Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 30 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Dendam terbaik adalah saling memaafkan kesalahan."


♡♡♡


Siska berlari dengan begitu gusar tak tentu arah dan tujuan. Luka lama kembali mengusik relung hatinya. Bohong jika perasaannya telah hilang karena nyatanya perasaan itu masih ada, bahkan kini semakin terasa saat dia kembali dipertemukan dengannya.


"Siska!" suara itu menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh dan mendapati sang sahabat yang berlari ke arahnya.


Siska terdiam menatap nyalang air muka Shandra yang begitu menunjukkan rasa penyesalan. Dia semakin membatu kala pelukan erat menubruk tubuhnya. "Maafkan saya," katanya.


"Bukan salah kamu, mungkin memang sudah waktunya aku dan dia bertemu. Tapi tidak dalam waktu yang secepat ini, hatiku masih terluka dan belum sembuh sempurna," ungkap Siska melapangkan hati dan perasaannya.


"Duduk dulu, saya akan jelaskan semuanya," pinta Shandra membawa Siska untuk duduk di kursi yang berada di dekat mereka.


Shandra menatap kedua manik mata Siska begitu lekat, menggenggam kedua tangan sahabatnya yang sudah berkeringat dingin. "Dia meminta saya untuk mempertemukan kamu dengannya. Dia mengatakan hanya akan meminta maaf kepada kamu. Tapi ternyata dia membohongi saya dan malah meminta hal lebih, yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Maafkan saya," terang Shandra dengan setetes air mata penyesalannya. Dia menyaksikan percakapan di antara Irfan dan Siska.


Siska menggeleng lemah, dia membalas genggaman tangan sahabatnya tak kalah erat. "Jangan ngomong kaya gitu, semuanya terjadi atas kehendak Allah. Memang sudah menjadi jalannya seperti ini," ucapnya dengan senyuman tipis yang terlihat dipaksakan.


Dia tidak mau lagi meneteskan air matanya hanya untuk seorang laki-laki yang tidaklah halal untuknya.


"Udah lah lupain aja, anggap ini enggak pernah terjadi," katanya dengan suara yang dibuat setegar mungkin.


"Ada satu hal lagi yang belum saya katakan kepada kamu," tutur Shandra menghapus kasar air matanya.


"Cukup, Shan aku gak mau lagi dengernya kalau itu menyangkut dia," mohon Siska melemah di akhir kalimatnya.


Shandra menggeleng keras. "Dengarkan saya sebentar saja," pinta Shandra.

__ADS_1


Siska hanya mengangguk lemah melihat wajah memohon sahabatnya. "Satu tahun yang lalu tepatnya saat kita berada di parkiran sebuah pusat perbelanjaan aku bertemu dengan dia," Shandra menjeda sebentar perkataannya. Dia melihat dengan seksama wajah terkejut sahabatnya.


"Kamu juga bertemu dengan dia, hanya saja kamu tidak menyadarinya," lanjutnya.


Wajah Siska semakin pucat pasi mendengarnya. Dia semakin dibawa jauh ke ruang waktu masa lalu dengan penuturan yang diberikan Shandra.


"Dia... dia... dia orang yang telah menabrak kamu dulu, kamu terlalu sibuk dengan barang-barang kamu yang terjatuh hingga mengabaikan dia yang ada di depan mata," terang Shandra.


Siska bertahan dengan gemingnya. Ingatannya kembali tertuju pada kejadian satu tahun silam, "Cukup, Shan!" mohonnya sebisa mungkin dia menahan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


Shandra tak menghiraukan permohonan sahabatnya, dia kembali melanjutkannya, "Semenjak kejadian itu dia tidak pernah absen menemui saya untuk mencari kabar dan keberadaan kamu. Dan selama itu pula saya bungkam menutup segala macam akses agar dia tidak lagi bisa menemukan kamu. Tapi pendirian saya goyah, tepatnya dua minggu setelah saya pulang menyambangi kamu dia kembali datang menemui saya hampir setiap hari. Meminta saya agar mempertemukannya dengan kamu," Shandra menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar.


