Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 9 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Sesuatu yang diawali dengan sebuah keburukan akan berakhir dengan keburukan pula."


♡♡♡


Satu hari setelah Siska melayangkan surat pengunduran dirinya Elang langsung bertindak dan mendatangi kediaman Siska. Kini Elang datang dengan Intan, mereka tengah duduk lesehan di ruang tamu rumah kontrakan Ratih.


"Silakan diminum," tutur Ratih setelah menyimpan dua gelas teh dan juga beberapa jajanan pasar yang tadi pagi dia beli.


Elang dan Intan tersenyum ramah lantas menganggukan kepalanya. "Terima kasih."


"Maaf jika kedatangan kami ke sini terkesan mendadak dan menganggu," ucap Elang berbasa-basi.


Hanya hanya menampilkan senyuman tipisnya sebagai jawaban.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Rama. Maaf saya dan Istri baru bisa sekarang mengunjungi," lanjutnya.


Hubungan Elang dan Rama yang cukup akrab dan tergolong dekat membuat Elang merasa tak enak hati karena tidak bisa melihat Rama untuk terakhir kalinya.


"Tidak apa," sahut Ratih memaklumi kesibukan Elang dan Intan.


"Siska," panggil Intan.


Merasa namanya dipanggil, Siska lantas mendongakan kepalanya. "Iya, Tan."


"Kenapa kamu resign?" seloroh Intan to the point.


"Aku cuman ngerasa gak nyaman aja kerja di rumah sakit besar," jawab Siska.


"Maksud Kamu?" tanya Ratih yang tak tahu menahu tentang pengunduran diri Siska.


Siska menatap kedua manik mata Ibunya. "Ibu, kan tau aku belum pernah kerja, nah sekalinya kerja langsung di rumah sakit besar. Siska ngerasa asing gitu, Bu." jelas Siska menutupi alasan utamanya. Walau pun apa yang Siska utarakan adalah sebuah kebenaran.


"Apa ini semua ada sangkut pautnya sama Edgar?" tanya Elang yang menaruh curiga dengan gelagat Siska dan Putranya yang terlihat merenggang sebelum Siska melayangkan surat pengunduran.


Hubungan antara Siska dan Irfan memang cukup dekat dan akrab. Walau tak dapat dipungkuri bahwa diantara keduanya seringkali bertengkar dan berselisih paham. Tapi bagi mereka itu hal yang biasa.


Siska diam menunduk bingung harus menjawab apa pertanyaan Elang. "Hm.. hm... eng... enggak, Om."


"Yaudah kalau gitu Om minta besok kamu mulai kerja lagi." ucap Elang.


"Ma... maaf...Om kalau untuk kerja lagi Siska gak bisa," tolak Siska yang sudah tak mau lagi berurusan dengan Irfan.


"Kenapa?" Intan ikut larut dalam obrolan.


"Siska gak bisa ngerjain pekerjaannya , Tan." ungkap Siska seraya menampilkan senyuman kikuknya.


"Astagfirullah, jadi itu alasan kamu resign?" sahut Intan.


Siska hanya mengangguk bodoh, dia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk menolak tawaran yang Elang berikan.

__ADS_1


Mendengar alasan Siska, ketiga orang tua itu tersenyum maklum. Karena memang Siska dilahirkan dari keluarga yang sangat memanjakan dirinya. Harta yang cukup, dan kasih sayang yang melimpah ruah dari Ayahnya. Ya, Rama sangat memanjakan Siska, karena memang hanya dialah yang bisa memberikannya.


Sedangkan sang Ibu hanya menghabiskan waktunya untuk keluyuran dan menghambur-hamburkan uang. Oleh karena itulah Siska kekurangan sosok Ibu yang seharusnya memberikan dia banyak limpahan kasih sayang. Namun, sekarang Siska bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang yang diberikan Ibunya. Tapi tetap saja masih ada kekosongan yang dia rasakan.


"Kamu, kan bisa belajar sama rekan-rekan kerja kamu," ucap Ratih membelai pucuk kepala Putrinya.


Siska diam membisu tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Dia dibuat mati kutu dan tidak bisa berkutik.


"Om gak mau tau pokoknya besok kamu harus mulai kerja lagi," putus Elang tegas dan lugas.


Siska hanya bisa mengangguk pasrah. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk menolak permintaan Elang.


Bukan maksud Elang untuk memaksa Siska agar tetap bekerja di rumah sakitnya. Itu semata-mata hanya untuk membantu keluarga Rama dari kesulitan ekonomi yang membelitnya. Jika dia memberikan uangnya secara cuma-cuma dia takut Ratih sekeluarga merasa terhina atas niatan baiknya.


♡♡♡


Siska tengah duduk santai di depan televisi tabungnya, menikmati acara lomba masak yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta indonesia.


"Siska tolong bukain pintu kayanya ada tamu," teriak Ratih yang tengah sibuk membuat pisang goreng di dapur.


