
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Naluri seorang perempuan itu sangat kuat. Walau tanpa adanya ikatan batin yang mengikat."
♡♡♡
Siska mengayunkan kakinya menuju parkiran di mana motornya berada. Kaki jenjang itu melangkah ringan tanpa beban. Melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sampai suara decitan ban dan aspal itu terdengar. Dia hampir saja menabrak seorang anak kecil yang tengah menyebrang.
"Kamu gak papa?" tanya Siska setelah dia turun dari motor dan membantu anak itu untuk berdiri.
Gadis kecil yang usianya berkisar lima tahun itu menggelengkan kepalanya lemah. Tangan mungilnya memegang lutut yang tergores oleh aspal, darah segar mulai menutupi lukanya.
Siska membawa anak perempuan itu untuk menepi dan mengobati lukanya. "Tunggu sebentar di sini. Kakak akan beli obat luka dan perban dulu," ucap Siska.
Gadis kecil itu hanya mengangguk paham. Siska segera bergegas mencari apotek atau warung terdekat yang sekiranya menjual benda yang dia butuhkan. Langkahnya terhenti saat dia menemukan sebuah warung yang cukup besar di seberang jalan. Dengan segera dia membeli plester, perban, dan obat luka, lalu kembali menemui anak yang hampir saja ditabraknya.
"Tahan yah," ucap Siska seraya mengangkat kaki sang anak agar berada di atas pangkuannya.
Dengan telaten dia mengobati luka di lutut gadis kecil itu. Ringisan keluar begitu saja dari mulut mungilnya.
"Maafin Kakak yah," tutur Siska saat dia sudah selesai mengobati lukanya.
Wajah gadis mungil itu mengingatkan Siska pada Gladys, gadis mungil yang dia temui di gerbong kereta api dua minggu yang lalu. Kedua sudut bibirnya terangkat kala dia mengingat betapa lucu dan menggemaskannya Gladys.
"Iya gak papa, Kak. Aku juga yang nyebrangnya gak hati-hati," sahutnya dengan senyuman tipis.
Siska membelai pucuk kepala gadis itu. "Mau Kakak antar pulang?" tanyanya.
Gadis kecil yang belum diketahui namanya itu langsung menggeleng dan memberikan senyuman getirnya. "Aku gak mau pulang!"
Siska tertegun mendengar ucapan anak itu. "Loh kenapa?"
"Ayah sama Bunda udah gak sayang lagi sama aku. Mereka lebih sayang sama adik aku," adunya dengan wajah yang begitu sendu.
"Gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya. Kakak yakin kalau Ayah sama Bunda kamu pasti sangat menyanyi kamu," ucapnya dengan elusan lembut di pucuk kepala sang Anak.
"Bohong!" elak anak itu dengan suara keras yang tak mau terbantahkan.
"Dulu Kakak juga sama kaya kamu, menolak kehadiran seorang adik. Tapi seiring dengan berjalannya waktu Kakak bisa menerima kenyataan itu. Dan sekarang Kakak merasa hidup Kakak lengkap karena kehadirannya," ucap Siska tersenyum samar. Dia teringat dengan wajah sang Adik yang selalu tertawa riang.
"Kakak punya adik?" tanyanya menatap manik mata Siska.
Siska menganggukkan kepalanya mantap. "Iya, namanya Shakira," jawab Siska begitu bangga saat menyebutkan nama sang Adik.
"Nama Kakak siapa?" tanyanya.
"Kak Siska," sahut Siska.
"Nama kamu siapa?" kini giliran Siska yang melontarkan pertanyaan yang sama pada anak itu.
"Gadis Kak," jawabnya antusias.
"Wah, cantik yah namanya sama kaya orangnya," puji Siska seraya menjawil hidung mancung anak bernama Gadis itu.
__ADS_1
"Udah sore, ayo Kakak anter kamu pulang," ajak Siska lagi saat melirik arlojinya.
Gadis kembali menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau pulang dan bertemu dengan orang tua serta adiknya.
Siska mengembuskan napasnya kasar. Menghadapi anak-anak memang sangat sulit dan harus memiliki ekstra kesabaran.
"Terus kamu mau ke mana?" tanya Siska.
Lagi-lagi Gadis menggelengkan kepalanya. Dia bingung dan tidak tahu harus pergi ke mana. "Aku mau ikut Kakak, boleh?"
"Gadis! Di mana kamu, Nak!" teriak seorang wanita setengah baya dengan suara yang begitu cemas dan khawatir.
Siska celangak-celinguk mencari sumber suara yang meneriaki nama Gadis, anak kecil yang baru dikenalnya.
"Ayo Kak buruan! Itu suara Bunda. Aku gak mau pulang," ucap Gadis menarik-narik lengan kemeja yang Siska kenakan.
"Ayo," sahut Siska. Dia membawa Gadis ke dalam gendongannya untuk menemui wanita setengah baya yang Siska yakini adalah Ibu dari Gadis.
"Gak mau! Kakak jahat!" rontanya di dalam gendongan Siska. Gadis menangis histeris minta untuk diturunkan.
