Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 2


__ADS_3

Darwis dan Gilbert sama-sama tenggelam dalam pemikiran mereka.


"Untuk mengetahui penilaian orang-orang pada suatu Negara, maka kita harus keluar Negara itu untuk mendengar bagaimana penilaian orang," ucap Gilbert.


"Aha!" Darwis serasa menemukan ide. "Kalau begitu, Bos juga harus keluar sementara dari kehidupan bos saat ini."


"Ide bagus, ayok kita mulai," ajak Gilbert.


"Sebentar, aku ambil bajuku yang paling mengsad dulu buat bos."


Darwis ke kamarnya mengambil apa yang dia mau, sedang Gilbert segera mengganti pakaiannya.


"Hummmp!" Darwis berusaha menahan tawanya, saat melihat bosnya yang selalu mengenakan setelan sultan, kali ini hanya mengenakan jeasn 70 ribu, sendal biasa dan baju kaos 3pcs 50 ribu.


"Kenapa?" ucap Gilber sinis.


"Pakai apa saja, bos tetap ganteng ya? Rasanya cinta cewek nanti karena bos itu ganteng."


"Hmm ... benar juga, aku selalu lupa akan berkah yang Tuhan beri dengan kadar ketampananku yang nyaris sempurna. Kira-kira aku harus apa ya?"


"Aha! Bagaimana kalau beli gigi tinggos atau tumpel bos? Lalu nama bos jadi Bambang tumpel atau Bambang Sugigih gitu?" usul Darwis.


"What?"

__ADS_1


"Kan kayak cerita rakyat gitu bos, Joko Ireng, Joko Kendil, setelah menemukan cinta sejati baru ketahuan kan wujud aslinya," ujar Darwis.


"Benar juga idemu, ayok kita jalan," ajak Gilbert.


Keduanya melangkah keluar hotel dengan raut kebahagiaan seolah mendapatkan doorprize. Saat ingin memasuki mobil sport Gilbert, keduanya kompak mematung.


Krik! Krik! Krik!


Keduanya seakan kompak memikirkan sesuatu


"Ini tidak mendukung misi kita," gerutu Gilbert.


"Jalan kaki bosku, sanggup?" usul Darwis.


Keduanya meninggalkan hotel dengan berjalan kaki. Sudah 3 kilometer mereka berjalan, keringat mulai bercucuran membasahi tubuh keduanya.


"Bos, ada es kekinian, beli yuk!" usul Darwis.


Gilbert memangdang kearah penjual es kekinian yang di kerumuni orang-orang. "Aman?" Gilbert belum pernah membeli minuman di pinggir jalan.


"Aman bos! Tidak kalah kok dengan minuman-minuman bermerk langganan bos."


Mereka ikut mengantri minuman kekinian yang bertuliskan mulai dari 5000.

__ADS_1


"Bakso limarebuan! Yuk bakso! Bakso ciin ...."


Tiba-tiba seorang gadis cantik dengan rambut diikat tinggi memarkirkan gerobak baksonya di samping penjual es kekinian.


"Baru datang Cin?" sapa penjual es.


"Iya, karena penjualan sepi, banyak pegawai Babe pada berhenti jualan, kan gajih mereka tergantung porsi yang mereka jual."


Gadis itu mengambil saputangan yang menggantung di sebelah bahunya, dan mulai mengelap keringat di wajahnya. Raut wajahnya tetap ceria, seolah tidak ada beban dalam hidupnya. Padahal baru saja dia cerita kalau kehilangan pegawai.


Gilbert mengagumi semangat gadis penjual bakso limarebuan itu.


Melihat bosnya memandangi penjual bakso itu, Darwis seakan menangkap sesuatu.


"10 rebu yang special, 5 ribu yang sederhana, beli! Beli! Beli!"


Darwis terkesiap mendengar teriakan gadis itu, dengan nada yang familiar di telinganya, seperti nada 10 gelombang kanan dan 10 gelombang kiri yang viral di aplikasi tok-tok.


"Ayok yang laper yang gabut sini mendekat, bakso lemaribuannya nikmat ciin, ayok sayang-sayangnya adek cinta ...." teriak gadis itu.


Teriakannya sangat mengganggu, tapi ampun untuk memanggil pembeli, beberapa pengguna jalan mulai mengantri membeli bakso itu. Datangnya para pembeli, membuat wajah gadis itu semakin bahagia.


Gilbert kembali tenggelam dalam pemikirannya. Orang-orang di jalan ini sangat bahagia saat ada pembeli yang datang, padahal yang mereka jual hanya 5 ribu. Darwis memandangi wajah-wajah lelah yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2