
Makanan mereka habis, mereka segera menuju kasir. Kasir tersenyum, karena Darwis membayar lebih.
"Lebihnya buat kalian," ucap Darwis.
Darwis dan Gilbert meninggalkan Cafe, tapi pandangan mata pelayan yang bertugas menjaga meja kasir tertuju pada dua lelaki tersebut.
"Penampilam sederhana, tapi jiwa berbaginya aduhai ...." Pelayan itu menatap kembali 2 lembaran uang pecahan besar dan beberapa pecahan kecil.
"Nah itu yang berjiwa sultan, walau casing mereka gembel, tapi jiwa berbaginya patut diacungi jempol," ucap pelayan yang lain.
"Hooh, aku tidak pernah kagum sama sultan-sultan yang berkantong tebal, berbagi 2 ribu saja lagaknya kayak sedekah 2 juta." sela yang lain.
"Benar, kapan itu ada perayaan ulang tahun, lagaknya anak sultan, tapi memberi tip pelayan kayak kita aja 5 ribu!"
Beberapa pelayan berkumpul di meja kasir, mengagumi sedekah dua orang yang mereka anggap gembel itu, beruntung mereka tidak menyepelekan orang itu.
"Eh sudah-sudah, 5 ribu kan sedekah anak sultan tapi merata buat kita semua, daripada gede hanya menyenangkan satu orang!" gerutu pelayan lain.
"Eleh, iri bilang bos!" ucap pelayan yang menerima tip itu. "Tenang, uang ini aku bagi rata buat kita semua."
"Asekkk ...." seru yang lain kompak.
Perjalanan Darwis dan Gilbert.
Mereka kembali menyusuri jalanan. Teriknya sinar matahari yang menyengat permukaan kulit mereka abaikan.
"Ganti seragam, ganti handphone, ganti nama, ganti apalagi nih Wis?" tanya Gilbert.
"Belum tau Bang," sahut Darwis.
"Rencanakan semuanya Ko, sebelum kita menyelami kehidupan baru!" ucap Gilbert.
"Iya Bambang!"
__ADS_1
"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu ditendang sekarangku disayang,
Dulu dulu dulu ku menderita
Sekarang aku bahagia ...."
Terdengar suara merdu seorang pengamen cilik.
"Itu kan lirik lagu aslinya, kalau buat bos liriknya berubah," ucap Darwis.
"Berubah bagaimana?" tanya Gilbert.
"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang,
Dulu sultan sekarang namaku Bambang,
Dulu dulu dulu ku bisa segalanya,
"Pandai juga kamu plesetin lagu," puji Gilbert.
"Lanjut nggak bos?" tanya Darwis.
"Lanjut? Hmmm boleh-boleh," sahut Gilbert.
"Dek!" Darwis memanggil pengamen cilik itu sambil melayangkan tangannya pada pengamen itu, isyarat meminta pengamen itu mendekat.
Hal itu sukses menyita perhatian pengamen cilik tersebut, dia berlari mendekati dua pemuda yang memanggilnya. "Iya bang?"
__ADS_1
"Kok dia tau kalau namaku Bambang?" tanya Gilbert.
"Abang, bukan Bambang!" protes pengamen itu.
"Kegeeran Bambang!" ucap Darwis.
"Apaan bang? Kenapa manggil saya? Buru dah! Bentar lagi lampu merah, kalau kelewat sekali, berkurang buat beli beras bang!" dumel pengamen itu.
"Ini bocah ya, pinter ngitung untung ruginya sebuah waktu," puji Darwis.
"Buru bang! Elah ...." keluh pengamen itu.
"Nih buat kamu, tapi kamu temenin kami di sini sambil main ukulele iringin lagu bang Eko, gimana?" tanya Darwis.
"Kalau ada uang mah hayuk, seharian juga ane siap ngiringin abang nyanyi." Pengamen itu kegirangan.
"Eh, kamu bilang buat beli beras, emang Bapakmu mana Tong? Anak sekecil kamu mah harusnya sekolah cari ilmu, bukan cari duit!" ucap Gilbert.
"Bapak saya teperangkap dalam sebuah lagu bang," sahut pengamen itu.
"Kenapa Bapak nggak pulang-pulang ... eemak, kata tetangga, emangnya enak! Lagu ini?" tanya Darwis.
"Iya bang, Bapak terlena di rumah janda, jadi lupa aku sama ibu, nah ibu keadaannya seketika memburuk hingga struk, jadi ... aku harus kerja buat makan kami sehari-hari," sahut pengamen cilik itu.
\*\*\*
__ADS_1
Bersambung pada bab akan datang ya ...