
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Perempuan itu keras hati walau sebenarnya dia tidak pernah kosong dari rasa simpati."
♡♡♡
Siska yang tengah sibuk dengan beberapa rekam medis pasien dikagetkan dengan kedatangan Salma --asisten apoteker-- yang datang dengan cepat dan begitu tergesa-gesa.
Rekam medis adalah suatu berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan informasi lain terkait kesehatan pasien yang diterima pasien pada sarana kesehatan, baik yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap.
"Kenapa?" tanya Siska heran.
"Mbak, ini bacaannya apa sih? Gak jelas banget," ucapnya frustrasi seraya menyodorkan sebuah resep dokter kepada Siska.
Resep dokter adalah permintaan tertulis dari seorang dokter. Baik dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis ataupun dokter hewan kepada apoteker (farmasis) untuk membuat dan menyerahkan obat kepada pasien.
Siska melebarkan mata saat dia melihat dengan jelas tulisan semacam ceker ayam di dalam genggaman tangannya. "Sejelek-jeleknya tulisan pasti gue ngerti. Tapi sumpah yang ini tulisannya ancur parah," gumamnya seraya geleng-geleng kepala.
Resep dokter itu diibaratkan sebagai surat cinta dokter kepada apoteker atau tenaga farmasi. Karena orang-orang awam tidaklah mengerti dan mengetahui maksud dari apa yang tertulis dalam sebuah copy resep. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa tulisan dokter itu terkesan jelek dan acak-acakan.
Bukan tanpa alasan seorang dokter menuliskan resep dengan tulisan alakadarnya itu karena di dalamnya terdapat kerahasiaan yang harus dijaga. Walau sebenarnya tidak ada aturan yang jelas di undang-undang dan peraturan yang menyuruh dokter untuk menulis resep dengan tulisan tidak jelas.
"Aduh, Mba dari tadi pasiennya udah ngamuk-ngamuk sama saya," adu Salma yang sudah kelimpungan menghadapi pasien yang sedari tadi mengomel karena obatnya tak kunjung dia terima.
Siska menelaah dan membaca ulang copy resep itu hingga netranya menangkap cap dokter pembuat resep itu. Dia langsung menggeram dan beranjak mengambil telepon untuk menghubungi sang Dokter yang sudah berulah dengan tulisan yang tidak pantas disebut sebagai sebuah tulisan.
"Lo niat nulis resep gak sih? Kalau gak bisa nulis mending gak usah!" sembur Siska saat panggilan teleponnya terhubung.
Salma yang mendengar serentetan makian kasar Siska hanya bisa melongo di tempatnya.
"Bukan tulisan saya yang jelek tapi anda saja yang tidak jago membacanya," ucap sang Dokter santai menanggapi kegeraman Siska.
"Buruan kasih tau gue resepnya. Atas nama Anggun umur tiga puluh delapan tahun," ujar Siska.
'Nama aja Anggun tapi kelakuan bar-bar dasar emak-emak,' gerutu Siska dalam hati. Dia tidak terima asistennya dibentak-bentak pasien.
__ADS_1
"Tolong bahasanya dikondisikan. Saya tidak mengerti apa yang anda katakan," tutur sang Dokter.
Dengan kesal Siska mematikan teleponnya dan bergerak cepat melangkahkan kakinya. Bahkan wajah putihnya sudah berwarna merah padam karena menahan gejolak amarah.
"Mbak... Mbak... mau kemana?" teriak Salma kebingunan.
"Mau basmi tuh Dokter Ceker Ayam," ujar Siska kesal.
Salma lagi-lagi melongo dengan mulut yang terbuka lebar. Namun, setelah kesadarannya kembali dia langsung menemui pasien yang sudah mengomelinya sedari tadi. Memberikan sedikit penjelasan agar sang pasien bisa mengerti dan mau lebih bersabar lagi.
Saat kakinya sudah berada tepat di depan ruangan dokter yang bernama dr. Edgar. Dia langsung membuka pintu dan menerobos masuk begitu saja. Tanpa ketukan dan salam sebelumnya.
Masih dengan ekspresi wajah yang sama Siska langsung meletakan kasar copy resep itu di atas meja sang Dokter.
"Sepertinya anda tidak memiliki sopan santun! Apakah tangan anda tidak bisa digunakan untuk mengetuk pintu dan mulut anda tidak bisa berkata permisi sebelum masuk?!" Siska langsung disuguhi sindiran pedas dari dokter bernama lengkap Edgar Ahmad Irfan Rifa'i itu.
"Udah deh gue gak punya banyak waktu. Mending lo kasih tau resepnya udah ditungguin," geram Siska.
"Bisakah anda menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar saat bertutur kata dengan saya?" seloroh sang Dokter tanpa menghiraukan penuturan Siska.
