Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 6


__ADS_3

Darwis tersenyum melihat semangat yang menyala dari dalam diri bosnya. "Kita turun dulu bos, misi kali ini selesai," ucap Darwis.


"Memangnya kita sudah sampai?" tanya Gilbert.


"Sampai kemana bos? Kita tidak punya tujuan." Darwis menoleh kedepan. "Bang, turun di depan ya ...." pintanya pada supir taksi.


Perlahan mobil itu menurunkan kecepatannya, dan berhenti di tepi jalan. Setelah dia dan bosnya turun, Darwis segera membayar ongkos taksi mereka. Keduanya kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang saat ini mulai terasa panas.


"Yang tadi nelpon siapa Wis?" tanya Gilbert.


"Owh, itu yang telepon tadi Nyonya."


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Gilbert kesal, dia segera merebut handphonenya yang dia titipkan di tas Darwis.


"Sabar bos, jangan menelepon di sini, bahaya. Handphone bos benda yang terlalu berharga," ucap Darwis.


"Lalu aku harus menelepon mamaku dari atas pohon?"


"Bukan bos, kasian monyet kalah tampan kalau bos ikut nangkring diatas pohon," goda Darwis.

__ADS_1


"Kimprir Kau!" omel Gilbert.


"Kita ke sana bos." Darwis menunjuk kearah salah satu Cafe yang tidak jauh dari posisi mereka.


"Di sana terima pembayaran gesekan? Kalau engak alamat bikin malu, aku lupa bawa uang Cash," keluh Gilbert.


"Di depan Cafe ada ATM, bos. Nanti aku narik uang dulu di sana."


"Kalau begitu, hayuk!" Gilbert berjalan lebih dulu. Hawa yang panas membuat permukaan kulitnya seakan terbakar. Bersantai di ruang ber-AC yang ada di Cafe itu sangat nyaman.


Sesampai di sana, Darwis menarik uang. Uang di tangan. Keduanya melenggang bersama memasuki Cafe.


"Maaf mas, kami tidak menerima lowongan pekerjaan," ucap salah satu Security.


Sial! Baru kali ini aku ke Cafe dikira mau melamar pekerjaan. Batin Gilbert.


"Nggak sayang uangnya mas? Daripada buat gaya, mendingan buat menyambung kesejahteraan kehidupan nanti mas," ucap Satpam.


"Sesekali makan enak tidak membuat kami miskin Pak, uang bisa di cari. Kesenangan kami sendiri yang ciptakan."

__ADS_1


Sial, Satpam ini mengira kami nggak punya uang. Batin Gilbert.


Eh ... bagus sih, jadi misiku berhasil dong, gerutu hati Gilbert.


"Terserah mas-mas saja. Saya hanya mengingatkan sekali makan di tempat ini, cukup untuk biaya hidup mas selama seminggu di luar loh," ucap Satpam.


"Terima kasih perhatiannya Pak," ucap Darwis. Darwis menyelipkan selembar uang ke saku Pak Satpam. "Buat beli rokok Pak," ucapnya.


"Wah ... terima kasih." Satpam itu sangat bahagia. "Semoga rezekinya mengalir deras dan melimpah ruah menghampiri masnya berdua."


Darwis dan Gilbert segera memasuki Cafe itu. Setelah duduk di salah satu meja yang mereka mau, beruntung pelayan di sana melayani mereka sangat profesional. Bayangan Gilbert dia akan mengalami kejadian pembullyan seperti tanyangan-tanyangan video yang biasa dia tonton.


Sambil menunggu pesanan mereka, Gilbert segera menghubungi ibunya via telepon.


"Halo mama, ada apa ma?" sapa Gilbert.


"Ya ampun Gilbert! Kenapa kamu sangat susah di hubungi!" omelan di ujung telepon sana seakan membuat gendang telinga Gilbert pecah.


"Maaf mama ... aku sibuk."

__ADS_1


"Sibuk apanya?! Kata Florencia kamu tidak ada di kantor!" omelan di ujung telepon.


"Yang bilang aku sibuk di kantor siapa ma? Aku bilang aku sibuk. Sibuk menikmati hidupku mama."


__ADS_2