
Gilbert mematung mendengar pengakuan anak kecil itu. Mereka yang berjuang di sekitarnya saat ini, bekerja keras bukan untuk kaya. Tapi untuk mengisi perut mereka.
"Semoga adek jadi orang sukses, nanti." Darwis menepuk pundak anak itu lembut. "Semoga Bapak Adek juga nanti menyesal karena menelantarkan kalian."
Ucapan Darwis membuat Gilbert tersadar, hampir saja dia meneteskan air mata karena batinnya seketika sesak membayangkan perjuangan bocah laki-laki itu.
"Abang mau diiringin nyanyi lagu apa?" tanya pengamen itu.
"Lagu kamu yang tadi dek," sahut Darwis.
"Oke bang Eko ...." Pengamen itu mulai memainkan ukulelenya.
"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu ditendang sekarangku disayang
Dulu dulu dulu ku menderita
Sekarang aku bahagia ...."
"Weih ... suara bang Eko keren ...." puji pengamen itu.
Lagu berlanjut, beberapa pengguna jalan berhenti mendengarkan nyanyain Darwis, bahkan sebagian melemparkan uang dua ribuan ke depan 3 orang itu.
__ADS_1
Pengamen kecil itu berhenti memainkan ukulele, dia memberikan kantongnya pada Gilbert. "Bang, karena abang diam aja, tugas abang menerima saweran ya ...." Pengamen itu kembali memainkan ukulelenya.
Brussh!
Semburan seketika terlepas dari mulut Darwis. Beruntung dia sempat menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Darwis tidak mampu menahan tawanya, melihat Gilbert seorang CEO perusahaan besar harus menadah hasil ngamen mereka.
"Beruntung abang tutup, kalau pintunya nggak abang tutup, alamat basah muka ane," keluh bocah itu.
"Udah lanjut nyanyi bang, suaranya bagus!" ucap salah satu pengguna jalan yang berhenti.
Nyanyian terus berlanjut, hinga lagu selesai, para pengguna jalan meminta lagu lanjutan.
"Ayok bang, sedekah suara biar kami bahagia," pinta salah satu pendengar.
"Aku hanyalah manusia biasa. Bisa merasakan sakit dan bahagia. Izinkan ku bicara, Agar kau juga dapat mengerti ...."
Mau tak mau Gilbert menghampiri pendengar yang ingin memberikan uang mereka.
"Makasih ... Makasih ... makasih ...."
Sumpah demi apa? Oh cinta ... kenapa begini baget! Jerit hati Gilbert.
Namun mengingat ini sumber kebahagiaan pengamen itu, dia berusaha semangat.
__ADS_1
"Cinta karena cinta, Hekkkk!" Darwis tidak kuat dengan nada tingginya.
"Yah ... Bang Eko ...." keluh Pengamen itu.
"Maaf dek, dan semuanya." Darwis menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Ganti lagu ya, maafkan kebengekan suara saya," sesal Darwis.
"Boleh-boleh, lagu yang syahdu bang ...." Requist salah satu pendengar.
"Baik-baik, saya teringat satu lagu yang enak banget. Ehem!" Darwis mencoba menormalkan suaranya kembali. "Tiara, menggamit kenangan zaman persekolahan. Tiara, kumimpi kita bersanding atas kayangan~. Seakan bisa kusentuh peristiwa semalam. Di malam pesta, engkau bisikkan kata azimat di telinga~~~"
"Uwuuuu, merdunya ...." puji salah satu pendengar.
"Enak banget suaranya ...." puji yang lain.
Karena alunan lagu itu, beberapa pejalan kaki yang lewat ikut berhenti mendengarkan lagu 'Tiara' yang saat ini dinyanyikan Darwis.
Gilbert tidak habis pikir, kalau Asistennya memiliki bakat terpendam, selama ini dia hanya tahu memerintah Darwis, dengan apa saja yang dia inginkan. Gilbert juga menikmati lagu yang dinyanyikan Darwis.
"Jika--- Ehek! Uhuk!" Darwis tidak mampu menyanyikan dengan baik bagian nada itu.
"Huhhhhh!" Para pendengar kecewa, mereka segera membubarkan diri.
__ADS_1
"Uhukkkk! Uhukkk!" Darwis mencoba menghentikan batuknya, namun tetap saja dia tidak bisa berhenti batuk. Tangan Darwis melambai meminta para pendengarnya untuk bertahan sebentar lagi.
"Abang payah!" gerutu pengamen kecil itu.