
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Cinta sesama hamba hanya akan berakhir bahagia jika itu melibatkan Dia di dalamnya."
♡♡♡
Mencoba sejenak melupakan kisah percintaannya yang kandas di tengah jalan membuat dia sedikit sadar bahwa memang cinta itu tidak harus memiliki. Seberapa kuat dan besar rasa cinta itu tidak akan pernah berarti apa-apa jika tanpa ada campur tangan Allah di dalamnya.
Sedikit banyak dia memahami bahwa memang hidup tidak selalu berpatok pada cinta saja. Melainkan ada kehidupan yang sesungguhnya menanti dia di depan sana. Entah itu perihal cita-cita dan impiannya ataupun perihal obat yang akan menyembuhkan luka di hatinya.
Hidup akan terus berjalan dan berjuang melewati setiap ujian serta cobaan yang Allah berikan adalah pilihan terbaik yang memang sudah seharusnya setiap hamba lakukan. Entah itu tentang kebahagiaan ataupun kesakitan, semuanya memiliki porsi masing-masing.
Layaknya sang malam dan siang yang saling melengkapi walau tidak saling berdampingan dan beriringan. Begitu pun dengan cinta, adakalanya dia hadir hanya untuk sekadar melengkapi kekosongan hati tanpa berniat untuk berdiam diri menemani dan mendampingi.
Karena hidup se-simpel itu, canda, tawa, bahagia, bahkan derai air mata datang silih berganti. Tidak akan mengenal makna bahagia jika sengsara itu tidak ada. Tidak akan mengenal tawa ceria jika tangis derai air mata itu tidak ada. Semuanya saling bersinggungan dan tentunya saling melengkapi.
"Hapus air mata loe. Bangkit dan jangan biarkan kesakitan menghancurkan hidup loe," Siska mencoba menyemangati dirinya sendiri. Walau tak dapat dia pungkiri air mata masih saja mengalir deras membanjiri wajahnya.
"Air mata loe terlalu berharga untuk menangisi cowok macam buaya seperti dia!" gumamnya terus menguatkan.
"Cukup sudah waktu loe habiskan hanya untuk berjuang tanpa kepastian. Sekarang saatnya loe bangkit dan lupakan semua angan dan harapan loe," monolognya seraya menghapus kasar air mata yang tak henti-henti merembes di kedua matanya.
Dia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju cermin besar yang memang ada di dalam kamarnya. Melihat pantulan dirinya yang kacau dan berantakan, dengan kedua mata yang menghitam dan rambut yang dia ikat asal. Sejenak dia terdiam berpikir. Seberapa lama dia menangis hingga meninggalkan jejak berupa kantung mata panda seperti itu?
Bertumpu pada kedua telapak tangannya yang sengaja dia letakan di atas meja riasnya. "Mulai hidup baru loe. Jangan lagi pupuk hati loe dengan cinta yang hanya akan berakhir dengan ending menyakitkan!"
Ya, dia harus bangkit dan melupakan kesakitannya sebelum hidupnya semakin hancur dan berantakan. "Hidup loe harus terus berjalan. Mungkin sekarang cinta loe kandas di tengah jalan. Tapi siapa yang tau jika suatu saat nanti loe bakal nemuin cinta sejati loe," tekadnya menatap lekat bayangan dirinya di depan cermin.
__ADS_1
Dia mengangkat kedua sudut bibirnya untuk menampilkan sebuah senyuman dengan segala makna yang sangat sulit diartikan. Ke luar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk membasuh wajah mengerikannya. Lantas mendudukan bokongnya di samping sang Ibu yang kini tengah duduk santai ditemani televisi yang tanpa lelah menampilkan berbagai macam tayangan yang mampu menghibur penontonnya.
Siska merebahkan kapalanya di bahu Ratih, dan Ratih dengan senang hati mengelus lembut pucuk kepala sang Putri. "Ngapain aja kamu seharian di kamar?"
"Semedi, Bu," singkatnya yang masih fokus menatap layar televisi. Menikmati setiap elusan lembut tangan sang Ibu membuat hatinya tenang dan tidak lagi diliputi kegundahan.
"Shakira ke mana, Bu?" tanya Siska mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Ibunya kembali mengajukan pertanyaan yang hanya akan menyulitkan dia untuk menjawab.
"Tidur di kamar Ibu. Katanya udah ngantuk berat, tapi kamar kamu dari tadi pagi di kunci rapat," jawab Ibunya.
"Ya, kan mumpung libur mending dipake tidur seharian di kamar," ujarnya menutupi kebenaran yang sesungguhnya.
"Tidur?" tanya Ratih menatap curiga Putri sulungnya.
