Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 1 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


"Jika kerinduan ini terus menerus menggerotiku. Aku mohon pertemukanlah aku dengannya. Walau hanya sebatas mimpi saja."


♡♡♡


Kata orang cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, begitu pula sebaliknya. Cinta pertama seorang anak laki-laki adalah ibunya. Dan aku sepaham dengan asumsi itu. Hanya ayah satu-satunya laki-laki yang tak pernah menyakitiku. Dan hanya ayah pula satu-satunya laki-laki yang selalu mencurahkan kasih sayang dan cinta tulusnya kepadaku...


Dan kini aku merindukan sosok itu... Sosok laki-laki tangguh yang selalu melindungi serta menyayangiku dengan sepenuh hatinya... Sosok yang selalu menerbitkan tawa ceriaku dan menyembuhkan luka di hatiku...


Ayah, aku sangat merindukan kehadiranmu... Merindukan belaian lembut tanganmu di kepalaku... Merindukan suara lembut nan tegasmu yang selalu memanggil namaku, Salsha. Ya, itu adalah panggilan sayang ayah kepadaku... Ayah, aku sungguh merindukanmu, sangat amat merindukanmu...


"Gak baik anak gadis bengong sendirian di luar." Teguran lembut serta belaian tangan Ratih, ibunya menyadarkan Siska dari kerinduan akan kehadiran sang ayah tercinta yang dua bulan lalu di jemput Sang Maha Pencipta.


Hanya senyuman tipis yang mampu Siska berikan kepada ibunya. Ia tak ingin Ratih merasakan kesakitan serta kerinduan seperti dirinya. Walau tak bisa Siska pungkiri, bahwa Ratih juga merasakan hal yang sama sepertinya.


Dengan gerakan pelan dan lembut Ratih duduk di samping Siska. Dia menggenggam erat tangan putrinya yang dingin akibat udara malam hari ini. Menyalurkan kekuatan dan ketegaran agar sang putri bisa bangkit dari keterpurukan.


"Kullu nafsin zaaa'iqotul-mauut, summa ilainaa turja'uun. 'Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.'


(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 57)." Ratih membacakan surat tersebut dengan suara yang terbata-bata serta matanya yang sudah memerah menahan air mata.


Ratih selalu menampilkan kekuatan serta ketegaran. Namun, pada kenyataannya dia rapuh, bahkan sangat rapuh. Sosok wanita kuat dan tegar itu adalah ibunya... Ibu yang telah mengandung, melahirkan, serta membesarkannya sampai sekarang ini. Siska merasa bangga karena telah dilahirkan dari rahim wanita kuat seperti ibunya.


Ratih bukanlah sosok yang dibekali banyak ilmu agama. Jangankan untuk mengetahui lebih dalam Agama-Nya, membaca Kitab-Nya saja masih terbata-bata. Namun, Ratih mau belajar dan berusaha atas ketertinggalannya. Walau di usianya yang sudah dibilang tidak lagi muda, tapi semangat dalam memperbaiki diri jauh lebih tinggi dari sang putri.


Lahir dari lingkungan keluarga yang jauh dari ajaran agama membuat Siska lupa dan kufur akan nikmat dunia. Bahkan dia terlena dengan kebahagiaan dunia yang fana. Menjadikan harta dan tahta sebagai hal yang utama, hingga agama tak pernah mengiringi setiap langkahnya dalam menapaki dunia. Berjalan dalam kegelapan tanpa adanya cahaya penerang, membuat dia tersesat dan tak tahu arah jalan yang benar.


"Walaupun raga Ayah tak bersama kita tapi hatinya akan selalu mengiringi setiap langkah kita. Apa pun yang menimpa kita itu semata-mata untuk menguji ketabahan serta keimanan kita kepada Allah. Maafkan Ayah dan Ibu yang selama ini lalai dan tidak mengajarkan kamu ilmu agama." Lanjut Ratih yang begitu menyesali kesalahannya.

__ADS_1


Siska menggeleng lemah menanggapi kata penyesalan ibunya. Dia tak pernah menganggap itu sebuah kesalahan besar karena dia tahu itu adalah jalan hidupnya.


