Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 24 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Air mata memang tidak mampu menggugurkan dosaku. Tapi setidaknya itu bisa menjelaskan seberapa besar rasa penyesalan dalam diriku."


-Siska-


♡♡♡


Pengalaman pertama bagi Siska melaksanakan salat berjamaah selain dengan Ibu serta Adiknya. Keluarga Gita begitu kental dengan ajaran ilmu agama. Dia begitu menginginkan keluarga seperti yang kini ada di depan matanya, harmonis dan begitu bahagia. Akankah rumah tangganya kelak bisa seperti itu?


"Siapa yang mau tes hapalannya duluan?" suara lembut Gita membuyarkan lamunan Siska.


"Aku! Aku!" ucap kedua anak kecil itu dengan begitu antusias.  


Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan bagi Gita untuk membiasakan kedua Putrinya menghapal Al-qur'an. Dan kegiatan itu dilakukan selepas salat, walau hanya sekadar surat-surat pendek saja.


Siska tersenyum haru melihat keantusiasan kedua bocah itu. Masa kecil dia tidaklah seperti itu. Hatinya sakit jika harus mengingat masa kecilnya yang begitu jauh dari ajaran dan tuntunan agama.


Bisakah masa kecilnya diulang kembali? Dan bolehkah dia memilih untuk dilahirkan dari kedua orang tua yang paham akan ilmu agama?


"Sudah, anak-anak Bunda memang pintar. Ayo mandi dulu bentar lagi Ayah pulang," ucap Gita setelah selesai mengetes hapalan kedua Putrinya dan itu mampu  menghentikan lamunan panjang Siska.


"Bik, tolong mandikan anak-anak dulu," titah Gita pada asisten rumah tangganya yang kebetulan ikut salat berjamaah.


"Baik, Nyonya," sahut wanita paruh baya itu.


"Terima kasih," ucap Gita. Dia begitu menghormati asisten rumah tangganya.


'Mbak Gita begitu baik dan sopan sama semua orang,' batin Siska.


"Mbak boleh aku tanya sesuatu?" seloroh Siska yang baru saja selesai melipat mukenah-nya.


"Boleh," sahut Gita dengan senyuman bersahabatnya.


Siska merogoh handphone yang berada di dalam tas selempangnya. "Apa ini benar?" tanyanya seraya menyodorkan ponsel canggihnya yang sudah menampilkan sebuah gambar yang tadi pagi dia lihat.


Gita mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu segera membuka kitab Al-qur'an yang masih berada di atas pangkuannya. Membuka lembar demi lembarnya, lalu dia sodorkan kepada Siska. "Kamu akan tau jawabannya setelah membaca ini," ucapnya.


Kedua lengan Siska bergetar hebat saat dia memegang Al-qur'an dengan ukuran cukup besar serta memiliki arti dan juga dilengkapi dengan bacaan latinnya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


Wa qul lil-mu'minaati yaghdhudhna min abshoorihinna wa yahfazhna furuujahunna wa laa yubdiina ziinatahunna illaa maa zhoharo min-haa walyadhribna bikhumurihinna 'alaa juyuubihinna wa laa yubdiina ziinatahunna illaa libu'uulatihinna au aabaaa'ihinna au aabaaa'i bu'uulatihinna au abnaaa'ihinna au abnaaa'i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au baniii ikhwaanihinna au baniii akhowaatihinna au nisaaa'ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghoiri ulil-irbati minar-rijaali awith-thiflillaziina lam yazh-haruu 'alaa 'aurootin-nisaaa'i wa laa yadhribna bi'arjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinn, wa tuubuuu ilallohi jamii'an ayyuhal-mu'minuuna la'allakum tuflihuun


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur 24: Ayat 31)


Matanya memanas begitu membaca arti dari ayat yang Gita tunjukkan. Kegundahan serta Ketakutan lagi-lagi menyelimutinya. Air mata tak mampu lagi dia bendung saat bayangan wajah sang Ayah mengitari kepalanya. Namun, dia begitu tak asing saat mengetahui bahwa surah An-Nur lah yang baru saja dia baca.


Gita memeluk tubuh Siska. Dia begitu mengerti dan memahami apa yang dirasakan Siska kini. Karena dia juga pernah berada di posisi Siska seperti sekarang.


"Aaa... Aayah... Aayah...," rancau Siska begitu hancur.

__ADS_1


Dengan lembut dan penuh kasih sayang seorang kakak, Gita mengelus pelan punggung Siska yang bergetar hebat.


"Aku jahat, Mbak. Jahat!" ucapnya begitu lirih.


Gita menggelengkan kepalanya. "Manusia itu gudangnya khilaf dan salah. Tapi sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mau bertaubat dan memperbaiki semuanya," tutur Gita melerai pelukannya dan menghapus cairan bening yang membasahi wajah Siska dengan kedua ibu jarinya.


"Jangan menghukum diri kamu dengan rasa bersalah," lanjutnya.


"Aku salah, Mbak. Salah!"


Gita kembali merengkuh tubuh Siska yang kini malah meronta dan memukul-mukul bagian dadanya yang begitu sakit dan sesak.


"Jangan sakiti diri kamu seperti ini," peringat Gita.


Pikirannya begitu berkecamuk seperti benang kusut. Sekilas bayangan obrolan antara dia dan Adiknya hinggap begitu saja.


"Terus Teteh kapan?" tanyanya begitu ambigu.


"Kapan apanya?" tanya Siska menatap heran dan bingung kearah Shakira yang juga tengah menatapnya.


