Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 11 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Jangan samakan satu perempuan dengan perempuan lainnya, karena setiap perempuan memiliki sisi istimewanya."


♡♡♡


Laki-laki tampan yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu tengah tersenyum memandang sebuah bingkai foto yang menampilkan seorang perempuan dengan kerudung yang membingkai indah kepalanya. Senyumnya tak pernah pudar saat melihat gadis yang menjadi obsesinya sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu. Ya, gadis itu adalah Zihan. Perempuan yang berhasil membuat Irfan jatuh cinta dan tergila-gila dengan sosoknya. Perempuan yang selalu tampil anggun dan cantik dengan balutan gamis panjang dan khimar lebarnya.


Irfan, laki-laki yang kini sudah berprofesi sebagai dokter itu sangat terkenal dengan kenakalannya yang tidak bisa bertahan pada satu cinta dan satu wanita. Namun kehadiran Zihan beberapa waktu lalu membuat perasaan Irfan diliputi rasa kebahagiaan. Pasalnya sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Dan dua hari yang lalu dia bertemu dengan Zihan di pinggir jalan. Awalnya dia kesal karena bisa-bisanya Zihan mengira dia adalah seorang tukang ojek. Tukang ojek? Wajah setampan dan semapan dirinya disamakan dengan tukang ojek.


Namun kekesalannya berbuah kebahagian yang sebelumnya tak pernah dia pikirkan. Seorang Zihan menerima tawaran Irfan untuk mengantarkan dirinya pulang. Itu adalah suatu hal yang langka dan dunia harus mencatat rekor murinya. Entah apa yang dia rasakan tapi yang jelas ada geleyar aneh yang menyapa rongga dadanya. Ada sebuah tuntutan untuk memiliki gadis itu sepenuhnya. Cinta dan obsesi terkadang sulit untuk dibedakan. Dan Irfan tidak bisa menafsirkan perasaannya kini. Terlihat masing gamang dan samar-samar!


"Aku ingin memilikimu seutuhnya. Menjadikanmu wanita satu-satunya di hatiku. Zihan Fahira Adinda Pratama," gumamnya seraya mengelus pelan bingkai foto itu.


Cukup lama Irfan berkutat dengan bayangan Zihan yang selalu saja berlarian dan berkeliaran di dalam otaknya. Sampai suara ponselnya berdering dengan nyaring berhasil membuyarkan semua angan dan lamunan panjangnya.


"Ya, Halo," ucap Irfan setelah dia mengangkat ponselnya dan dia arahkan ke daun telinganya.


"Aku gak mau tau sekarang kamu temui aku di tempat biasa. Aku udah nunggu kamu berjam-jam di sini," suara seorang perempuan langsung mengganggu gendang telinga Irfan.


"Huft, shit! Kenapa gue sampe ceroboh gini," rutuk Irfan seraya menjauhkan ponselnya. Dia merutuki kebodohannya yang tidak melihat terlebih dahulu orang yang menghubunginya tadi.


"Maaf, sayang aku lupa. Aku lagi banyak kerjaan," ungkap Irfan pada orang di seberang sana. Bersikap manis adalah andalannya untuk meluluhkan hati perempuan yang tengah mengomel dan marah-marah.


"Lupa? Bukannya tadi pagi kamu yang ngehubungin aku buat lunch bareng," ujar perempuan bernama Marsha yang merupakan pacar Irfan. Ya, setelah putus dari Sarah dia memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan Marsha yang baru dipacarinya dua hari lalu.


Perempuan-perempuan yang hilir mudik keluar masuk di kehidupan Irfan hanya sekedar mainan saja. Karena hatinya sudah terpaut pada satu gadis yang tak lain dan bukan adalah Zihan. Semuanya Irfan lakukan hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada satu orang pun wanita yang menolak pesonanya. Walau dia harus menerima sebuah fakta bahwa ada satu gadis yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Dan Irfan merasa tertantang untuk mendapatkan hati perempuannya. Ya, gadis itu adalah Zihan si gadis berkerudung lebar dan panjang.

__ADS_1


Irfan menghela napas panjang. Malas berurusan dengan Marsha yang terlalu manja dan otoriter padanya. "Maaf tapi aku lagi banyak kerjaan," ulangnya.


Marsha mendengus kesal di seberang sana. "Oke, tapi kamu harus bayarin makanan yang udah aku pesan," ucap Marsha penuh tuntutan.