"Saya sedang bekerja tidak sedang bermain seperti apa yang anda katakan," tuturnya yang begitu santai. Bahkan dia masih bisa memainkan ponselnya.
Siska menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Merendam emosinya, "Baiklah Bapak dr. Edgar Ahmad Irfan Rifa'i yang terhormat, bisakah anda memberitahu saya perihal tulisan anda yang acak-acakan dan urak-urakan ini?"
Irfan menampilkan senyuman kemenangannya karena sudah berhasil mengerjai Siska yang sudah ngamuk-ngamuk seperti macan betina.
"Oh tentu dengan senang hati Ibu Siska yang juga sangat saya hormati," ucapnya dengan sedikit senyuman miring.
"Dari tadi kek," Siska mendengus kesal.
"Makanya kalau baca itu yang teliti," sindirnya sangat mengusik indra pendengaran Siska.
Tulisan loe aja yang ancur berantakan. Makanya kalau punya kaca tuh bawa, biar nyadar diri.
"Berdasarkan pemeriksaan Ibu Anggun terkena asma. Dexamethason, ctm, salbutamol, dan ventolin inhaler, itu adalah obat yang harus pasien konsumsi," lanjut Irfan.
__ADS_1
Siska mengelus dadanya sabar. "Belajar nulis lagi sono. TK samping rumah gue lagi open member," ucapnya lalu pergi begitu saja.
Irfan terbahak saat pintu ruangannya ditutup dengan kasar. "Seneng juga gue liat dia emosi kaya gitu."
"Akhirnya pembalasan gue terbalaskan juga," gumamnya.
♡♡♡
"Siapin obatnya. Dexamethason, ctm, salbutamol, dan ventolin inhaler," ucap Siska menyuruh Salma.
Dengan cepat Salma langsung menuruti apa yang diperintahkan Siska. Dia juga sudah tidak tahan dengan mulut pedas pasiennya yang tidak memiliki kesabaran itu.
"Sebelumnya saya meminta maaf atas kelalain kami dalam melayani Ibu," tutur Siska sebisa mungkin menampilkan senyuman terbaiknya. Walau pun suasana hatinya sedang tidak baik.
"Lain kali jangan seperti itu lagi, Mba. Waktu saya habis hanya untuk menunggu dan mengomel-ngomel tidak jelas di sini," sahut Anggun dengan raut wajah kesalnya.
'Yee, siapa juga yang nyuruh situ ngomel-ngomel. Salah sendiri gak sabaran jadi orang,' balas Siska dalam hatinya.
"Sekali lagi kami minta maaf Bu," akhirnya hanya kata itu yang meluncur bebas dari mulut Siska.
"Baik. Sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang asma. Jadi, asma itu terjadi karena adanya peradangan di saluran napas sehingga terdapat penyempitan saluran napas. Peradangan ini akan muncul jika ada pemicunya, misal karena alergi, asap rokok, dan debu." terang Siska.
"To the point aja sih, Mba waktu saya habis di sini dengan percuma," protes Anggun.
Lagi-lagi Siska hanya bisa mengelus dada. Hari ini kesabaran dia diuji dengan begitu hebatnya dan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya secara bertubi-tubi.
Siska hanya menganggukan kepalanya pasrah. "Nah disini Dokter meresepkan ada empat obat. Ada dexamethason, ctm, salbutamol, dan ventolin inhaler. Dexamethason di sini untuk anti peradangan diminumnya tiga kali sehari satu tablet. Yang kedua ada salbutamol, ini untuk meringankan gejala asma diminumnya tiga kali sehari satu tablet. Ctm sebagai anti alergi diminumnya tiga kali sehari satu tablet juga. Obatnya disimpan di tempat yang kering. Jangan disimpan di tempat yang lembab," jelas Siska.
Anggun hanya mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Sekarang saya akan menjelaskan cara penggunaan inhaler. Ini namanya ventolin inhaler. Isinya salbutamol sulfate. Inhaler ini untuk melegakan napas, Ibu." ucap Siska seraya menunjukkan benda yang berada di tangannya.
"Penggunaannya satu kali sehari dihisap melalui mulut. Caranya pertama dikocok terlebih dahulu. Kedua tarik napas melalui hidung lalu buang napas melalui mulut. Buka tutup mouthpiece, letakkan mouthpiece diantara gigi atas dan bawah kemudian digigit. Pegang inhaler tegak lurus kemudian tutup mulutnya. Ketiga saat bernapas perlahan melalui mulut tekan bagian atas inhaler dengan jari telunjuk. Keempat tahan napas selama lima sampai sepuluh detik sebelum membuang napas lepaskan inhaler dari mulut. Setelah itu Ibu bisa berkumur-kumur. Bagaimana, apakah sudah jelas?"
"Sudah," jawab Anggun singkat padat dan jelas.
__ADS_1
'Gue ngomong panjang lebar dia cuman bilang 'sudah' perih hati gue,' batinnya.