"Udah yah jangan nangis," ucap Siska menenangkan. Namun, tak membuahkan hasil sama sekali.
"Gadis, sayang kamu sama siapa?" tanya wanita setengah baya itu, saat dia mendapati Gadis di dalam gendongan Siska dalam keadaan menangis kejer.
"Kamu!" pekik wanita itu shock.
"Ibu, kan Ibunya Gladys," sahut Siska.
"Iya," ucapnya.
Siska mengangguk. "Kakak gak sengaja ketemu di kereta dua minggu yang lalu."
"Gadis anak, Mbak?" tanya Siska.
"Iya, Gadis itu Kakaknya Gladys."
Siska hanya ber'oh' ria. "Dunia emang sempit yah Mbak," ucap Siska begitu senang bisa bertemu kembali dengan wanita beranak dua itu.
Wanita bernama Gita itu mengangguk setuju. "Kamu tinggal di daerah sini juga?"
"Enggak, Mbak cuman kebetulan lewat aja," jawab Siska.
"Ayo turun, Sayang kita pulang," ucap Gita pada Putrinya.
"Enggak mau!" Gadis masih bersikukuh mempertahankan egonya.
"Yaudah, gimana kalau pulangnya Kakak anter?" tawar Siska membujuk Gadis.
"Enggak mau. Gadis mau pulang ke rumah Kak Siska!"
Gita mengembuskan napasnya. Mengapa kedua anaknya begitu lengket dengan Siska?
Siska tak kehabisan akal untuk kembali membujuk Gadis. Dari mulai bujukan akan dibelikan mainan baru, diajak jalan-jalan, dan lain sebagainya. Namun, semuanya ditolak mentah-mentah oleh Gadis.
__ADS_1
"Gadis mau pulang kalau Kak Siska mau jadi Kakak Gadis," ucap Gadis.
Siska dan Gita mengembuskan napas lega. "Oke!" ucapnya menyanggupi.
"Tapi Kakak janji dulu," ucap Gadis menunjukkan jari kelingkingnya.
"Apa?" tanya Siska. Menyambut jari kelingkingan Gadis yang sangat kecil bila dibandingkan dengan jarinya.
"Kakak harus tiap hari ke rumah aku. Janji?!" jawabnya dengan senyum mengembang.
"Janji!" ucap Siska mencium gemas pucuk kepala Gadis.
"Ayo, Kak, Bun pulang," ajaknya riang dan turun dari pangkuan Siska.
Baik Gita maupun Siska masih terpaku dan terdiam di tempatnya. Mereka masih bingung melihat tingkah polah Gadis.
"Ayo!" teriak Gadis yang sudah duduk manis di atas motor Siska.
Kedua perempuan yang hanya terpaut usia beberapa tahun itu segera bergegas menghampiri Gadis.
♡♡♡
"Kak Siska!" pekikan nyaring itu berasal dari Gladys yang kini sudah berada dalam dekapan hangat Siska.
"Halo, Cantik apa kabar?" tanyanya begitu hangat dia sangat merindukan Gladys.
"Alhamdulillah baik, Kak," sahutnya dengan senyuman khas yang begitu manis.
"Lepas!" suara dingin Gadis membuat pelukan Gladys dan Siska terlepas.
"Kak Siska itu Kakak aku! Kamu gak boleh deket-deket!" tegasnya memeluk erat tubuh Siska yang tengah berjongkok.
Gadis tidak suka melihat Gladys yang selalu berhasil menyita perhatian orang-orang di sekelingnya. Dan sekarang dia tidak mau berbagi kasih sayang lagi dengan sang Adik.
"Gadis gak boleh bicara dengan suara keras dan kasar seperti itu," tutur Siska membelai lembut rambut panjang Gadis.
"Kakak adik itu harus akur dan rukun. Gadis sama Gladys itu adik Kakak. Jadi, kalian berdua tidak boleh bertengkar lagi yah," terang Siska merengkuh kedua tubuh mungil di hadapannya.
Siska begitu menyayangi kedua gadis kecil itu. Hatinya merasa senang jika berdekatan dengan Gadis dan Gladys.
"Ayo baikan dulu," ujar Siska setelah pelukan mereka terlepas.
Kedua anak kecil yang hanya terpaut satu tahun itu saling berpelukan dan melontarkan kata maaf satu sama lain. Dunia anak-anak itu memang sederhana. Mudah marah namun juga mudah dalam memaafkan. Tidak seperti orang dewasa yang memilki ego dan gengsi yang melambung tinggi.
"Makasih," ucap Gita menepuk pelan bahu Siska.
Siska mengangguk. "Iya sama-sama, Mbak."
"Udah masuk ashar. Ayo ambil wudhu terus kita salat jamaah," seru Gita pada kedua Putrinya.
Gadis dan Gladys mengangguk lantas berlari menuju tempat wudhu yang berada di samping rumah yang berdampingan langsung dengan musala yang memang sengaja dibangun.
"Ayo, Siska kita salat bareng di sini," ajak Gita menggandeng lengan Siska.
__ADS_1
Siska hanya mampu mengangguk dan mengikuti langkah sang tuan rumah.