apa." tawar pengamen cilik itu.
Kali ini Gilbert yang tertawa, dia membayangkan Darwis menjelajahi jalanan menunjukan kelebihannya dalam bernyanyi.
"Abang pikir-pikir dulu ya dek. Soalnya Abang menerima pekerjaan dari teman abang," sahut Darwis.
"Kalau abang minat kerjasama sama aku, samperin aku di sini bang, aku mangkal di lampu merah ini setiap hari."
"Siap dek ...."
__ADS_1
Darwis dan Gilbert harua meneruskan tujuan mereka menemui cinta
"Handphoneku tadi sudah dimatikan bunyinya?" tanya Gilbert.
"Sudah Bambang," sahut Darwis.
"Mantap bang Eko ...." ledek Darwis.
Mereka terus berjalan menyusuri jalanan. Saat melewati sebuah jembatan, keduanya melihat ada seseorang ingin terjun dari atas jembatan.
"Aakkkkk!" Teriak orang itu. "Semangat dalam diriku menyala karena rasa cintaku padamu! Kenapa semua semangatku engkau padamkan karena kenyataan aku yang tidak punya apa-apa!"
Darwis dan Gilbert saling tatap.
"Dia mau bunuh diri?" Ucap keduanya kompak.
"Sabar mas! Ditinggal dia bukan berarti dunia juga berakhir!" ucap Darwis.
"Yang berakhir hanya cinta mas, bukan hidupmu!" ucap Gilbert.
"Kalau dia milih yang lain, artinya dia tidak pantas buat mas! Jangan merendahkan diri mas dengan bunuh diri!" ucap Darwis.
"CUT!
Teriakan dengan pengeras suara itu menyita perhatian Darwis dan Gilbert. Keduanya kompak menoleh kearah yang sama. Tidak jauh dari mereka banyak peraatan syuting.
__ADS_1
"Keamanan mana ini woy! Kenapa pengguna jalan mengira ini adegan sungguhan!" Teriak seseorang yang duduk di bawah payung besar bermotif pelangi.
"Mampus kita Bang ...." keluh Darwis.
"Kenapa kita nggak lihat peratan syuting sebanyak ini tadi ...." gerutu Gilbert.
"Maaf Pak Sutradara ... maaf ..., jiwa kemanusiaan kami bangkit saat melihat saudara setanah air kami ingin bunuh diri." Darwis menangkupkan kedua tangan di depan dada, sambil sedikit membungkuk.
"Tidak apa-apa, sudah sana jalan!"
"Makasih banyak Pak, permisi ...." Darwis segera menarik Gilbert untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Ya ampun ... niat menolong malah mempermalukan diri sendiri," keluh Gilbert.
"Iya bos, sumpah aku malu banget!"
"Sama."
Keduanya terus berjalan, melihat banyak pedagang kaki lima yang berjejer di tepi jalan, seketika Gilbert teringat sesuatu.
"Wis, kalau aku sama kamu jualan bakso yang sama, kita jadi rival dong?"
"Iya juga ya bos? Tapi kalau aku nggak jualan bakso, apa iya aku harus ngintilin bos nggak ngelakuin apa-apa?
Krik! Krik! Krik!
__ADS_1
Berusaha mencari ide lanjutan.
*Bersambung.