Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 15 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Terlalu terlena dalam mengurusi hidup orang lain, sampai lupa hidup sendiri disia-siakan bahkan tak segan dilupakan."


♡♡♡


Ruangan yang semula sepi senyap sekarang penuh dengan suara bising khas wanita-wanita yang tengah ngerumpi ria.


"Ehk, tau gak? Kemarin gue liat dokter Edgar sama perempuan," ucap Yasmine heboh.


"Siapa? Siapa?" tanya Shinta antusias. Dia sangat mengagumi sosok dokter muda bernama Edgar itu.


Siapa? batin Siska mulai bertanya-tanya.


Apa yang mereka maksud itu gue? dengan segera dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Siska masih mengingat betul kejadian kemarin. Saat dia melontarkan satu kata yang sangat ambigu. Bahkan semenjak peristiwa itu, Siska belum berani menampakan wajahnya di hadapan Irfan.


"Gak tau juga sih. Tapi ceweknya cantik keliatan banget dia dari kalangan high class. Kita mah gak ada apa-apanya dibanding dia," ucap Yasmine penuh dengan nada suara kecewa.


Shinta tersedak minumannya sendiri, "Seriusan loe?"


"Serius lah, masa gue boong soal beginian sih," ucap Yasmine setelah dia menyelesaikan ritual makan siangnya.


"Patah hati dong gue. Belum juga berjuang udah kandas di tengah jalan duluan," ujar Shinta dramatis.


"Gue juga sama kali. Apalagi gue liat sendiri pemandangan menyakitkan itu di depan mata kepala gue," tutur Yasmine.


Siska yang tengah sibuk dengan bekal makan siangnya langsung terbatuk-batuk saat mendengar perbincangan antara dua rekan kerjanya itu yang semakin menjadi-jadi.


'Apa pas gue pergi, Irfan malah ketemuan sama ceweknya? Bego! Mau gue nangis kejer atau sujud depan kakinya juga dia gak akan pernah gubris perasaan gue,' makinya merutuki diri sendiri.


"Terus gimana lagi?" tanya Shinta penuh dengan rasa penasaran.


"Gak tau gue."

__ADS_1


"Dih, loe mah ngasih info dikit amat. Tanggung tau," protes Shinta.


"Yaelah gue takut pingsan kalau sampe dokter Edgar ngelamar tuh cewek depan mata gue. Mereka itu pasangan yang pas dan klop. Cowoknya ganteng ceweknya cantik abis," tutur Yasmine kembali mengingat wajah cantik perempuan yang bersama Irfan.


"Gue berharap sih loe pingsan dan gak bangun lagi. Biar saingan gue buat dapetin dokter Edgar berkurang," kata Shinta.


"Jelek amat doa loe. Gimana kalau malaikat lewat dan ngaminin doa loe? Gue belum siap mati mendadak. Amal gue baru dikit," ucap Yasmine seraya mengetuk-ngetuk tangannya di meja beberapa kali.


"Makanya kalau takut mati banyakin amal. Bukan malah sibuk gosipin orang!" suara Hasna tiba-tiba saja menganggu telinga mereka.


"Sinis amat sih, Mbak kaya gak pernah gosipin orang aja," sela Yasmine tak terima.


Betapa banyak kaum muslimin yang mampu menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dengan baik. Menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, dan senantiasa puasa senin kamis. Namun, tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah, walaupun sudah jelas bahwasannya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar. Namun, tetap saja dilakukan.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :


"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih". [Al Hujurat :12]


"Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mau bertaubat," ucap Hasna lalu pergi meninggalkan ketiganya.


"Berisik loe berdua, ganggu gue makan," ungkap Siska yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.


"Ngapa lagi loe, Sis dari tadi diem. Ehk, sekalinya ngomong ngegas gitu," oceh Yasmine.


"Panas kuping gue dengerin loe berdua yang sibuk gosipin orang," Siska langsung bangkit dari duduknya mengemasi semua peralatan makannya.


Shinta dan Yamsine saling bertukar pandang, lalu keduanya kompak mengedikkan bahunya tak acuh.


"Makanya kalau takut mati banyakin amal. Bukan malah sibuk gosipin orang."


Perkataan Hasna terus terngiang-ngiang di dalam benak Siska. Menganggu konsentrasinya dalam bekerja.


'Apa mungkin selama ini gue terlalu sibuk ngurusin hidup orang? Sampe hidup gue ancur berantakan,' pertanyaan itu tiba-tiba saja singgah di pikirannya.


Tak ketinggalan serentetan gosip Shinta dan Yasmine juga ikut singgah dan mengganggunya. 'Siapa cewek yang mereka maksud? Gue belum siap buat patah hati untuk kesekian kalinya.'

__ADS_1


Kepala Siska rasanya mau pecah memikirkan semua itu. Jika saja dia bisa menghilang dari bumi ini, sudah pasti dia lakukan. Lari, ya dia rasa itu lebih baik dari pada menghadapi problematika kisah hidupnya yang tak kunjung reda.


"Siska jangan lupa hari ini kita ada rapat rutinan," ucap Hasna mengingatkan Siska yang seringkali lupa jadwal.


"Iya, Mba."


Rapat merupakan suatu pertemuan yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, untuk membicarakan atau memecahkan suatu masalah tertentu dalam ruang lingkup Instalasi Farmasi.


Secara umum tujuan diadakannya rapat ini, adalah agar dapat membantu terselenggaranya pelayanan di Instalasi Farmasi yang profesional dan prima.


Namun, jika secara khusus adalah untuk mengetahui segala permasalahan terkait dengan pelayanan di Instalasi Farmasi, dan untuk mencari jalan keluar atau pemecahan masalah yang terkait dengan pelayanan di Instalasi Farmasi.


♡♡♡


Baru saja Siska menginjakkan kakinya di rumah. Dia sudah disambut dengan kehebohan Ibu serta Adiknya.


"Siska kemasi baju-baju kamu sekarang. Besok kita harus ke Bandung," titah Ratih begitu mengagetkan Siska.


"Mau ngapain sih, Bu ke Bandung segala?" tanya Siska yang masih santai selonjaran di atas tikar.


"Nenek kamu nyuruh kita buat ke sana. Beliau sakit ingin kita ke sana menjenguknya," jawab Ratih.


"Yaudah Ibu sama Shakira aja, aku banyak kerjaan di sini," sahut Siska.


Ratih menghampiri Putrinya. "Nenek kamu mau ketemu kamu, Sayang."


"Kan bisa lain waktu. Aku lagi banyak kerjaan," sanggah Siska.


Ratih menghela napas berat. Dia tahu Putrinya itu paling malas bila harus melakukan perjalanan ke luar kota. Terlebih lagi saat ini mereka harus menggunakan kereta api sebagai alat transportasi. Kendaraan yang sangat Siska tidak sukai karena baunya.


"Salsha, Ibu minta sama kamu untuk yang satu ini turuti keingingan Nenek kamu. Kasian beliau udah sakit-sakitan dan cuman kita yang belum melihat keadaannya," jelas Ratih seraya menggenggam kedua tangan Siska.


"Iya aku mau, Bu," ucap Siska akhirnya menyetujui permintaan sang Ibu.


Ratih tersenyum bahagia mendengar jawaban memuaskan Putrinya. "Yaudah sekarang kamu mandi, makan, terus kemasi baju-baju kamu," titahnya.

__ADS_1


Siska hanya mengangguk patuh dengan titah Ibunya.


__ADS_2