
Gilbert dan Darwis memandangi kertas yang bertuliskan nomor handphone Cinta. Tiba-tiba terdengar deringan handpone dari sling bag yang menggantung di bahu Darwis. Wajah ramah Cinta seketika berubah muram.
"Belum apa-apa kalian sudah membohongi saya! Bisnis sama saya itu diutamakan kejujuran!" omel Cinta.
"Maaf, bukan maksud tidak jujur, itu bukan handphone kami," sela Gilbert.
"Handphone curian?" tebak Cinta. "Ya Tuhan ... hampir saja aku merekrut pencuri!" keluh Cinta.
"Bukan ... ini handphone kantor, dulu aku dan Gilbert sales handphone Sultan." Darwis mengeluarkan handphone itu dari dalam tas, dan memperlihatkan handphone itu pada Cinta. "Lihat, ini hape Sultan, mana sanggup kami beli beginian. Sebagai Sales, kami dipinjamkan satu untuk menarik pembeli." kilah Darwis.
"Iklan bukan sekedar iklan, saat bekerja kami mempersilakan member menggunakan handphone ini, kan kalau mereka merasakan langsung fitur-fiturnya mereka jadi yakin." Gilbert menambahi.
"Seperti bakso yang kamu jual, sekedar mendengar enak, mereka ragu kalau belum mencicipinya," sambung Darwis.
"Begitu juga handphone, dengan mereka menggunakan angsung, mereka akan terpukau dan berniat beli," ucap Gilbert.
"Kalau punya handpone mahal ini, saat susah seperti ini mending saya jual aja dek, buat apa handphone mahal tapi diri tersiksa," ucap Darwis.
Melihat langsung handphone itu bernilai diatas 10 juta, Cinta berusaha percaya.
__ADS_1
"Handphone ini masih ada pada kami, niatnya kami ingin mengembalikan ke kantor, karena uang habis, ya nggak bisa naik angkot, jalan kaki juga ini lagi usaha," ucap Gilbert.
"Maafkan saya, saya sangat benci pembohong dan pencuri," sesal Cinta.
"Maafkan kami juga, kami sama sekali tidak bermaksut untuk bohong, tidak mungkin kami menceritakan semua beban kami pada orang baru," ucap Darwis.
"Ngomong-ngomong, ikatan kalian apa? Kalian kompak banget," ucap Cinta.
"Kami sama-sama anak rantau di kota ini, nah kami ketemu di stasiun, lalu ngekost bareng demi mengirit uang di dalam saku," sahut Darwis.
"Kalau kalian mau lebih irit lagi, kalian bisa tinggal di kost-an babe, di sana ada kost-an khusus buat pegawai babe," ucap Cinta.
"Lah, perjalanan kalian buat anter handphone gimana? Nanti kantornya tutup loh," ucap Cinta.
Gilbert dan Darwis saling pandang, ucapan Cinta membuat mereka tersadar dengan keteledoran mereka.
"Trainingnya boleh di lanjut nanti gak dek? Setelah kami antar handphone," usul Darwis.
"Boleh banget, nanti kalian datang lagi ke sini," ucap Cinta.
__ADS_1
"Siap dek, kami pergi dulu ya," ucap Gilbert.
"Sampai jumpa lagi dek," ucap Darwis.
"Eh tunggu!" Cinta terlihat sibuk merogoh tasnya. "Ini ongkos buat naik angkot." Cinta memberikan gumpalan uang lima ribuan pada Darwis.
"Jangan dek ..., kami kuat kok jalan kaki," tolak Darwis lembut.
"Udah terima aja, kalau kalian merasa terhina karena aku memberi kalian uang, kalian boleh bayar nanti saat kalian punya uang, toh du hari akan datang kita akan bertemu lagi," ucap Cinta.
"Kalau dianggap hutang, oke nggak apa-apa, makasih dek," ucap Gilbert.
"Semangat ya ...." ucap Cinta.
"Makasih dek, kami jalan dulu." ucap Darwis.
Darwis dan Gilbert bersiap menunggu angkutan umum yang lewat.
"Kita ngapain di sini?" bisik Gilbert pada Darwis.
__ADS_1
"Naik angkot lah, masa nunggu odong-odong," sahut Darwis.