Siska menganggukkan kepalanya ragu. "Kenapa Ibu belum tidur?" Siska kembali mengalihkan perhatian Ibunya dengan pertanyaan yang tidak begitu penting untuk ditanyakan.
"Pertanyaan kamu gak berkelas. Ibu gak mau jawab," sahut Ratih setelah menyesap teh manisnya.
Ratih tersenyum simpul mendengar protesan Putrinya. "Ibu lebih suka kamu dengan mulut pedas dan dengusan kesal. Dari pada liat kamu yang berubah pendiem yang doyan ngurung diri di kamar dan nangis sendirian."
Siska tergagap dan menjauhkan kapalanya dari posisi ternyamannya itu. Keningnya berkerut bingung meminta penjelasan lebih dari Ibunya.
"Kamu bisa bersandiwara di depan orang lain tapi enggak di depan Ibu. Ibu tau kegiatan baru kamu di hari libur," selidik Ratih. Dia sering kali menemukan Siska yang tengah menangis di kamar, walau tanpa suara dan isakan. Tapi insting seorang Ibu lebih kuat dan bisa mengerti atas kesakitan yang dialami sang Putri.
"Kalau kamu gak kuat dan berniat berenti dari kerjaan kamu sekarang. Ibu ridho dan ikhlas dari pada harus liat kamu galau berkepanjangan," ungkapnya kembali mengusap surau rambut Siska.
Siska menatap manik mata Ibunya. "Ibu apaan sih. Siapa juga yang galau? Enggak yah!"
__ADS_1
Ratih tersenyum tipis mendapati respons Putrinya. "Yakin?"
Siska terdiam bingung harus menjawab apa. Karena memang apa yang dikatakan Ibunya adalah sebuah kebenaran. Akhir-akhir ini dia selalu bergalau ria dan mengurung diri di kamar pada saat hari libur tiba.
"Jangan terjebak dengan rasa yang kamu anggap cinta. Karena cinta sejati tau ke mana dia pulang. Sekalipun jalannya terjal dan penuh berliku," tutur Ratih.
Siska hanya mampu mencerna setiap perkataan Ibunya. Lidahnya seketika kaku dan kerongkongannya terasa kering tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bukan tanpa alasan Allah menggiring kamu dalam lubang kesakitan. Itu hanya supaya kamu sadar dan sedikit mengingat-Nya. Cinta sesama hamba hanya akan berakhir bahagia jika itu melibatkan Dia di dalamnya," ucapnya dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian agar tak menyinggung perasaan sang Putri.
"Kamu tau cinta yang sebenar-benar-Nya cinta?" tanya Ratih memancing Siska agar bersedia untuk mengeluarkan suaranya.
Siska menggeleng lemah tak mengerti dengan pertanyaan Ibunya.
Ratih tersenyum hangat kepada Putrinya. "Suatu saat nanti kamu pasti tau maksud Ibu."
Kedua alis Siska menyatu dan keningnya berkerut tak mengerti. "Maksud Ibu apaan sih? Kok pake acara tebak-tebakan kaya gitu," gerutunya.
"Udah gih sana tidur udah malem. Besok kamu kerja bagian pagi, kan," titan Ratih.
"Jawab dulu atuh Bu. Jangan malah buat aku penasaran," dengusnya.
"Udah sana, nanti bangun subuhnya kesiangan," ujar Ratih mengingatkan.
"Harus Ibu garis bawahi dan cetak tebal. Kalau sekarang seorang Siska Salsha Rizky Ramadhan tidak lagi bangun kesiangan di pagi hari," ungkapnya.
Ratih mengacak pelan rambut Putrinya. "Iya tau, lagian sekarang Ibu udah bosen kalau harus bangunin kebo macam kamu," kekehnya.
__ADS_1
Ya, semenjak kepulangannya dari kampung halaman entah mengapa Siska jadi mudah bangun subuh dan tidak perlu lagi membuat drama sebelum melaksanakan salat. Seperti sudah ada alarm otomatis dalam dirinya, disetiap adzan mulai berkumandang. Dan perubahan itu membawa angin segar serta kebahagian bagi Ratih dan Shakira.
Setiap orang tua selalu memimpikan dan menginginkan putra-putrinya tumbuh menjadi seseorang yang taat pada agama. Sekalipun anak itu terlahir dari keluarga yang haus akan asupan ilmu agama. Karena semua orang tua selalu menginginkan anak-anaknya lebih baik dari dia. Begitupun dengan Ratih, dia selalu berdoa dan berharap agar kedua Putrinya menjadi anak yang shalihah yang insya allah akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya.