Cinta Tak Bersyarat?

Cinta Tak Bersyarat?
Bab 8


__ADS_3

Sejenak Gilbert terdiam meresapi lagu itu. "Kapan ya, aku mengatakan kata itu pada seorang gadis?" ucap Gilbert.


"Mengucap apa?" tanya Darwis.


Plak!


Gilbert memukulkan buku menu pada Darwis. "Mengucap Will you marry me, pada seorang gadis yang tepat!"


"Ya ucap saja, banyak gadis di sini," goda Darwis.


"Enak saja, aku ini sosok yang sangat special, hanya wanita yang special yang mampu jadi pendampingku." Gilbert bergaya seolah dia memperbaiki posisi krah leher bajunya.


"Hedeh bos! Bajumu nggak ada krah!"


"Eh cepat cari nama baru untukku, kau kan memanggil aku bos, karena merasa durhaka jika memanggilku dengan nama asliku."


"Iya juga ya, kayaknya aku kurang banyak makan micin, otakku jadi nggak encer.


"Apa hubungannya micin dengan tokcernya daya pikir!" bentak Gilbert.


"Kata orang makin banyak makan micin makin pinter, kayak orang lola¹ memahami sesuatu, maka kurang minum katanya." Darwis terkekeh dengan kata-katanya sendiri.


"Cepat pikir! Kira-kira apa enaknya nama buatku? Kan nanti aku akan jadi penjual bakso keliling," pinta Gilbert.


"Iya-iya, nggak mungkin juga nama kang bakonya nama bos," ucap Darwis.


"Bagaimana kalau Juno?" tanya Gilbert.


"Eh eh eh kang Juno, kenapa kau tak pulang-pulang, pamitnya pergi cari uang, tapi kini malah menghilang ...." Darwis bernyanyi sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya.


"Hmmm, ternyata kamu tahu lagu itu," gumam Gilbert.


"Tahu lah bos, hanya saja tidak semua anak muda suka dengan genre itu, banyak yang suka, hanya tersembunyi saja."

__ADS_1


"Juno tadi bagaimana?" tanya Gilbert.


"Kau bilang padaku, baik-baik sayang, abang pasti cepat pulang ... kau janjikan aku sebongkah berlian, sesuap nasi pun jarang ... ah! Ah!"


Pletak!


Buku menu itu kembali mencium kepala Darwis. Kali ini pukulan yang lebih bertenaga, membuat Darwis meringis mengusap kepalanya.


"Kau ini! Diminta serius malah nyanyi!" omel Gilbert.


"Bambang bagaimana bos?"


"Bambang?" Gilbert mempertimbangkan nama itu. "Biasanya orang manggil penjual bakso kan abang, Bambang, bang!" Gilbert masih mempertimbangkan.


"Bang Gilbert, bang Gilbert kenapa tak pulang-pulang ... emakmu, emakmu mengomel kepadaku." Nyanyian Darwis.


"Nyanyi lagi, ku sumpal mulutmu dengan botol merica!" omel Gilbert.


"Bagaimana Bambang tadi?" Darwis mencoba serius.


"Oke, aku setuju."


Gilbert kembali termenung.


"Apalagi bos?"


"Aku Bambang, kamu pakai nama apa?" tanya Gilbert.


"Aku Eko saja, jadi kan masuk Pak Eko, asekkk!" Darwis kembali berjoget.


"Kita menyamar jadi orang biasa Wis, bukan menyamar jadi orang gila!" omel Gilbert.


"Iya, maaf-maaf, Bambang." ucap Darwis.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Eko." Darwis mengulurkan tangannya pada Gilbert.


"Saya Bambang." Gilbert menyambut uluran tangan Darwis.


"Asek, ayo lanjut makan, hari ini hari terakhir kita makan enak, besok kita makan-makanan yang bos belum pernah menemukannya." Darwis kembali melanjutkan makannya.


"Bos, bos, bos, mulu!"


"Maaf Bambang!"


"Eh, di mana kita bisa menemukan baju baru buat dinas jualan bakso nanti?" tanya Gilbert.


"Kita? Kamu aja kali! Bajuku mah aman semua."


"Ya bantu carilah Ko ...."


"Siap Bambang! Setelah dari tempat Cinta, kita beli seragam baru.


Bersambung.


***


Oh iya kata-kata asing diatas aku cantumin di bawah ya.



Lola, dimaksud lambat memaham sesuatu.


Plen, plesetan dari kata friend (teman)



Mohon maaf atas bejibun kekurangan dan kecacatan dalam tulisan ini.

__ADS_1


__ADS_2