"Iya, nanti aku transfer ke rekening kamu," sahut Irfan.


"Makasih Sayang," ujar Marsha tersenyum bahagia. Bahkan saking bahagianya dia memberikan sebuah suara kecupan yang membuat bulu kuduk Irfan meremang.


"Have fun, sayang," ucap Irfan lalu memutuskan panggilannya.


"Dasar cewek matre!" Makinya.


Dimata Irfan semua perempuan itu sama. Tidak ada bedanya. Matanya akan melotot keluar saat melihat laki-laki tampan yang berkantong tebal. Karena itulah dia tidak pernah memakai hati dalam menjalin sebuah hubungan. Terdengar sadis dan egois memang tapi itu adalah kenyataannya.


♡♡♡


"Sorry," singkatnya yang masih fokus dengan layar ponsel yang menampilkan sebuah permainan.


Ya, Irfan tengah asik memainkan game yang baru saja dia download. Karena saking asiknya, dia sampai berjalan seraya memainkan game tersebut.


"Dasar gak tau sopan santun! Bukannya bantuin malah asyik main hape," dengus perempuan yang baru saja ditabraknya.


"Selow aja kali, Mba rusuh amat tuh mulut," sahut Irfan tanpa mau melihat orang yang ditabraknya.


Perempuan itu berdiri dari posisi jatuhnya yang mengenaskan. "Lo lagi, lo lagi! Kenapa sih gue harus ketemu lo terus?" sembur perempuan itu saat dia melihat Irfan.


"Apaan sih!" sentak Irfan saat perempuan itu berhasil merebut ponselnya.

__ADS_1


"Lo yang apa-apaan! Udah tau ini jalanan malah main hape sambil jalan. Nabrak orang, kan jadinya!" cerocosnya.


"Kembalikan ponsel saya. Anda tidak sopan mengambil barang orang lain tanpa izin!" ucap Irfan dengan bahasa formalnya. Dia harus menjaga image bila sedang berada di lingkungan rumah sakit.


"Kembalikan Salsha!" kata Irfan.


"Enggak, siapa suruh lo jalan gak liat-liat," keukeuh Siska tak mau kalah. Ya, perempuan itu adalah Siska atau Irfan lebih suka memanggilnya dengan sebutan Salsha.


"Bisakah anda berbicara sopan kepada saya, Salsha?!" ucap Irfan penuh penekanan.


"Harus berapa kali sih gue bilang sama lo. Jangan pernah panggil gue Salsha!" amuk Siska tak terima. Dia tak menghiraukan bahasa formal dan perkataan Irfan.


"Repot sekali hidup anda. Itu hanya sekedar nama, tidak ada yang perlu diperdebatkan," ucapnya enteng seraya mencoba merebut ponselnya di balik punggung Siska.


"Jangan buat gue emosi, Irfan. Gue lempar nih hape ke comberan." kesal Siska sangat tak suka mendengar perkataan Irfan.


Irfan tak menggubris perkataan Siska, dia sedang berusaha mendapatkan handphone-nya kembali.


"Ambil tuh hape gak mutu lo!" Siska melempar ponsel Irfan ke sembarang tempat. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Irfan yang sudah mengeluarkan tanduk dan asap di hidung serta telinganya.


"Lo tunggu pembalasan gue, Siska Salsha Rizky Ramadhan!" teriak Irfan begitu menggelegar. Dia seakan lupa dengan apa yang baru saja diucapkannya. Seketika amnesianya kumat bahwa dia sedang menjaga citra serta wibawanya.


Siska hanya melirik sekilas lalu berdecih dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Ahk, kurang ajar tuh orang! Kenapa coba di tengah pergulatan hebat tadi jantung gue malah ikutan loncat-loncat gak karuan," gumam Siska dengan napas yang tersenggal-senggal. Sedari tadi jantungnya terus saja berkonspirasi mendorong untuk keluar dan berlari-lari. Padahal sudah mati-matian Siska kelabui dengan umpatan-umpatan dan kata-kata kasarnya. Tapi entah kenapa detakan itu masih saja terasa bahkan saat dia sudah pergi jauh dari hadapan Irfan pun jantungnya masih saja bertindak abnormal.


"Gue harus ke dokter spesialis jantung nih. Jantung gue udah gak sehat!" ucapnya seraya memegang bagian dadanya yang berdetak cepat.

__ADS_1


"Gue gak mau mati konyol gara-gara penyakit jantung sialan ini!" Lanjutnya.


__ADS_2