"Masuk yuk, Bu," ajaknya yang tak mau lagi melihat gurat kesedihan di wajah sang ibu. Sungguh hatinya hancur ketika melihat air mata keluar dari mata ibunya.


Siska menggandeng lengan Ratih agar berjalan mengikuti langkah kaki jenjangnya untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang sederhana, hanya berlantai satu yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan satu ruangan keluarga yang juga berfungsi sebagai ruangan untuk menonton televisi.


Terkadang Siska merasa Allah tidak adil dengan takdirnya saat ini. Kemewahan serta kekayaan yang dulu dia miliki kini hilang ditelan bumi. Kebangkrutan menjadi hal yang sangat dia takuti bahkan sangat dia hindari. Namun, apa daya saat ini dia hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan, terlebih lagi dalam hal finansial.


Jika dulu hanya dengan ongkang-ongkang kaki uang masuk ke dalam sakunya. Kini dia kehilangan itu, uang yang dulu selalu dia hamburkan, saat ini sangat dia butuhkan. Bahkan untuk selembar uang bergambar pedang saja dia harus mencarinya dengan susah payah. Takdir begitu kejam kepadanya dan Siska benci keadaan seperti ini.


Siska membaringkan tubuh ibunya di ranjang, menyelimuti seluruh tubuh sang ibu hingga menutupi dada. Melihat wajah ibunya yang terlelap dalam tidur membuat rasa takut seketika hadir membayangi pikirannya. Takut jika suatu waktu ibunya tak, 'kan bisa bangun lagi sama seperti ayahnya yang telah meninggalkan dia tanpa pamit dan permisi terlebih dahulu. Namun, bayangan itu segera ditepis dan hilangkan jauh-jauh. Jangan sampai hal itu kembali menimpanya! Kehilangan orang yang sangat dia cintai adalah kesakitan yang teramat dalam baginya...


♡♡♡


Siska terbangun saat mendengar suara teriakan Ratih yang menggedor-gedor pintu kamarnya dengan tak sabaran. Kegiatan baru Ratih di pagi hari adalah membangunkan putri kesayanganya yang selalu bangun kesiangan. Ya, begitulah Siska, manusia yang sangat sulit bangun pagi. Sebenarnya bukan sulit hanya enggan saja. Dia terlalu sayang dengan ranjang minimalis yang hampir selama dua bulan ini menemani tidur syantik-nya.


Dengan langkah malas dan ogah-ogahan Siska membuka pintu kamar dan mendapati sang ibu yang tengah bertolak pinggang.


Maafkan anakmu yang kebluk ini, Bu.


"Ambil wudhu terus salat subuh." Titahnya yang tak mau menerima bantahan ataupun penolakan.


Semenjak kepergian Rama, ayah siska entah mengapa Ratih menjadi lebih religius, bahkan setiap satu minggu sekali beliau rutin mengikuti pengajian ibu-ibu yang diadakan di masjid dekat rumah kontrakan yang mereka tempati.


Dengan mata yang masih merem melek Siska berjalan ke arah kamar mandi, menuruti titah sang ibunda ratu kesayangannya. Sebenarnya dia sangat malas untuk melaksanakan salat, terlebih lagi salat subuh dan isya. Setan seperti beramai-ramai membisikannya agar kembali tertidur dan tak usah menghiraukan kewajibannya sebagai umat Islam. Sungguh hal baru bagi Siska karena kegiatan rutin ini baru dia jalani selama dua bulan belakangan ini. Lebih tepatnya setelah kepergian Rama sang ayah tercinta.


Melaksanakan dua rakaat salat subuh berjamaah dengan Ratih sebagai imamnya dan Siska sebagai makmum. Tak ada ke khusyuk'an dalam setiap rakaat salat yang Siska kerjakan. Rasa kantuk membuatnya banyak menguap dan pikirannya bercabang kemana-mana. Bahkan di sujud terakhir Siska malah tertidur di atas sajadah. Entahlah sangat sulit baginya untuk beradaptasi dengan kegiatan baru ini.