"Iya," sahut Siska lalu beranjak membukakan pintu.


Baru saja dia membuka pintunya, dengan cepat dia langsung menutupnya lagi.


"Buka Siska gue mau ngomong sama lo," teriaknya seraya mengetuk pintu kontrakan Siska dengan rusuh.


"Ngapain lo ke sini. Pergi lo!" usir Siska yang masih setia menyandar di balik pintu.


"Gak ada lagi yang perlu lo omongin sama gue. Gue minta lo cabut sekarang juga dari rumah gue," usir Siska lagi.


"Siska siapa, Nak? Kok malah teriak-teriak gitu," seloroh Ratih yang baru saja meletakan pisang goreng di atas karpet.


"Sssstt...jangan berisik Bu," ucap Siska berbisik.


"Siapa?" Ratih bertanya dengan berbisik juga.


"Maling jemuran tetangga," jawab Siska asal jeplak.


"Husstt...jangan sembarangan kamu," ucap Ratih.


"Siska buka! Gue mau ngomong sama lo bentar," suaranya kembali mengusik acara bisik-bisik Anak dan Ibu itu.


"Enggak! Mending lo pergi aja sana," ucap Siska.


Ratih tanpa aba-aba menyingkirkan Siska yang menghalangi pintu dan dengan cepat dia langsung membukakan pintu untuk tamunya.


"Nak Farhan," ucap Ratih setelah dia melihat sosok laki-laki berbadan tegap dan jangkung.


"Hehe iya Tan," ucapnya seraya menggaruk tengkuknya.


"Siskanya ada?" tanyanya basa-basi padahal sudah jelas tadi dia sempat berdebat dengan Siska.

__ADS_1


"Ayo masuk, Nak," Ratih mempersilakan Farhan masuk.


Dengan senang hati Farhan memasuki rumah kontrakan sederhana itu. Dia celingukan mencari keberadaan Siska.


"Siskanya lagi di kamar, Nak," ucap Ratih yang menyadari kebingungan Farhan. Tadi pada saat Ratih berhasil membuka pintu, Siska juga berhasil melarikan diri ke kamarnya.


"Tunggu sebentar biar Tante panggilin dulu Siskanya," ucap Ratih.


"Iya, Tan" sahut Farhan dengan senyuman manisnya.


♡♡♡


Dengan langkah malas Siska menghampiri Farhan yang tengah duduk santai dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng buatan Ibunya.


Siska berdehem pelan tanpa mau repot-repot melihat ke arah Farhan, dengan posisi dia yang masih berdiri seraya menyilangkan kedua kakinya dan bersender pada tembok. "Ngapain lo ke sini?" ketusnya.


"Duduk ngapa lo. Gak sopan bener ngomong sama gue sambil berdiri. Pegel nih leher liat lo kaya gitu," protes Farhan.


"Udah lah jangan banyak protes. Buruan mau ngomong apa?" Siska tak suka berbasa-basi.


Farhan menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum menyamakan posisi Siska yang tengah berdiri. "Nih imbalan buat lo," ucapnya menyodorkan sebuah cek kosong kepada Siska.


"Apaan?" tanya Siska tak mengerti.


"Imbalan buat lo," ulangnya seraya menarik tangan Siska agar menerima cek kosong itu darinya. "Jumlahnya isi sendiri. Terserah lo, mau sebanyak apapun itu," lanjutnya.


Wajah Siska seketika langsung merah padam, menahan gejolak amarah yang sudah ada di ubun-ubun. Rahangnya pun sudah mengeras dengan mata yang melotot tajam siap menerkam mangsanya sekarang juga. "Gue gak butuh!" tegas Siska seraya melempar cek itu tepat di wajah Farhan.


"Lho kenapa? Bukannya ini udah sesuai kesepakatan kita?" tanya Farhan heran dan bingung dengan perubahan raut wajah Siska yang sangat mengerikan.


"Semuanya udah berakhir! Gue gak butuh imbalan apapun dari lo!" putus Siska.


"Sehat? Ngapa lo? Kebanyakan minum obat?" bingungnya.


"Urusan lo udah kelar, kan? Kalau gitu lo bisa cabut sekarang," usir Siska.


Farhan masih diam seribu bahasa tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. "Ini gue yang waras atau lo yang gila sih?"


"Cabut sono gue gak mau lagi berurusan sama lo," usir Siska.


"Tapi... Sis...."


"Pintu masuk dan keluar masih sama," potong Siska cepat.


"Mimpi apa gue semalem sampe si Siska berlaku kurang ajar gitu sama gue," gumamnya seraya keluar dari rumah yang Siska tempati.


Farhan meraba-raba keningnya. "Perasaan gue sehat kok," ucapnya.


"Tuh anak kesurupan apaan sampe berubah sableng kaya gitu."


"Apa dia gak mau cek yah? Ahhh, bingung gue," ucapnya frustrasi lalu melajukan mobilnya keluar hingga membelah jalanan yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2