
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Cinta bukan tentang kebersamaan dan kebahagiaan, melainkan tentang ketulusan dan keihlaskan."
♡♡♡
Ini adalah hari pertama Siska kembali bekerja setelah selama empat hari izin. Hari baru telah menyapanya tak ketinggalan cahaya mentari yang terik mengiringi langkahnya menuju tempat bekerja.
Angkot sudah seperti kawannya sekarang. Ke mana pun dia pergi pasti angkot lah yang setia menemani. Perjalanan dalam angkot membuat dia sedikit bosan dan memutuskan untuk berselancar ria di dunia maya.
Tangannya lincah bermain di atas layar pintar itu. Sesekali tertawa geli karena melihat video lucu dan meme yang sangat marak di jejaring sosial. Hingga tak terasa dia sudah sampai di tempat tujuannya. "Kiri, Pak," ucap Siska.
"Kemana aja loe? Liburan kagak ngajak gue," seloroh Shinta begitu Siska baru saja membuka pintu.
"Liburan pala loe!" dengus Siska meletakan kasar tas salempangnya.
"Oh, iya nih ada makanan. Oleh-oleh dari kampung halaman," ujar Siska setelah meletakan makanan yang dibawanya di atas meja.
"Kampung halaman katanya. Gak salah denger gue," sindir Shandra yang sangat tahu karakter Siska yang dulu. Siska tidak pernah sudi dan mau mengakui bahwa dirinya berasal dari desa. Tapi sekarang? Sungguh sebuah kemajuan.
"Berisik loe!" ucap Siska kesal.
"Wih, tahu sumedang kayanya," ucap salah satu rekan kerja Siska.
"Bukan, Mbak itu namanya tahu susu lembang. Emang sih bentukannya hampir mirip tahu sumedang. Tapi rasanya boleh diadu lah," kata Siska.
"Lho asal Kota Kembang ternyata, Sis," ujar yang lainnya.
"Iya, lebih tepatnya daerah Lembang," katanya menambahkan.
"Tapi dari gaya kamu gak mencerminkan anak desa," kata Yasmine.
"Penampilan kadang menipu," imbuh Shinta dengan mulut penuh dengan tahu.
Semuanya mengangguk setuju dengan penuturan Shinta.
"Aku pengen banget nyobain jajanan khas Bandung, Mbak Sis," curhat salah satu asisten apoteker.
"Kalau jajanan Bandung mah di sini juga banyak yang jual kali," ucap Yasmine.
"Ya, kan aku mau yang ori, Mbak." sela asisten apoteker itu.
"Ori? Dikira baju Tanah Abang kali," ujar Yasmine.
Semuanya tergelak mendengar lelucon yang dilontarkan Yasmine.
"Sudah-sudah. Makan dan ngobrolnya dilanjut nanti, dan sekarang kembali bekerja!" perintah Hasna.
Semuanya mengangguk dan kembali bekerja sesuai tugasnya masing-masing.
"Oh, iya Mbak ini pesanan Mbak," ucap Siska menyodorkan sekotak tape singkong atau yang lebih dikenal dengan nama peuyeum sampe.
Sehari sebelum Siska pulang kembali ke Ibu Kota, Hasna meminta tolong agar Siska membelikannya makanan itu.
"Makasih lho, Sis," ucap Hasna dengan binar bahagia.
'Orang ngidam emang selalu aneh-aneh,' batin Siska melihat wajah cerah berseri Hasna.
Hasna sangat menginginkan peuyeum sampe dan harus dibeli langsung dari daerah asalnya.
"Iya sama-sama, Mbak," sahut Siska.
__ADS_1
"Oh, iya jadi berapa semuanya?" tanya Hasna.
"Enggak usah bayar. Kata Ibu itu buat Mbak yang lagi ngidam," tutur Siska dengan senyuman tipisnya.
"Bilangin sama Ibu kamu makasih," kata Hasna seraya mengelus permukaan perutnya yang sudah mulai membuncit. Usia kandungannya kini sudah memasuki bulan keempat.
"Iya nanti Siska sampein," jawab Siska dengan senyuman tulusnya.
"Oh iya, Sis ini ada titipan dari dokter Edgar," ucap Hasna memberikan secarik kertas ke hadapan Siska.
"Apa, Mbak?"