Dulu dia tidak perlu repot-repot dan capek-capek bangun pagi hanya untuk salat subuh seperti saat ini. Tapi sekarang karena Ibunya yang tiba-tiba saja menjadi agamis membuat dia harus tunduk patuh dengan apapun yang dikatakan Ibunya. Termasuk menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam, yaitu salat lima waktu tanpa cacat dan bolong-bolong.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kebiasaan nih anak setiap salat subuh pasti tidur." Gerutuan Ratih samar-samar mengganggu gendang telinga Siska. Namun, tak sedikit pun membuat Siska bangun dari tidurnya.


"Bangun Siska!" Kini bukan hanya teriakan saja yang mengganggu tidurnya, melainkan juga guncangan tangan maha dahsyat sang ibu mendarat di kedua pundaknya.


"Ngantuk, Bu." Rancau Siska yang sangat berat untuk membuka mata.


"Buruan bangun terus mandi. Katanya mau cari kerjaan." Ucapan Ratih membuat kesadaran Siska terkumpul sempurna dan dengan cepat bangun dari posisi sujudnya.


Kerja. Ya, hari ini dia berniat mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupannya. Harta kekayaan sudah habis untuk membayar hutang. Jadi, mau tak mau Siska harus mencari kerja kalau tak mau mati kelaparan. Itulah hidup kadang di bawah kadang di atas. Tapi apa pun keadaannya kita harus bersyukur dengan nikmat yang sudah Allah limpahkan.


♡♡♡


Satu tahun yang lalu Siska berhasil lulus dari universitas terkemuka di Ibu Kota. Ya, selama empat tahun dia menuntut ilmu di bidang ke-farmasian dan dilanjutkan satu tahun kuliah ke-profesian atau Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA).


Awalnya dia berniat untuk melanjutkan studinya sebagai dokter. Namun, karena otaknya yang tak begitu cerdas mau tak mau, suka tak suka, dia harus menerima, bahwa dia tidak diterima di fakultas kedokteran. Dan akhirnya dia pindah haluan terjun ke dunia farmasi. Hanya dengan bermodalkan iseng, nekad, dan ikut-ikutan teman. Tapi buktinya sekarang dia sudah menyelesaikan masa kuliah dengan waktu yang tepat walaupun tidak cepat.


Dari matahari yang masih malu-malu menampakkan cahayanya sampai langit senja mulai datang menyapanya, Siska tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Semua rumah sakit dan apotek yang dia kunjungi menolak mentah-mentah gelar S1 yang dimilikinya. Dengan alasan yang sama, "Maaf kami tidak menerima lowongan pekerjaan." Alasan klise yang sangat muak untuk dia dengar. Bahkan yang lebih parahnya lagi ada yang langsung menolaknya dengan alasan karena Siska belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya.


Sungguh miris nasibnya!


"Siska." Samar-samar suara seseorang memanggil namanya. Kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang yang baru saja memanggil dirinya. Siska menajamkan penglihatannya saat melihat seorang laki-laki yang tengah bertengger manis di atas motor gede yang dia kendarai.


Siska langsung berjalan menghampiri orang itu, yang hanya terlihat kedua bola matanya saja, karena helm full face yang dia kenakan. Otak Siska bekerja cepat, menerka-nerka siapa gerangan orang yang kini ada di hadapannya.


"Apa kabar lo?" tanyanya setelah Siska benar-benar berada tepat di samping moge hitamnya.


"Siapa?" tanya Siska tak mengenali orang itu, karena dia masih enggan untuk melepaskan helm full face-nya.


Dia terkekeh pelan lalu membuka helmnya secara perlahan. Degup jantung Siska tiba-tiba saja bergetar hebat takut orang itu berniat macam-macam, terlebih lagi hari sudah mulai menggelap. Pikiran-pikiran buruk tiba-tiba saja bersarang dalam otak dan pikirannya. Namun, rasa takut jelas sekali tengah melanda hati dan pikirannya kini.

__ADS_1


__ADS_2