
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Allah SWT berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)
♡♡♡
"Hidup itu bukan hanya tentang banyaknya harta atau tingginya tahta. Tapi tentang rasa syukur yang senantiasa menggema di dalam rongga dada."
♡♡♡
"Maaf, Om apa tawaran yang kemarin masih berlaku?" tanya Siska pada Elang.
Kini dia sedang berada di rumah sakit. Lebih tepatnya ruangan Elang.
Elang tersenyum simpul lalu detik berikutnya berkata, "Masih. Apa kamu berubah pikiran?"
"Iya Om, sepertinya aku berubah pikiran," jawab Siska cengengesan karena malu.
"Alhamdulillah, Om ikut seneng dengernya. Besok kamu udah mulai kerja," terang Elang.
Siska hanya mengangguk setuju dengan menampilkan deretan gigi putih bersihnya.
"Kalau gitu aku pamit dulu," pamit Siska.
"Hati-hati salam buat Ibu kamu sama Adik kamu," tuturnya.
"Iya nanti Siska sampein Om," setelah itu Siska langsung keluar dari ruangan yang di tempati Elang.
Sepanjang lorong rumah sakit otak Siska terus berkelana memikirkan bagaimana nasibnya ke depan? Apakah dia bisa bekerja dengan baik? Sedangkan selama ini kerjaan dia hanya ongkang-ongkang kaki saja.
Pusing rasanya kepala Siska memikirkan itu semua. 'Semuanya gara-gara si curhat Farhan. Dasar mulut kompor beledug!' batinnya.
"Namanya Edgar Ahmad Irfan Rifa'i, dia kerja di rumah sakit bokapnya sebagai dokter. Nah, lo kan lulusan farmasi bisa dong ngelamar kerja jadi apoteker di rumah sakit itu biar misi kita berjalan lancar dan mulus. Gue denger-denger juga rumah sakit itu lagi kekurangan tenaga farmasinya, bisa kali lo nyelinap masuk kesana," seloroh Farhan beberapa hari lalu.
"Enggak ahk ogah," tolak Siska.
Yang benar saja? Kemarin Elang sendiri yang meminta Siska untuk bekerja di rumah sakitnya, dan karena alasan ingin menjauh dari Irfan Siska menolaknya mentah-mentah. Terus sekarang dia malah harus ngemis-ngemis meminta pekerjaan itu? Yang benar saja, Siska masih mempunyai urat malu.
"Sambil nyelam minum air Siska. Kan pas tuh, dari pada lo nganggur gak jelas mending kerja di rumah sakit itu. Dapet gaji iya, dapet imbalan dari gue juga iya," ungkapnya kembali menghasut pikiran Siska. Makhluk seperti Farhan sepertinya harus dimusnahkan.
"Iya, oke deh," putus Siska akhirnya. Karena benar juga apa yang dikatakan Farhan daripada dia menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) abadi mending kerja.
'Urusan Irfan bisa belakangan,' pikir Siska terhasut bujuk rayu Farhan.
"Hati-hati dong, Mba kalau jalan!" tegur seseorang saat Siska tak sengaja menabraknya.
Siska, Siska, ceroboh amat sih lo jadi orang! rutuknya dalam hati. Tak berani menatap seseorang yang dia tabrak barusan. "Ma...ma...maaf saya gak sengaja," ucap Siska terbata lalu membantu dia membereskan berkas-berkas yang berserakan di lantai.
Siska mendongak saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan karena mengambil berkas yang sama, "Sekali lagi ma--" ucapan Siska menggantung karena melihat orang yang ditabraknya itu ternyata, Irfan.
__ADS_1
"Salsha!" ucapnya sama kaget seperti Siska, tapi dengan cepat Irfan langsung mengembalikan wajahnya agar terlihat biasa saja.
Siska langsung bangkit dari posisi jongkoknya. "Jangan panggil gue Salsha!" tegasnya tajam tak suka.
Irfan pun bangkit dari posisi jongkoknya setelah berkas-berkas tadi berada di dalam dekapan tangannya. "Kenapa? Bukannya dulu lo suka dipanggil Salsha."
"Gue gak suka!" Siska berlalu meninggalkan Irfan yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Dulu memang Siska sangatlah menyukai panggilan yang diberikan oleh Ayahnya itu. Namun, sekarang tidak lagi karena panggilan itu mengingatkan dia pada Alm. Ayahnya dan panggilan itu hanya diperuntukan untuk Ibu dan Alm. Ayahnya saja. Tidak dengan orang lain. Apalagi Irfan!
"Sha, Salsha!" Irfan berteriak dan mengejar langkah Siska. Siska hanya melihatnya sekilas ke belakang lalu kembali mempercepat langkahnya agar Irfan tidak bisa mengejarnya.
"Sha, tunggu!" Irfan berhasil mencekal pergelangan tangan Siska.
"Lepas!" Siska berusaha melepaskan cekalan tangan Irfan yang begitu kuat dan kasar.
"Sha, lo kenapa sih?" Irfan melepaskan cekalan tangannya dan menatap lekat mata Siska.
"Sha, Sha. Lo pikir nama gue merk bumbu penyedap rasa!" sentak Siska tak suka karena Irfan selalu memanggilnya dengan sebutan 'Sha', yang tidak dia ketahui apa arti dibalik panggilan itu.
"Masih bisa becanda juga lo? Gue kira gak bisa," serunya tak jelas.