"Berhijab," jawab Shakira singkat padat dan jelas. Dan itu sukses membuat kerongkorangan Siska kering sampai terbatuk-batuk tidak jelas.


Berhijab? Itulah yang kini memenuhi otak dan pikirannya. Apakah dia bisa memakai kain panjang itu, di saat dirinya masih jauh dari kata baik. Apakah bisa?


Lagi-lagi perkataan Shakira mengganggunya. Semuanya seakan berkonspirasi dan bersemangat untuk membuat kepalanya pecah mendadak.


"Aku mau belajar pake kerudung, Teh soalnya tadi pagi aku liat ceramah di tv yang bahas tentang menutup aurat itu wajib hukumnya bagi seorang perempuan yang sudah baligh," jawabnya dengan senyuman yang tak bisa Siska artikan.


"Wah, dua bidadari Bunda sudah cantik dan wangi-wangi," ucap Gita tanpa menjawab pertanyaan kedua bocah itu. Dia langsung melerai pelukannya dan menghampiri kedua Putrinya.


Dengan segera Siska menghapus air matanya dan sebisa mungkin memberikan senyuman terbaiknya.


Kedua bocah kecil itu dengan senang hati memeluk Gita. Mereka sangat mencintai dan menyayangi Bundanya.


"Ayo kita main!" seru Siska dengan senyuman cerianya yang dipaksakan. Walau tak bisa dipungkiri matanya bengkak dan sembab serta wajah putih bersihnya menjadi memerah akibat terlalu banyak menangis.


"Horee!" ucap Gadis dan Gladys begitu senang dan bahagia. Mereka sampai lupa dengan pertanyaan yang belum sempat Siska jawab.


Siska, Gadis, dan Gladys memutuskan untuk bermain di ruang keluarga. Sedangkan Gita menyiapkan menu makan malam untuk malam ini.


"Assalamualaikum," ucap seseorang mengganggu aktivitas Siska dan kedua bocah yang sedang bermain ular tangga itu.


"Ayah!" seru Gadis dan Gladys serempak. Keduanya langsung berlari dan berebut meminta untuk digendong.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh," sahut Gita yang baru saja muncul dari arah dapur dan segera menyambut kedatangan Suaminya. Mencium tangan serta membawakan tas kerja sang Suami sudah menjadi kebiasaannya.


Siska tersenyum tipis melihat keharmonisan keluarga kecil itu. Hatinya berdesir dan ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan.


"Siapa?" tanya Suami Gita saat dia melihat Siska yang tengah duduk di sofa.


"Oh, iya sampai lupa. Kenalin Mas ini Siska, dan Siska ini Mas Galih suami Mbak," ujar Gita memperkenalkan.

__ADS_1


Siska mengangguk sopan. Dia begitu segan saat melihat pakaian yang melekat di tubuh Galih.


Keluarga idaman begitulah yang kini ada di dalam benak Siska.


"Bentar lagi magrib aku harus pulang, Mbak. Ibu pasti khawatir karena aku belum pulang," tutur Siska.


"Lho kok buru-buru? Makan malam bareng kita dulu aja," ujar Gita.


"Enggak usah, Mbak. Makasih," tolak Siska.


"Yaudah tunggu sebentar," ucap Gita lalu berlari menuju kamarnya.


Gita kembali dengan sebuah paper bag berwarna biru di tangannya. "Buat kamu," ucapnya.


"Enggak, Mbak," tolak Siska tidak enak.


"Ambil, Mbak gak nerima penolakan!" tegasnya.


Siska hanya mengembuskan napasnya pasrah. "Makasih, Mbak."


"Iya sama-sama," sahut Gita.


"Besok Kak Siska ke sini lagi yah," ucap Gadis saat Siska memeluknya.


Siska mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya. "Kakak pulang dulu."


Kedua bocah mungil itu megangguk paham. "Hati-hati Kak Siska," ucap keduanya seraya melambaikan tangan.


"Assalamualaikum," pamit Siska lalu menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya menuju rumah.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh," sahut keluarga kecil itu.


"Sepertinya dia sangat dekat dengan kedua Putri kita," ucap Galih saat berjalan beriringan dengan sang Istri.


"Dia itu perempuan yang waktu itu pernah aku ceritakan sama Mas," ungkap Gita.


"Perempuan yang kamu temui di gerbong kereta api saat kamu mengunjungi rumah Mamah di Bandung?" tanyanya memastikan.


Mamah, begitulah sebutan yang Galih berikan kepada Ibu Mertuanya.


Pertemuan tak terduga antara Gita dan Siska yang begitu menyimpan banyak kenangan dan cerita. Kebetulan waktu itu dia hanya pergi bersama Putri bungsunya karena memang sang Suami tengah dinas ke luar kota untuk mengabdikan dirinya pada negara. Sedangkan, Gadis sedang tinggal bersama dengan kedua orang tua Suaminya.


"Iya, Mas," sahut Gita.


"Siska itu perempuan yang cantik dan baik hanya saja dia selalu bersembunyi di balik wajah dingin dan juteknya. Dia terlihat kuat walau sebenarnya dia itu lemah dan rapuh," ucapnya pada sang Suami.


"Iya, Mas bisa lihat dari pembawaan dirinya," ujar Galih menanggapi.


"Ayo, Mas siap-siap buat ke mesjid," kata Gita.


Begitu indah jika cinta dan rumah tangga yang dibalut dengan ketaqwaan serta keimanan pada sang Maha Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2