"Dia mengatakan jika dirinya dihantui rasa bersalah, dia ingin mengutarakan permintaan maafnya kepada kamu. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang berbunyi, 'Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari' [HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560]. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mempertemukan kamu dengan dia, dengan harapan kalian bisa bersikap dewasa dan saling memaafkan apa yang terjadi di masa lalu," terang Shandra panjang lebar, dan itu berhasil membuat Siska sadar bahwa selama ini dia sudah terlalu larut dalam rasa dendam dan bergelut dengan rasa sakitnya.


Siska tak mampu untuk menyanggah ataupun mengutarakan kata-kata. Tenggorokannya tercekat dan sulit untuk mengeluarkan suara.


Dengan tangan gemetar Siska merogoh saku gamisnya untuk mengambil benda pipih itu. Segera melancarkan jari-jemarinya di atas layar pintar itu, membuka salah satu aplikasi dan menunjukkan kepada Shandra sebuah pesan yang tadi pagi dia terima dari nomor yang tidak dikenal.


Shandra mengangguk lemah mengiyakan apa yang menjadi pertanyaan tersirat Siska. Walau tanpa kata dan suara tapi dia bisa menangkapnya dari sorot mata Siska.


"Maafkan saya," ungkap Shandra tulus seraya memeluk tubuh lemah Siska yang bergetar hebat karena menangis. Runtuh sudah pertahanannya, hatinya kacau mendengar penjelasan yang Shandra lontarkan.


Kata maaf tak henti-henti keluar dari bibir Shandra. Dia begitu menyesali keputusannya yang lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah kebenaran.


Tanpa kedua perempuan itu sadari ada seseorang yang setia menyaksikan serta merekam apa yang dilihat serta didengarnya. "Maafin gue, Sha," gumamnya begitu sendu saat melihat untuk kedua kalinya air mata turun dari mata indah Siska, dan itu karena ulahnya.


♡♡♡


Semilir angin segar menyambut Siska saat dia duduk santai di saung yang menjadi tempat favorit-nya. Dia merasa aman dan damai jika berada di tengah hamparan sawah yang siap panen itu. Rasanya semua beban dalam pikirannya sirna kala melihat ciptaan Allah yang begitu sempurna indahnya.

__ADS_1


"Salsha!"


Panggilan itu menyentak Siska dan menyadarkan Siska bahwa kini dia tidak lagi sendiri di tempat nyaman ini. Ada seseorang yang kini tengah duduk berjauhan di ujung saung dengan tatapan kosong ke depan.


Siska tak berniat menyahut ataupun menolehkan kepalanya walau hanya sekilas. Rasa enggan dan canggung masih menguasi hati dan jiwanya.


"Gue akan pergi dari hidup loe selamanya. Tapi bukan untuk sekarang," tuturnya yang membuat Siska menolehkan kepalanya.


"Gue enggak akan pernah merasa hidup tenang kalau masih dibayang-bayangi rasa penyesalan," lanjutnya dengan senyuman getir.


"Sudah saya katakan. Saya sudah memaafkan kamu dan kamu bisa pergi sekarang!" sahut Siska menggebu-gebu dengan napas memburu.


Irfan tersenyum kecut mendengar nada pedas dan judes Siska, terlebih pemilihan kata saya dan aku yang Siska gunakan. "Maaf loe cuman di lisan doang," sela Irfan.


Siska mengembuskan napasnya pelan. "Gue udah maafin loe jauh sebelum kata maaf itu keluar dari mulut loe. Gue enggak pernah bermain-main sama apa yang keluar dari mulut gue," jujur Siska sebisa mungkin memberikan senyuman tipisnya kepada Irfan.


Irfan mengukir senyuman indahnya kepada Siska. "Gue lega dengernya, dan sekarang gue bisa pergi tanpa beban di hati," katanya kembali memberikan senyuman di akhir kalimatnya.


"Teman?" suaranya tercekat saat mengucapkan satu kata itu.


"Teman!" sahut Siska dengan kedua tarikan di sudut bibirnya.


"Selamat tinggal," dengan berat hati Irfan mengatakan dua kata itu.


Siska mengangguk lemah dan memberikan senyum terbaiknya untuk yang terkahir kali.


Semoga bahagia selalu menyertaimu dan izinkan aku berjuang untuk kembali mendapatkan hatimu.


Doa itu teruntai indah di dalam hati Irfan. Entah apa yang ada di dalam benaknya yang jelas hanya satu pintanya. Bisa hidup bersama dan mengukir cinta tanpa ada lagi luka serta air mata di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2