"Lho kamu masih di sini Siska?" seloroh Elang yang baru saja datang. Beliau berniat untuk mengunjungi ruangan Putranya.
Siska hanya mengangguk sopan mengiyakan.
"Ada apa, Pah?" tanyanya penasaran dengan keberadaan Siska.
"Beneran Sha?" tanyanya menatap lekat Siska. Menuntut jawaban lebih.
"Udah gue bilang jangan panggil gue Sha. Ngerti gak sih lo?" kesal Siska kelepasan, padahal ada Elang di sini.
"Kalau gue gak mau gimana?"
Gue piting juga tuh orang, kerjaannya buat gue kesel mulu.
"Serah," akhirnya kata itu yang meluncur bebas dari mulutnya.
Elang tersenyum misterius kepada Siska dan Irfan bergantian. Entah apa yang membuat senyumnya terbit.
"Maksud Edgar itu, Sha... Shayanggg Siska," ucap Elang lalu pergi berlari entah kemana.
Edgar, begitulah orang-orang memanggil Irfan. Tapi tidak dengan Siska karena dia merasa nama Edgar terlalu bagus untuk disandang oleh sesosok makhluk astral menyebalkan.
"Sha...Shayang?" pekik Siska beberapa saat setelah kepergian Elang.
Irfan menggaruk belakang kepalanya, "Jangan didengerin, Papah gue emang gitu orangnya. Becandanya kelewatan," jawab Irfan kikuk.
"Anak laknat lo! Ngataian orang tua sendiri gak ada sopan-sopannya." ucap Siska.
"Eng...enggak...bukan gitu maksud gue," selanya yang seperti kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Siska langsung meninggalkan Irfan yang tengah dilanda kebingungan.
♡♡♡
Siska pulang ke rumah dengan perasaan dongkol tak keruan. Kesal dengan pasangan Anak dan Ayah yang sudah membuatnya naik darah.
"Kiri, Pak," ucapnya menghentikan sang sopir agar berhenti di halte dekat rumah kontrakannya. Setelah memberikan uang sebagai bayaran dia langsung turun dan berjalan menuju rumah kontrakan.
"Assalamualaikum," salamnya sambil mengetuk pintu beberapa kali. Siska mengucapkan salam bukan karena dia sok religius, tapi itu karena dia tidak mau mendengarkan ceramahan panjang kali lebar kali tinggi Ibu dan Adiknya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Shakira yang kebetulan membukakan Siska pintu.
"Gimana kak? Dapet gak kerjaannya?" todong Shakira saat Siska sudah duduk lesehan di lantai.
Di kontrakan ini memang tidak disediakan sofa ataupun kursi di dalam rumah, hanya ada dua bangku kayu yang mejeng di teras rumah saja.
"Ambilin dulu minum gih, Teteh haus," Siska tak menjawab malah menyuruh Shakira seenak jidatnya.
"Ditanya teh ngajawab lain ngadon nitah," gerutu Shakira, tapi dia menuruti titah sang Kakak.
"Kalau ditanya itu dijawab bukan malah nyuruh."
"Gimana?" kini Ibunya yang mengajukan pertanyaan serupa dengan Shakira.
"Diterima Bu," singkat Siska.
"Alhamdulillah," Ratih mengucap syukur dan hamdalah. Terlihat jelas ada raut kebahagiaan di wajahnya, dan itu membuat Siska menyunggingkan kedua sudut bibirnya.
"Iya, Bu Alhamdulillah," timpal Siska.
"Kita harus selalu bersyukur, apapun itu, sekecil apapun itu. Karena itu adalah nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sudah cukup dulu kita hidup dalam ke-kufuran dan jangan sampai itu terulang lagi," ucap Ibunya seraya mengelus sayang pucuk kepala Putrinya beberapa kali.
Ibunya sudah berubah. Sekarang Siska bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tangan Ibunya. Karena dulu dia dan Ibunya jarang sekali bertukar cerita seperti sekarang. Ratih yang selalu sibuk dengan teman-teman sosialitanya dan Siska yang sibuk dengan dunianya sendiri membuat hubungan diantara keduanya merenggang. Dan hanya Rama lah yang selalu meluangkan waktunya untuk Siska, maka dari itu Siska sangat merasa kehilangan atas kepergian Ayahnya.
"Ini Teh," Shakira menyodorkan segelas air putih yang tadi dia ambil di dapur.
"Hatur nuhun" ucap Siska menirukan cara berbicara Adiknya. Dia mengambil alih gelas itu.
"Terima kasih."
"Your welcome," balas Shakira cekikikan.
"Dasar teu nyambung," sela Siska.
"Dasar gak nyambung."
"Sambungkeun we atuh Teh meh nyambung," canda Shakira.
"Sambungin aja Kak biar nyambung."
Ratih hanya geleng-geleng mendengar ocehan tak jelas kedua Putrinya. Meskipun Siska sudah lama tinggal di kota tapi dia masih bisa berbicara dengan menggunakan bahasa daerahnya. Walaupun gaya bicaranya sudah kekota-kotaan, tapi jika berbincang-bincang dengan keluarganya dia tidak akan segan menggunakan bahasa tanah kelahirannya. Begitulah Siska jika sudah bersama dengan orang-orang yang disayangnya. Lain cerita jika dia sudah berada di luar rumah. Semua berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1