"Enggak tau juga. Tapi kayanya penting, soalnya beberapa hari belakangan ini Dokter Edgar selalu nanyain kamu ke Mbak," jelas Hasna.
"Iya, Mbak makasih," sahut Siska.
Dengan segera dia memasukan kertas itu ke dalam tasnya, lalu bangkit untuk melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Walau hatinya sudah dirundung rasa penasaran, tapi sebisa mungkin dia mengesampingkan perasaannya itu.
♡♡♡
Siska membulatkan matanya saat dia membaca isi dalam secarik kertas itu. Bukan, bukan isinya melainkan tulisan tangannya yang sangat dia kenali. Dan itu bukan tulisan tangan Irfan, melainkan...
Dengan langkah tergesa Siska langsung pergi keluar dari tempatnya bekerja. Karena memang sudah waktunya dia untuk pulang dan bergantian shift dengan rekan kerjanya yang lain.
"Atas nama Ibu Siska?" tanya seorang supir ojek online yang sebelumnya telah Siska pesan.
"Iya, Mas," jawab Siska dan langsung menaiki motor setelah sebuah helm terpasang cantik di kepalanya.
"Salsha!" teriak seseorang yang berada di belakang motor yang Siska tumpangi.
Siska menoleh sekilas. Pandangan mata mereka bertemu hanya dalam hitungan detik karena Siska yang langsung memutuskan kontak mata diantara keduanya. "Jalan, Mas."
Sang supir hanya bisa menganggukkan kepalanya dan melesatkan motornya sampai ke tempat tujuan.
'Gue udah gak punya muka lagi buat ketemu loe,' batin Siska meringis kala melihat dengan jelas sorot mata Irfan yang menyiratkan banyak pertanyaan dan menuntut sebuah penjelasan.
Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar lima belas menit itu terasa sangat lama bagi Siska.
"Makasih, Mas," ujar Siska setelah dia membayar ongkosnya.
"Shandra-nya ada?" tanya Siska pada salah satu pegawai Shandra. Ya, dia pergi ke kafe tempat sang sahabat bekerja.
"Ada di ruangannya, Mbak," sahutnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Siska langsung melesatkan kakinya secepat kilat menuju ruangan Shandra yang berada di lantai dua.
"Shan, maksud loe apaan?!" sembur Siska dengan napas terengah-engah akibat menahan amarah, dan terlalu bersemangat berlari.
"Silakan duduk," ucap Shandra ramah.
"Gue ke sini bukan buat basa-basi. Loe jelasin apa maksud dari tulisan loe itu?" sentak Siska melayangkan sebuah kertas yang diterimanya dari Hasna.
Shandra menghela napasnya berat. "Duduk, akan saya jelaskan semuanya."
Siska menurut dan memilih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Shandra yang hanya terhalang meja diantara mereka.
"Antarkan minuman dan beberapa makanan ke ruangan saya," ucap Shandra pada salah satu pegawainya melalui sambungan telepon.
"Baik, Bu," sahut pegawainya di seberang sana.
Dan tidak berapa lama apa yang Shandra pesankan sudah terhidang di mejanya.
__ADS_1
"Gue ke sini bukan buat minta makan sama loe. Gue ke sini buat minta penjelasan sama loe!" tuntut Siska tak mau membuang-buang waktunya terlalu lama lagi.
"Iya, tapi setidaknya kamu minum terlebih dahulu supaya tenang," ujar Shandra.
"Jelasin sekarang atau...," ancam Siska dengan mata yang sudah melotot tajam.
"Ini memang tulisan saya. Dan saya sendiri yang memberikannya pada Irfan," ungkap Shandra dengan helaan napas panjangnya.
"Kapan? Dan kenapa loe sampe bertindak sejauh ini! Loe udah terlalu ikut campur tentang persoalan hati gue. Gue gak suka!"
"Iya, saya sangat menyadari kelancangan saya. Tapi saya sudah tidak mau lagi melihat kamu tersakiti oleh perasaan kamu sendiri," jelasnya seraya menatap manik mata Siska yang sangat membunuh dan mengintimidasi.
"Loe gak tahu tentang gue dan perasaan gue!" amuk siska.
Shandra menggeleng kuat, tak setuju dengan penuturan sahabatnya. "Kamu memang tidak pernah mengatakan dengan jelas perihal perasaan kamu. Mulut kamu memang bungkam tapi pancaran mata kamu mengungkap semuanya. Mengungkap apa yang selama ini kamu simpan rapat-rapat."
Siska membisu dan hanya bisa diam mendengar perkataan sahabatnya yang merupakan sebuah kebenaran.
Shandra bangkit dari duduknya. Merengkuh tubuh sang sahabat dari samping. "Apa pun yang terjadi saya akan selalu berada di samping kamu. Belajar lah untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Jangan biarkan semua terpendam karena itu hanya akan membuat kamu terluka semakin dalam."
"Menangislah jika itu akan membuat hati kamu menjadi lebih tenang," sambungnya seraya mengelus pelan punggung Siska.
Siska tak mampu menahan dentingan air matanya. Menumpahkan semua kesakitan dan kegundahan hatinya yang akhir-akhir seringkali melanda.
Cukup lama keduanya menyelami perasaan masing-masing. Sampai Siska mengurai pelukan diantara mereka.
Untuk yang pertama kalinya Shandra melihat air mata serta tangisan sahabatnya yang disebabkan oleh seorang pria.
Dibalik sifat keras yang selalu kamu tampilkan tersimpan banyak kerapuhan dan kesakitan.
"Gue salah memilih cinta, Shan. Cinta yang seharusnya ngasih gue kebahagiaan, malah ngasih gue banyak kesakitan. Gue...," ungkap Siska mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam dalam hatinya.
Shandra hanya bisa diam dan mencoba menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya.
"Gue jatuh cinta sama orang yang salah. Dia hadir di hidup gue cuma buat luka di hati gue...,"
"Bukan cinta yang membuat kamu terluka. Cinta itu fitrah, anugerah, bahkan berkah bagi setiap manusia yang merasakannya," ucap Shandra meluruskan.
Siska tertawa hambar dengan linangan air mata yang belum surut dari matanya. "Fitrah, anugerah, berkah! Cinta seperti apa yang loe maksud?"
Shandra menampilkan senyuman manisnya. "Saya yakin kamu akan menemukan cinta itu," tuturnya.
"Shan, gue ke sini buat minta penjelasan loe. Bukan malah nangis bombay kaya gini," ucap Siska menghapus kasar air matanya.
"Akan saya jelaskan semuanya," katanya seraya menuntun Siska agar duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Shandra melihat kertas yang sudah tercoret tulisan tangannya. "Semuanya berawal dari pertemuan kamu dan Irfan di taman...."
Shandra menjelaskan apa yang terjadi sepeninggal Siska dari taman tersebut. Hingga akhirnya dia mengungkap perasaan sahabatnya secara terang-terangan di atas kertas yang sudah tercoret tinta hitam itu.
"Saya tidak bermaksud untuk mengungkapnya tanpa sepengetahuan kamu. Tapi waktu itu saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Saya tidak mampu untuk mengungkapkan kebenarannya melalui mulut saya. Maka dari itu saya memilih kertas dan pena sebagai perantaranya," tutup Shandra setelah menyelesaikan penjelesannya.
"Gue udah gak punya muka lagi buat ketemu dia, Shan. Gue gak bisa!" ungkap Siska.
"Lupakan dia dan buka lembaran baru. Sudah cukup selama ini kamu mengharapkan dia. Memupuk cinta untuk dia yang tidak pernah menghargai seorang wanita. Kubur dalam-dalam perasaan itu, biarkan dia pergi dari hati kamu," saran Shandra.
"Udah berkali-kali gue coba, dan hasilnya selalu sama. Gue terjebak perasaan gue sendiri," ucap Siska mengusap wajahnya kasar.
Shandra mengelus pelan punggung Siska. Memberikan kekuatan pada sahabatnya, "Karena puncak dalam mencintai adalah mengikhlaskan dia bersanding bahagia dengan orang lain. Sakit memang tapi itu adalah ketetapan mutlak yang sudah digariskan. Cinta bukan tentang kebersamaan dan kebahagiaan, melainkan tentang ketulusan dan keihlaskan."
"Gue akan coba... thanks, Shan," tekad Siska.
__ADS_1
Shandra mengangguk dan memeluk erat sahabatnya. 'Saya akan selalu ada di samping kamu.'